HomeSuara Korban22 Tahun yang Penuh...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004.

Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul bantuan pendidikan untuk anak-anak saya. Sejak menjadi orang tua tunggal di tahun 2019, saya tidak pernah membayangkan bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Keinginan itu ada, tentu saja. Namun dengan kondisi saya saat itu, rasanya amat sangat tidak mungkin—jauh panggang dari api, kata orang Minang.

Alhamdulillah, pada tahun 2020, Allah membuka jalan yang tak pernah saya duga. Kehadiran negara melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan memberikan kompensasi kepada para korban terorisme masa lampau, sangat besar manfaatnya bagi kami para penyintas. Tanpa pikir panjang, seluruh dana itu saya niatkan untuk mengkuliahkan anak pertama saya, Acha. Banyak yang menganggap saya nekat, tidak berpikir panjang, bahkan egois—karena masih ada Lala dan Keisha yang juga membutuhkan biaya kala itu. Namun yang ada di kepala saya saat itu hanya satu: selamatkan dulu yang satu ini, dengan harapan kelak ia menjadi anak yang berhasil dan dapat membantu adik-adiknya.

Baca juga: Nanda Olivia, Perempuan Tangguh Korban Terorisme

Di tahun yang sama, pandemi melanda. Tabungan kuliah Acha perlahan terkuras, demi untuk bertahan hidup dan menjaga kewarasan. Lagi-lagi, negara hadir memberi bantuan pendidikan. Lala dan Keisha mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP), sementara Acha memperoleh KJMU untuk melanjutkan kuliahnya. MasyaAllah…

Pada 12 Desember 2025, akhirnya Acha wisuda dengan predikat cumlaude! Tapi sedihnya saya tidak bisa hadir memberikan pelukan hangat dan support terbaik saya. Mungkin karena Allah tahu saya akan senorak apa nantinya. Haha! Rasa bangga, haru, sedih, dan bahagia bercampur menjadi satu—nano-nano rasanya! Semua ini tidak mungkin terwujud tanpa ijin Allah Yang Maha Memampukan, serta dukungan keluarga besar saya terutama mama, papa, suami, kakak dan adik-adik saya, juga para sahabat yang setia menjadi “tong sampah” saya.

Di tahun yang sama, Juni 2025 lalu, anak kedua saya, Lala, diterima di ITB Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian. MasyaAllah…from one tears to another! Puji syukur tidak henti-hentinya saya panjatkan atas semua berkah dan karunia Allah SWT. Lagi-lagi negara hadir memberikan supportnya melalui KIPK. Lala yang diterima melalui jalur mandiri, alhamdulillah mendapat keringanan biaya kuliah melalui KIPK. Meskipun sedih tidak bisa hadir di hari bahagia mereka, tapi saya yakin mereka tahu betapa saya sayang sama mereka dan betapa inginnya saya hadir di samping mereka. Semoga kelak Acha, Lala, dan Keisha tumbuh menjadi perempuan yang bermartabat dan bermanfaat bagi banyak orang. So proud of you, three!

Sungguh 22 tahun yang penuh berkah. Terima kasih, ya Allah…

*Dedicated to my three daughters:
“whatever sacrifice I made, is none of your bussines. Your job is to be happy, be kind and be succesful.”

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...