3 weeks ago

Karena Mantan Ekstremis Bukan Joker

Membincangkan terorisme, umumnya terdengar mengerikan. Apalagi menghadirkan mantan pelaku ekstremisme kekerasan dalam berbagai forum kegiatan umum, tentu saja memunculkan kesan ‘sangar’. Namun keterlibatan mantan ekstremis merupakan salah satu alternatif untuk mengkampanyekan perdamaian. Alternatif seperti itulah yang dilakukan AIDA.

Bukan demi menumbuhkan kesan sangar, namun dari kesadaran bahwa mantan ekstremis merupakan gambaran utuh dari pelaku terorisme. AIDA ingin menyampaikan perspektif perdamaian melalui pesan mendalam dari kisah mantan ekstremis dan korban aksi terorisme. Pesan kunci yang sering ditemukan dari kisah mantan ekstremis adalah jangan membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan yang lain.

Baca juga Reintegrasi Sosial Mantan Ekstremis

Pesan tersebut mengisyaratkan kepada kita untuk menerapkan semangat keadilan untuk mewujudkan perdamaian. Mengutip Abdurrahman Wahid (Gus Dur), perdamaian tanpa adanya keadilan merupakan ilusi.

Selalu Ada Motif dari Perbuatan

Penelitian yang dipublikasikan Richard Keen, Monica L. McCoy, dan Elizabeth Powell (2012) berjudul “Rooting for the Bad Guy: Psychological Perspectives” menjelaskan bahwa konstruksi orang yang tampak jahat (bad guy) sangatlah kompleks dan multidimensi. Karena mereka memiliki motif di balik perilakunya. Namun kebanyakan dari kita hanya menilai dari perilaku yang melanggar norma sosial dan hukum belaka.

Baca juga Menyelesaikan Masalah: Belajar dari Mantan Pelaku Ekstremisme

Saya teringat film ’Joker’ yang membuat kita terbiasa mendengar kalimat “orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti”. Mungkin ada benarnya. Pasalnya penelitian Richard dkk tersebut menjelaskan motif perilaku ‘bad guy’ semacam Joker, yaitu bentuk usaha mengubah tatanan sosial karena dunia tidak adil memerlakukannya.

Joker mungkin saja tidak akan menjadi ‘bad guy’ bila orang terdekat maupun masyarakat sekitarnya menyadari bahwa ada ketidakadilan yang dialami Joker dalam kehidupannya. Sehingga ia memutuskan untuk melakukan aksi teror di kota Godam. Namun Joker tetaplah Joker. Ia adalah sosok fiktif. Sedangkan para mantan ekstremis hidup di dunia nyata.

Baca juga Mencari Titik-Titik Persamaan

Para mantan ekstremis bisa jadi pernah merasakan bahwa dunia tidak adil pada saudara seagamanya maupun anggota kelompoknya, hingga pernah berniat –atau bahkan telah beraksi– membalaskan ketidakadilan itu dengan menyebarkan teror kepada masyarakat. Hal ini tentu menjadi lingkaran setan yang tidak akan berhenti. Perlu usaha keras memutus rasa balas dendam dan tersakiti.

Alih-alih meneruskan, mantan ekstremis yang membuka diri ke pintu perubahan telah memahami bahwa aksi terorisme tidak akan mampu mengubah keadaan, malah akan memperluas keburukan. Tidak hanya melukai diri, bahkan aksi terorisme menjadikan orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban.

Baca juga Agama sebagai Pelopor Perdamaian

Perubahan sudut pandang mantan ekstremis seperti itulah yang bisa kita jadikan inspirasi perdamaian, agar tidak melakukan kekerasan sebagai solusi jika merasa disakiti. Kita pun bisa membalas ketidakadilan bukanlah dengan cara kekerasan, melainkan membalas ketidakadilan dengan menjaga orang lain tidak mengalami ketidakadilan serupa.

Sebaliknya masyarakat pun harus memberikan rasa keadilannya kepada mantan ekstremis dengan mendukung pertobatan. Uniknya, hal tersebut seringkali saya lihat dari kebesaran hati para korban terorisme. Mereka menerima dan bahkan bersedia bersama mantan ekstremis mengampanyekan perdamaian di Indonesia. Salut.

Baca juga Perdamaian sebagai Fitrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *