Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026).
Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam jaringan ekstremisme sejak usia muda.
Fathudin mengungkapkan bahwa dirinya merupakan bagian dari sejarah panjang rekrutmen terorisme. Ia masuk dalam lingkaran tersebut sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 1992 di Banyumas, Jawa Tengah.
“Saya sejak SMP sudah direktut JI, tahun 1992, sudak ikut halaqah, direkrut dari ustaz-ustaz Ngruki,” ia menuturkan. Fathudin kemudian melanjutkan pendidikan menengah atas di pesantren Darus Syahada Boyolali hingga melakukan baiat (sumpah setia) kepada JI pada masa aliyah (SMA).
Fathudin menegaskan bahwa doktrin kelompok tersebut masuk bukan melalui pelajaran formal atau kurikulum resmi pondok.
“Di pondok itu tidak ada pelajaran JI bu, tidak ada pelajaran bom. Kami hanya semangat, yang ternyata kami dibawa ke ranah ekstrem, tanpa kami sadar. Karena ada dorongan-dorongan selter (sel tertutup) yang kami tidak tahu,” ujar Fathudin menjelaskan awalnya ia bergabung dengan kelompok JI.[LA]
