HomeBeritaMahasiswa Bandung Serap Ibroh...

Mahasiswa Bandung Serap Ibroh dari Kisah Penyintas

“Saya tidak ada rasa marah terhadap pelaku pengeboman. Saya hanya memikirkan bagaimana dengan keterbatasan saya sekarang, saya bisa terus berjuang menjadi tulang punggung keluarga dan melanjutkan studi saya untuk membanggakan orang tua.”

Susi Afitriyani

Begitulah semangat ketangguhan Susi Afitriyani yang dibagikan kepada 25 mahasiswa peserta Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bandung pada 6-7 April 2019. Pipit, sapaan akrab Susi Afitriyani, ialah seorang penyintas aksi terorisme di Kampung Melayu, Jakarta Timur yang terjadi pada 24 Mei 2017 malam.

Pipit mengisahkan, ketika peristiwa terjadi dirinya baru pulang dari kuliah. Ia mengambil kelas karyawan lantaran paginya harus bekerja untuk mencari nafkah. Ia sedang berdiri di tepi jalan di sekitaran Terminal Kampung Melayu, menunggu angkutan umum sembari menelepon orang tuanya yang ada di kampung halamannya, Brebes, Jawa Tengah. Sontak Pipit terkaget karena ledakan keras terjadi di dekatnya. Ia sempat mengira pesawat teleponnya yang meledak, sebelum akhirnya sadar ada orang yang melancarkan serangan bom bunuh diri.

Mahasiswa semester IV Universitas Az-Zahra Jakarta itu sempat merasa sangat terpukul atas musibah yang dialaminya. Ledakan bom menyebabkan luka koyak di lengan hingga bahu bagian belakangnya. Tulang lengan kanannya tak lagi berfungsi normal, meskipun telah dipasang sebuah pen. Ia menitikkan air mata saat mengingat perjuangannya menahan rasa sakit yang luar biasa akibat bom. “Selama di Jakarta saya bekerja sambil kuliah. Saya sengaja tidak ngasih tahu orang tua. Saya inginnya besok kalau sudah mau wisuda baru saya kasih tahu umi saya. Tapi, karena kejadian ini saya merasa sedih karena belum bisa membahagiakan orang tua,” ujarnya.

Segala kepahitan yang Pipit alami tidak lantas membuatnya putus asa untuk mewujudkan cita-cita. Setelah mengambil cuti kuliah selama 2 semester untuk proses pemulihan, kini ia kembali menjalani hari-harinya dengan semangat. Alih-alih menaruh dendam kepada pelaku pengeboman, Pipit memilih memaafkan dan fokus menggapai mimpinya.

Kisah Pipit bukanlah kisah yang biasa. Ketangguhan dan kesabaran Pipit dalam menjalani ketentuan hidup mampu menginspirasi para mahasiswa peserta pelatihan. Salah satu peserta mengungkapkan dirinya merasa mendapatkan ‘ibroh dari kisah Pipit. “Saya merasa tersentak mendengar cerita perjuangan Mbak Pipit. Dengan usia yang masih muda, Mbak Pipit bisa kuliah dengan biaya sendiri. Saya salut dengan Mbak Pipit yang bahkan dalam keterbatasannya ia justru selalu berpikir untuk terus membanggakan orang tuanya. Saya merasa selama ini saya menjadi orang yang tidak bisa bersyukur. Mulai detik ini, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk lebih serius kuliah,” kata mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Persis.

Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa diselenggarkan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dalam rangka mendorong gerakan mahasiswa yang mendukung kelestarian perdamaian di Indonesia. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Seminar Nasional “Halaqah Perdamaian: Belajar dari Rekonsiliasi Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada pertengahan Maret 2019. Sebanyak 25 mahasiswa alumni Seminar Halaqah Perdamaian diundang untuk mengikuti Pelatihan Pembangunan Perdamaian. Mereka berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Pasundan, Universitas Muhammadiyah Bandung, Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Universitas Komputer Indonesia, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Persis Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Maarif Ciamis, dan Institut Agama Islam Darussalam Ciamis.

Respons positif terhadap pelaksanaan pelatihan mengalir dari para peserta. Salah satunya dari mahasiswa STAI Al-Maarif Ciamis. Ia mengaku sangat terinspirasi sehingga tergerak untuk bisa ikut menebarkan perdamaian di lingkungan kampusnya. Ia berkomitmen untuk mengajak rekan-rekannya sesama mahasiswa membuat barisan perdamaian.

“Saya sangat bersyukur dan ingin menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih saya kepada AIDA yang telah memberikan saya kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan ini. Dari berbagai kisah korban serta mantan pelaku dan materi-materi yang disampaikan dalam pelatihan ini, saya merasa tergerak untuk ikut menyemai perdamaian. Semangat AIDA mampu menggerakan jiwa saya untuk berbuat sesuatu,” ungkapnya. [LAW]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...