HomeInspirasiAspirasi DamaiKarena Mantan Ekstremis Bukan...

Karena Mantan Ekstremis Bukan Joker

Membincangkan terorisme, umumnya terdengar mengerikan. Apalagi menghadirkan mantan pelaku ekstremisme kekerasan dalam berbagai forum kegiatan umum, tentu saja memunculkan kesan ‘sangar’. Namun keterlibatan mantan ekstremis merupakan salah satu alternatif untuk mengkampanyekan perdamaian. Alternatif seperti itulah yang dilakukan AIDA.

Bukan demi menumbuhkan kesan sangar, namun dari kesadaran bahwa mantan ekstremis merupakan gambaran utuh dari pelaku terorisme. AIDA ingin menyampaikan perspektif perdamaian melalui pesan mendalam dari kisah mantan ekstremis dan korban aksi terorisme. Pesan kunci yang sering ditemukan dari kisah mantan ekstremis adalah jangan membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan yang lain.

Baca juga Reintegrasi Sosial Mantan Ekstremis

Pesan tersebut mengisyaratkan kepada kita untuk menerapkan semangat keadilan untuk mewujudkan perdamaian. Mengutip Abdurrahman Wahid (Gus Dur), perdamaian tanpa adanya keadilan merupakan ilusi.

Selalu Ada Motif dari Perbuatan

Penelitian yang dipublikasikan Richard Keen, Monica L. McCoy, dan Elizabeth Powell (2012) berjudul “Rooting for the Bad Guy: Psychological Perspectives” menjelaskan bahwa konstruksi orang yang tampak jahat (bad guy) sangatlah kompleks dan multidimensi. Karena mereka memiliki motif di balik perilakunya. Namun kebanyakan dari kita hanya menilai dari perilaku yang melanggar norma sosial dan hukum belaka.

Baca juga Menyelesaikan Masalah: Belajar dari Mantan Pelaku Ekstremisme

Saya teringat film ’Joker’ yang membuat kita terbiasa mendengar kalimat “orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti”. Mungkin ada benarnya. Pasalnya penelitian Richard dkk tersebut menjelaskan motif perilaku ‘bad guy’ semacam Joker, yaitu bentuk usaha mengubah tatanan sosial karena dunia tidak adil memerlakukannya.

Joker mungkin saja tidak akan menjadi ‘bad guy’ bila orang terdekat maupun masyarakat sekitarnya menyadari bahwa ada ketidakadilan yang dialami Joker dalam kehidupannya. Sehingga ia memutuskan untuk melakukan aksi teror di kota Godam. Namun Joker tetaplah Joker. Ia adalah sosok fiktif. Sedangkan para mantan ekstremis hidup di dunia nyata.

Baca juga Mencari Titik-Titik Persamaan

Para mantan ekstremis bisa jadi pernah merasakan bahwa dunia tidak adil pada saudara seagamanya maupun anggota kelompoknya, hingga pernah berniat –atau bahkan telah beraksi– membalaskan ketidakadilan itu dengan menyebarkan teror kepada masyarakat. Hal ini tentu menjadi lingkaran setan yang tidak akan berhenti. Perlu usaha keras memutus rasa balas dendam dan tersakiti.

Alih-alih meneruskan, mantan ekstremis yang membuka diri ke pintu perubahan telah memahami bahwa aksi terorisme tidak akan mampu mengubah keadaan, malah akan memperluas keburukan. Tidak hanya melukai diri, bahkan aksi terorisme menjadikan orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban.

Baca juga Agama sebagai Pelopor Perdamaian

Perubahan sudut pandang mantan ekstremis seperti itulah yang bisa kita jadikan inspirasi perdamaian, agar tidak melakukan kekerasan sebagai solusi jika merasa disakiti. Kita pun bisa membalas ketidakadilan bukanlah dengan cara kekerasan, melainkan membalas ketidakadilan dengan menjaga orang lain tidak mengalami ketidakadilan serupa.

Sebaliknya masyarakat pun harus memberikan rasa keadilannya kepada mantan ekstremis dengan mendukung pertobatan. Uniknya, hal tersebut seringkali saya lihat dari kebesaran hati para korban terorisme. Mereka menerima dan bahkan bersedia bersama mantan ekstremis mengampanyekan perdamaian di Indonesia. Salut.

Baca juga Perdamaian sebagai Fitrah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...