Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI
Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.
“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah selama tidak memerintahkan kepada kekafiran maka wajib kita taati,” tutur KH Saefudin Zuhri dalam pembukaan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Sabtu (31/01/2026).
Baca Juga : Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri
Pengajian merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Solo Raya yang diselenggarakan sebelumnya. Pengajian dimaksudkan untuk menguatkan kesadaran masyarakat dan aktivis keagamaan akan pentingnya merawat perdamaian dengan menyerap ‘ibroh (pembelajaran) dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme.
Ia menyampaikan terima kasih kepada AIDA yang berusaha mengampanyekan perdamaian dalam rangka menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, apa yang diupayakan AIDA sebenarnya menerjemahkan apa yang diinginkan KH Muslim Rifai Imampuro alias Mbah Liem, pendiri Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten.
“Kita doakan AIDA diberi kekuatan menjalankan aktivitasnya sebagaimana yang dimaui Mbah Liem menjaga perdamaian umat manusia sedunia,” ujar dia.
Baca Juga : Menebar Benih Perdamaian di Jepara
Dia menjelaskan gagasan Mbah Liem meskipun berbeda agama tapi sesama anak bangsa wajib mempertahankan dan memperkuat tegaknya NKRI. “Ngapain jadi bomber padahal kita sebangsa setanah air. NKRI itu sudah jadi warisan nenek moyang kita,” tegasnya.
“Apa yang dilakukan AIDA sebenarnya menerjemahkan apa yang dimaui oleh para sesepuh, para pendiri bangsa atau founding fathers bahwa kita sebangsa, setanah air,” imbuh dia. [AS]






