Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman.
Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di Bandara Sana’a. Rombongan itu dilarang mendarat. Bahkan, bandara diserang oleh pasukan Yaman yang selama ini mendapatkan dukungan dari Arab Saudi.
Sejak insiden 13 Juli itu, hubungan antara Houthi dan Arab Saudi kembali memanas. Houthi sebelumnya terlibat perang terbuka dengan Arab Saudi dan koalisinya pada Maret 2015. Pada tahap tertentu, perang Houthi versus Arab Saudi saat itu lebih besar ketimbang saat ini mengingat Arab Saudi didukung hampir semua negara Arab Teluk, bahkan Mesir. Perang ini akhirnya bisa diakhiri melalui gencatan senjata pada 2022.
Seiring dengan memanasnya hubungan dengan Arab Saudi setelah insiden 13 Juli, Houthi secara eksplisit melarang kapal-kapal Arab Saudi melintas di Selat Bab el-Mandeb yang telah dikuasai Houthi. Sikap Houthi yang mengganggu pelayaran Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb menjadi salah satu faktor pemicu konflik bersenjata kali ini. Selat Bab el-Mandeb adalah jalur laut paling strategis yang bisa digunakan oleh Arab Saudi untuk kepentingan ekspor dan impornya setelah Selat Hormuz ditutup Iran.
Perang Arab Saudi versus Houthi semakin berbahaya. Koalisi Arab Saudi mengumumkan telah menyerang setidaknya 1.789 target di Yaman semenjak dimulainya Operasi Fajar Yaman pada 5 Oktober lalu (Aljazeera.net, 13/10/2026). Sementara itu, Houthi menyatakan semua bandara Arab Saudi tidak aman, kecuali Bandara Madinah dan Mekkah. Bahkan, Houthi menyerang Bandara King Khalid di Riyadh, menyebabkan 12 orang meninggal dan ratusan luka-luka.
Terpisah, tetapi terkait
Perang Arab Saudi versus Houthi sekarang memiliki bentuk dan kompleksitasnya tersendiri. Namun, konflik ini tidak bisa dipisahkan dari perang AS-Israel melawan Iran yang terjadi sejak 28 Februari. Paling tidak bila mengacu pada penyebab meletusnya kembali perang ini, yaitu penyerangan rombongan pelayat Houthi dari Iran.
Dengan kata lain, ada faktor Iran di balik konflik ini, baik Iran sebagai kekuatan militer yang diduga mendukung penuh Houthi—termasuk dukungan persenjataan—maupun Iran sebagai kesatuan strategis dengan proksi di kawasan.
Sejak terjadi perang langsung antara AS-Israel dan Iran, Arab Saudi telah berulang kali menjadi sasaran empuk rudal-rudal Iran. Serangan itu diatasnamakan menyerang kepentingan AS oleh Iran, termasuk menyasar kantor perwakilan AS atau pangkalan militer AS di negara tersebut.
Persoalannya, gedung ataupun fasilitas AS yang ditarget Iran tersebut berada di atas tanah Arab Saudi. Menyerang fasilitas tersebut sama halnya dengan tidak menghormati Arab Saudi. Sejauh ini Arab Saudi memilih diam atas serangan-serangan Iran.
Bahkan, pada tahap tertentu, perang Arab Saudi melawan Houthi saat ini juga tidak bisa dipisahkan dari perang Israel-Hamas yang berawal dari serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Ketika Israel membombardir Gaza setelah serangan Hamas, Houthi kerap menggunakan Selat Bab el-Mandeb untuk menekan Israel. Bahkan, Houthi juga sempat menyerang kapal negara yang dianggap pro-Israel, khususnya AS. Perang terbuka sempat terjadi antara Houthi dengan Israel-AS dan sekutunya sebelum akhirnya AS berdamai dengan Houthi pada awal 2025.
Perang saudara
Hal yang mungkin tidak diperhatikan oleh Arab Saudi adalah konflik ini telah berdampak pada perubahan ”warna perang” yang terjadi antara AS-Israel dan Iran, terutama ketika perang ini belakangan berubah menjadi perang AS melawan Iran, tanpa ”keterlibatan” Israel.
Sebagai catatan, sejak AS mencapai gencatan senjata dengan Iran pada 13 April, serangan ke Israel nyaris tidak terjadi lagi, baik dari Iran, Hizbullah, maupun Houthi. Dalam catatan penulis, serangan besar Iran terakhir ke Israel terjadi pada 8 Juni sebagai respons atas pergerakan Israel di Lebanon selatan yang dianggap mengganggu garis merah Iran. Insiden ini hanya berlangsung beberapa jam sebelum akhirnya berhenti sampai sekarang.
Serangan kecil ke Israel memang masih terjadi, khususnya di wilayah Israel utara. Namun, serangan ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan serangan yang datang dari Houthi, terlebih lagi dari Yaman. Kondisi ini terus berlangsung hingga kini. Walaupun sesekali ada eskalasi serangan antara AS dan Iran, serangan tersebut dilakukan ke pangkalan AS di negara-negara Arab.
Konflik ini terjadi dalam situasi dan kondisi seperti di atas. Berbeda dengan perang AS-Israel dengan Iran yang menghadirkan perlawanan terhadap AS-Israel yang dianggap semena-mena, perang antara Arab Saudi dan Houthi ini justru sangat tampak sebagai perang saudara. Serangan terjadi di antara kota-kota bertetangga di kedua negara. Bahkan, perang ini diberikan corak sektarian karena hadirnya nuansa sekte yang sangat kuat, Sunni versus Syiah.
Bila dibaca dari perspektif perang AS-Israel dengan Iran atau perang Israel-Hamas, perang Arab Saudi melawan Houthi ini sangat menguntungkan AS sekaligus merugikan Iran. Dalam konteks perang Israel-Hamas atau perang AS-Israel melawan Iran, negeri para mullah itu kerap dianggap ”pahlawan” oleh masyarakat Timur Tengah dan dunia Islam secara umum karena mampu melawan Israel, bahkan AS, secara langsung. Namun, dalam perang Arab Saudi melawan Houthi, Iran bersama segenap proksinya—khususnya Houthi—bisa dipahami sebagai pihak yang zalim, bahkan kerap dipersepsikan rela menyerang Mekkah dan Madinah.
Perang ini mungkin bisa mengamankan kepentingan Arab Saudi, tetapi sudah pasti sangat menguntungkan Israel dan AS. Paling tidak karena senjata dari musuh-musuh Israel-AS itu kini sedang dihabiskan dalam aksi saling-serang di antara mereka sendiri. Arab Saudi mungkin diuntungkan dari perang ini. Namun, masyarakat Yaman dan Arab Saudi harus membayar mahal perang ini, bahkan dengan mengorbankan rumah, lingkungan, dan nyawa mereka.
*Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 21 Oktober 2026.
