HomeOpiniTentang Literasi

Tentang Literasi

Oleh Ratih D Adiputri,
Peneliti dan Dosen di Universitas Jyväskylä, Finlandia

Berapa waktu lalu saya bertemu teman baru, seorang penerjemah bahasa dari Rusia yang pernah belajar bahasa Indonesia, di klub diskusi buku di kota Jyväskylä, Finlandia. Kami memiliki kegemaran yang sama dalam membaca buku. Darinya saya belajar soal dunia alih bahasa.

Namun, yang saya kagumi, ia menyukai membaca buku sejarah Indonesia. Novel Indonesia yang ia suka adalah Harimau, harimau karya Mochtar Lubis dan Ziarah karya Iwan Simatupang. Menurut dia, banyak karya Indonesia tahun 1950-1970 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan dibaca masyarakat di sana. Novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan juga populer di Rusia. Saat ini ia sedang membaca karya Taufik Abdullah mengenai sejarah Islam di Indonesia.

Baca juga Menggunakan Teknologi AI bagi Kemanusiaan

Saya jadi bertanya-tanya kalau orang asing saja amat menyukai karya penulis Indonesia, bagaimana dengan masyarakat Indonesia? Apakah kita membaca karya-karya penulis Indonesia? Apakah para guru dan siswa-siswa di sekolah mengenal dan membaca novel-novel Indonesia ini?

Pemahaman yang salah

Kata-kata literasi, apalagi literasi digital, akhir-akhir ini banyak digaungkan. Namun, pengertian literasi ini ternyata tidak sama, bahkan salah. Suatu organisasi masyarakat yang bergerak dalam bidang literasi, yang saya pelajari baru-baru ini, bahkan beranggapan bahwa upaya untuk mengatasi masalah literasi pada siswa di sekolah adalah dengan membuat karya tulis siswa dan dibukukan!

Ini pemahaman yang salah dan memprihatinkan. Tidak semua dari kita harus menghasilkan karya tulis. Namun, keterampilan memahami bacaan atau teks dan mampu menggunakannya lagi amatlah diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila banyak orang di Indonesia tidak terbiasakan membaca buku, apalagi buku-buku berkualitas tingkat dunia, dan pemahaman membaca amat rendah, lantas siapa yang mau membaca karya-karya tulis para siswa tadi? Dan apakah tulisan yang tidak disaring oleh proses penulisan yang baik itu layak dibaca? Apabila dengan perlombaan, apakah ”juri” yang memilih karya tersebut juga kredibel?

Baca juga Integritas Santri dan Mandat Keadaban Publik

Belum lagi berkembang cerita lain. Kabarnya jumlah buku terbit di Indonesia, dilihat dari jumlah permintaan International Standard Book Number (ISBN)—di Indonesia dikelola Perpustakaan Nasional—cukup besar, bahkan di luar kewajaran karena melonjaknya buku ber-ISBN yang terbit ternyata tidak diikuti oleh naiknya minat baca masyarakat dan indeks literasi Indonesia, yang masih saja rendah (CXO Media, 2022).

Jadi, penerbitan buku yang banyak dengan pemberian ISBN berada di luar kontrol karena penerbitan buku tersebut tidak tepat sasaran, banyak orang yang merasa mampu menerbitkan karya sendiri (tanpa proses review dan editing yang jelas). Maka, jumlah ISBN yang keluar ternyata tidak menaikkan minat baca masyarakat.

Kemendikbud dalam Laporan Indeks Aktivitas Membaca di Indonesia (2019) menyatakan bahwa ”mengingat luasnya makna ’literasi’ yang berkembang di masyarakat, kajian ini hanya membatasi pada literasi membaca”. Padahal, justru kegiatan sederhana dengan membiasakan membaca inilah, maka literasi masyarakat dan siswa sekolah akan meningkat.

Baca juga Perundungan, Otak, dan Karakter Pelajar

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa masalah akses selalu menjadi kendala. Juga kualitas teks, maka proses penerjemahan buku-buku bermutu internasional ke dalam bahasa Indonesia (bahkan bahasa daerah) perlu digalakkan kembali, bahkan juga mencetak ulang karya-karya penulis Indonesia klasik, dari tahun 1950-an, untuk menjadi bacaan-bacaan sastra dan literatur di sekolah, dan tersedia di seluruh perpustakaan di seluruh negeri. Dengan begini, literasi masyarakat Indonesia akan meningkat sekaligus melestarikan penggunaan bahasa nasional yang baik dan benar.

Definisi literasi

Literasi adalah kemampuan untuk membaca, menulis, berbicara, dan mendengar yang merupakan cara untuk berkomunikasi secara efektif dan memahami dunia di sekitarnya. Ini adalah kemampuan untuk mengindentifikasi, memahami, menginterpretasikan, menciptakan, berkomunikasi, dan memproses berbagai macam materi cetak atau tulisan. Materi biasanya berbentuk bacaan-bacaan panjang (buku) dan karya-karya ilmiah yang memerlukan waktu untuk membaca dan memahaminya, dan kemudian digunakan dalam lingkungan pekerjaan atau memahami dunia.

Ini adalah definisi dasar literasi. Karena itu, apabila literasi ditambahkan dengan kata lain, seperti ”literasi digital” dan ”literasi budaya”, intinya sama saja memahami sesuatu secara menyeluruh dan dapat menggunakan kembali informasi tersebut dengan mudah.

Baca juga Membumikan Kebudayaan Inklusif

Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih hanya tidak buta aksara, tetapi secara budaya belum mampu menggunakannya dengan menyelesaikan tugas dengan baik dan menggunakan bacaan sebagai kebiasaan untuk menambah pengetahuan. Banyak masyarakat Indonesia tidak paham isi suatu teks surat kabar, misalnya. Maka, memahami isi buku-buku bacaan karya mendunia akan kesulitan karena selain aksesnya yang tidak ada, buku tidak tersedia dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, fasilitas perpustakaan yang buruk, dan penggunaan teks-teks pendek dalam media sosial yang masif.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah melaporkan pada 2017 bahwa data UNESCO menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia yang kecil, hanya 0,001 persen (yang berarti dari 1.000 orang hanya 1 yang membaca buku), tetapi menghabiskan waktu di media sosial setidaknya sembilan jam per hari! Memprihatinkan.

Jadi, literasi itu dasarnya mengalokasikan waktu untuk membaca dan memahami isi bacaan, idealnya teks panjang, buku fiksi atau karya ilmiah lainnya. Bahkan nanti mampu menceritakan isinya dengan pemahaman tersendiri. Inilah literasi yang sesungguhnya.

Baca juga Memastikan Dukungan Terbaik di Ruang Pendidikan

Jadi, apabila siswa-siswa Indonesia tidak tahu isi cerita fiksi Harry Potter atau karya-karya pemegang nobel sastra, hal ini tidak dapat disalahkan karena di sekolah tidak ada upaya untuk memasukkan kegiatan membaca di kelas, mendiskusikannya, bahkan bukunya yang tersedia dalam bahasa Indonesia nya pun tidak cukup dikenal. Guru-guru Bahasa Indonesia di sekolah pun belum tentu membaca buku-buku ini.

Betul, sudah ada gerakan literasi, seperti ”kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Namun, mengapa malah tidak memasukkan kegiatan ini ke dalam proses belajar-mengajar di kelas? Mengapa tidak dimasukkan dalam pelajaran dan guru atau sekolah ikut membaca bersama-sama?

Baca juga Generasi Digital Harus Melakukan Detoksifikasi Teknologi

Ini seharusnya sudah dilakukan di sekolah dasar idealnya kelas 1-3 SD. Jadi, semestinya tidak ada lagi cerita anak SMP atau kelas 7-9 masih tidak paham bacaan bahkan tidak mampu meringkas cerita dari sebuah novel pendek. Suatu keluhan yang sering saya dengar dari para guru di Indonesia.

Perlu langkah nyata

Hampir semua survei atau pemetaan aktvitas membaca di Indonesia yang dilakukan tidak jauh berbeda, misalnya mengukur waktu rata-rata membaca, juga alokasi dana membeli buku dengan responden yang berbeda-beda. Namun, tidak ada sesuatu yang baru dan hasil survei tersebut juga tidak mengubah kebijakan secara masif.

Sudah saatnya ada gerakan besar, perlu langkah nyata, untuk mengubah pola pikir literasi dan membiasakan siswa-siswa sekolah dan masyarakat untuk membaca, dengan cara akses yang besar, dan memasukkan kegiatan membaca ini ke dalam proses belajar-mengajar di kelas.

Baca juga Melampaui Bayang-bayang Pendidikan

Di Finlandia, anak-anak dibiasakan membaca buku di kelas, sekitar 20 menit sehari, baik dibacakan oleh guru maupun membaca sendiri, meminjam buku perpustakaan dan membaca. Biasanya dalam pelajaran bahasa lokal dan pemahaman bacaan, dan ini dilakukan setiap hari di kelas, terutama di kelas 1-3 SD. Hal ini memupuk kebiasaan membaca.

Di perpustakaan daerah pun mendorong hal yang sama, akses buku dipermudah, dan diperbanyak jumlahnya bahkan bekerja sama dengan sekolah untuk mendukung Diploma Membaca (Adiputri, 2019, 2023). Setiap tahun anak-anak yang membaca 6, 12, 24 buku atau lebih akan mendapat penghargaan.

Ada pula petunjuk pemahaman bacaan. Bukan sekadar menghitung berapa jumlah buku yang dibaca, sejak kelas 1, siswa sudah diminta membaca dengan kritis, tahu isi bacaan, dapat menggambar tokoh imajinatif dalam cerita, menulis review pendek atas bacaannya, atau mengekspresikan dalam bentuk lain dari cerita tersebut, misalnya dalam lukisan atau karya drama kelas.

Baca juga Mewaspadai Konten Kotor Content Creator

Saatnya kita untuk membuat program konkret yang dapat dijalankan agar pihak sekolah untuk membaca di kelas, buku-buku tersedia banyak dari Kemendikbudristek, misalnya mengaktifkan kembali Balai Pustaka, mencetak ulang karya-karya penulis Indonesia klasik, termasuk penerjemahan buku-buku internasional bermutu ke dalam bahasa Indonesia.

Kebijakan kurikulum harus mendukung aksi literasi, penerbitan buku-buku karya anak bangsa untuk dibaca terus-menerus dan membuka akses (bekerja sama dengan pos pengiriman) untuk mengirim buku-buku ke daerah-daerah 3 T dan lain-lain. Buku-buku bacaan tersebut hendaknya dimasukkan dalam pelajaran-pelajaran. Di SMA, siswa Finlandia, wajib membaca dan menganalisis setidaknya 3-5 novel panjang.

Baca juga Menanti Pendidikan Ramah Anak

Pemerintah daerah juga harus memperbaiki kualitas perpustakaan dan akses ke taman-taman bacaan, kalau perlu menggerakkan penerjemahan buku ke dalam bahasa daerah lokal. Lembaga swadaya masyarakat juga berkolaborasi bersama untuk menginisiasi penerjemahan-penerjemahan buku bermutu ke dalam bahasa Indonesia bahkan bahasa daerah, juga mendorong kelompok-kelompok diskusi buku di wilayah setempat.

Dengan akses buku yang ada, orangtua dan masyarakat dapat meluangkan waktu membaca bersama anggota keluarga sebagai kegiatan sehari-hari. Toko-toko buku dan taman bacaan akan ramai karena kegiatan membaca merupakan kegiatan menyenangkan. Dengan perencanaan dan aksi nyata yang masif, niscaya kegiatan membaca dan meningkatkan literasi akan tumbuh pesat.

*Artikel ini terbit di Kompas.id, 14 Oktober 2023

Baca juga Agustusan, Ada Pilu dalam Gelak Tawa

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...