HomeOpiniIsra Miraj dan Semangat...

Isra Miraj dan Semangat Antidiskriminasi

Oleh Haris Fatwa, Analis Kebijakan di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme

Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 16 Januari 2026

Memasuki awal tahun 2026, Indonesia berada di titik refleksi yang krusial terkait wajah toleransi dan relasi antarumat beragama. Catatan US Commission on International Religious Freedom (USCIRF) tahun 2025 serta laporan tahunan dari SETARA Institute menunjukkan bahwa meskipun konstitusi menjamin kebebasan beragama, praktik di lapangan masih kerap diwarnai ketegangan.

Sepanjang tahun 2025, kita menyaksikan beberapa insiden yang mengusik nurani publik. Pada Juni 2025, kegiatan retret remaja Kristen di Cidahu, Sukabumi, mengalami persekusi dari kelompok warga tertentu.

Sebulan kemudian, pada Juli 2025, aktivitas ibadah GKSI Anugerah Padang di Sumatera Barat menghadapi tekanan serupa. Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan kolektif bangsa dan masyarakat kita adalah kuatnya ”logika” majoritarian.

Logika ini bekerja dengan asumsi bahwa lanskap sosial-politik harus sepenuhnya mencerminkan tata nilai kelompok terbesar. Akibatnya, hak-hak dasar kelompok minoritas sering kali ditimbang dengan asumsi apakah mayoritas ”keberatan” atau tidak, ”terganggu” atau tidak.

Di sinilah hak-hak konstitusional mereka terganggu. Di sinilah refleksi atas peristiwa Isra Miraj menjadi sangat relevan sebagai penawar spiritual terhadap kecenderungan hegemonik tersebut.

Membumikan Isra Miraj

Dalam tradisi Islam, perjalanan agung Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perjalanan vertikal transendental, melainkan juga memiliki dimensi horizontal yang sarat nilai sosial.

Merujuk sebuah riwayat, sebelum Isra Miraj, malaikat Jibril membelah dada Nabi untuk menyucikannya. Sebagian ulama memaknai peristiwa ini sebagai simbolisasi pembersihan hati dari beban ego, termasuk perasaan merasa paling benar.

Bagi umat Rasulullah, ”pembelahan dada” ini mengajarkan bahwa untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, seseorang harus terlebih dahulu membuang mental superioritas absolut yang sering menjadi akar tindakan diskriminatif.

Padahal, jumlah yang besar tidak serta langsung menjamin kebenaran. Al Quran memberikan perspektif yang berbeda mengenai relasi mayoritas-minoritas. Dalam konteks historis Nabi Nuh AS (QS Hud: 40) atau pujian terhadap segelintir hamba yang bersyukur (QS Saba’: 13), Al Quran mengingatkan bahwa kualitas iman dan etika tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah pengikut.

Ayat seperti ”tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” menjadi pengingat bahwa dalam arus besar tidak otomatis berarti berdiri di atas jalan kebenaran moral. Secara hermeneutis, ayat-ayat ini mengajak umat Muslim untuk selalu melakukan otokritik, apakah posisi mayoritas saat ini digunakan untuk menebar rahmat atau justru menjadi instrumen untuk memersekusi?

Isra Miraj merekam jelas dimensi horizontal dalam kunjungan Nabi ke Baitul Maqdis (Jerusalem). Kunjungan ini dapat dipahami sebagai rekognisi penuh atas keberagaman tradisi keagamaan.

Dua tempat ini punya sisi historis yang berbeda. Mekkah adalah pusat dakwah Islam saat itu, sedangkan Jerusalem adalah pusat spiritualitas Yahudi dan Kristen. Nabi mengunjungi kedua tempat dengan rasa penghormatan yang sama.

Ketika Nabi Muhammad dijadikan imam oleh para nabi di Masjidil Aqsa, Nabi ingin menunjukkan bahwa meskipun nabi-nabi terdahulu berangkat dengan misi berbeda, mereka memiliki tujuan utama yang sama, yaitu memberikan rahmat bagi umat manusia.

Peristiwa ini melambangkan kesatuan misi kenabian, yakni membawa kemaslahatan bagi kemanusiaan. Jika Nabi menunjukkan penghormatan setinggi itu terhadap tradisi-tradisi lain, diskriminasi atas nama agama jelas merupakan pengingkaran terhadap semangat tersebut.

Misi pemberadaban manusia

Muhammad Iqbal dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1967) mengatakan, jika yang naik ke langit adalah seorang sufi, ia akan enggan untuk kembali ke bumi lantaran sudah menemukan kenikmatan rohaniah sejati.

Bagi Iqbal, kembalinya Nabi ke bumi adalah untuk menyelesaikan misi pemberadaban umat manusia. Masih banyak ketidakadilan dan kezaliman yang terjadi di bumi.

Beliau membawa pulang perintah shalat, sebuah instrumen yang dirancang sebagai instrumen egalitarian. Jika esensi shalat ini dibawa ke ruang publik, perilaku sewenang-wenang terhadap kelompok rentan seharusnya tidak memiliki tempat dalam kehidupan umat Muslim.

Allah tidak pernah mengutus Rasulullah untuk menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di dunia. Misi dakwah Nabi adalah menyampaikan risalah Islam agar manusia mengenal Allah, beribadah kepada-Nya, dan menjadi rahmat bagi semesta. Bahwa kemudian Islam menjadi luas adalah konsekuensi dari rahmat itu.

Menjadi mayoritas di Indonesia bukanlah mandat untuk memukul, melainkan ajakan untuk merangkul. Kuantitas yang besar hendaknya menjadi modal sosial untuk melindungi yang kecil, menjamin hak beribadah bagi setiap warga negara, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun anak bangsa yang terzalimi di tanah airnya sendiri karena keyakinannya.

Isra Miraj mengingatkan kita: semakin tinggi derajat spiritual seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan adil mereka dalam memperlakukan sesama manusia.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...