HomeOpiniLiterasi Relasi Melawan Radikalisasi...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang
Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026

Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu perlahan menjadi tempat bergantung. Bagi remaja yang sedang kesepian atau kehilangan ruang bercerita, perhatian semacam itu terasa seperti pertolongan.

Masalah muncul ketika kepercayaan yang tumbuh digunakan untuk mempersempit cara pandang, memutus relasi dengan orang lain, dan menanamkan kebencian. Ancaman paling sulit dikenali bukan propaganda yang berteriak, melainkan relasi yang perlahan menutup dunia seseorang.

Ancaman itu kembali mendesak setelah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), pada 13 Agustus 2026, menegaskan bahwa fase kedua Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) 2026-2029 menempatkan keluarga, komunitas, pendidikan, dan ruang digital sebagai benteng pencegahan sejak dini. Rencana tersebut memuat 111 target aksi dalam sembilan tema strategis. Dua pekan sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga mengingatkan, radikalisasi di ruang digital dapat menyamar sebagai kepedulian (Kementerian Komunikasi dan Digital, 2026).

Skalanya tidak kecil. Catatan BNPT (2025) menemukan 21.199 konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme di ruang digital. Pada tahun yang sama, 112 anak di 26 provinsi disebut terpapar atau teradikalisasi melalui gim daring dan media sosial. Usia mereka berkisar 10-18 tahun dengan rata-rata 13 tahun.

BNPT juga mengingatkan bahwa proses yang dahulu dapat berlangsung dua hingga lima tahun kini bisa memendek menjadi tiga hingga enam bulan melalui media sosial. Angka-angka ini tidak boleh dipakai untuk menakut-nakuti, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ancaman bekerja cepat dan masuk ke ruang privat anak.

Dari konten ke relasi

Selama ini kewaspadaan digital sering diajarkan sebagai daftar larangan. Jangan percaya hoaks, jangan membuka situs mencurigakan, dan jangan mengikuti akun radikal. Semua itu perlu. Namun, bagaimana seorang anak harus waspada jika yang datang bukan ancaman, melainkan seseorang yang membuatnya merasa dihargai? Karena itu, literasi digital perlu diperluas menjadi literasi relasi: kemampuan mengenali kapan perhatian berubah menjadi ketergantungan, kapan kedekatan dipakai untuk mengisolasi, kapan rahasia diminta sebagai bukti kesetiaan, dan kapan kepercayaan diarahkan menjadi kepatuhan tanpa ruang bertanya.

Di sinilah orang dewasa harus berhati-hati. Pencegahan radikalisasi tidak boleh berubah menjadi kebiasaan mencurigai anak. Remaja yang banyak bertanya bukan ancaman. Anak yang sedang mencari identitas bukan calon ekstremis. Justru ketika pertanyaan mereka dipatahkan, kegelisahan mereka diremehkan, dan ruang dialog ditutup, orang lain di dunia digital memperoleh kesempatan menjadi pendengar yang tidak mereka temukan di rumah atau sekolah.

Kerentanan tersebut bertemu dengan cara kerja algoritma. Penelitian Fitriyanti dan Nur (2026) dalam jurnal Harmoni terhadap 300 siswa dari delapan madrasah di Jakarta menemukan hubungan signifikan antara paparan algoritmik dan polarisasi keagamaan. Siswa dengan paparan lebih tinggi cenderung menunjukkan sikap lebih eksklusif dan keterbukaan lebih rendah terhadap pandangan berbeda.

Karena desainnya korelasional dan paparan dilaporkan sendiri oleh responden, temuan itu tidak membuktikan bahwa algoritma merupakan penyebab tunggal. Namun, hal itu memberi peringatan penting, sistem rekomendasi dapat memperkuat ruang gema ketika bertemu remaja yang sedang rapuh dan membutuhkan kepastian.

Tiga perubahan desain pencegahan

Karena itu, benteng digital tidak cukup dibangun dengan pemblokiran konten. Pertama, sekolah dan madrasah perlu mengajarkan literasi algoritma sekaligus literasi relasi tanpa menambah mata pelajaran baru. Materi dapat diintegrasikan ke bimbingan konseling, pendidikan agama, pendidikan Pancasila, atau pertemuan kelas.

Peserta didik perlu memahami bahwa lini masa bukanlah dunia, melainkan bagian dunia yang dipilihkan sistem rekomendasi. Mereka juga perlu berlatih mengenali pola manipulasi, seperti pemberian perhatian yang berlebihan, ajakan pindah ke ruang percakapan tertutup, permintaan merahasiakan hubungan, pengucilan dari keluarga, dan pembentukan cara pandang ”kami versus mereka”.

Kedua, keluarga dan lembaga pendidikan memerlukan protokol percakapan dan rujukan yang aman. Ketika anak berubah mendadak, menutup diri, atau menganggap semua orang di luar kelompoknya sebagai musuh, respons pertama seharusnya bukan penyitaan gawai atau interogasi. Orangtua dan guru perlu mendengar, mengajukan pertanyaan terbuka, memeriksa sumber bersama, dan mencatat tanda risiko secara proporsional.

Jika ditemukan manipulasi, ancaman kekerasan, atau rencana membahayakan diri dan orang lain, sekolah harus memiliki jalur rujukan yang jelas kepada konselor, layanan perlindungan anak, dan aparat yang berwenang. Kerahasiaan, keselamatan, dan hak anak harus dijaga agar deteksi dini tidak berubah menjadi stigmatisasi.

Ketiga, 111 target aksi RAN PE perlu diterjemahkan menjadi tanggung jawab yang dapat diukur. Keberhasilan tidak cukup dihitung dari jumlah seminar atau konten yang diblokir. Ukur pula berapa sekolah memiliki protokol, berapa guru dan konselor terlatih, seberapa cepat laporan ditangani, apakah keluarga memahami jalur bantuan, dan apakah rujukan berlangsung aman tanpa pelabelan.

Penyelenggara platform digital juga perlu diminta membuka penilaian risiko sistem rekomendasi bagi anak, menyediakan pelaporan yang mudah, memperkuat pengaturan aman bawaan, dan mencegah perpindahan manipulatif menuju ruang privat tanpa membebani anak dengan pengawasan total.

Pendidikan agama mempunyai peran yang tidak dapat digantikan sensor, dengan menjadi ruang aman untuk bertanya sekaligus membedakan keyakinan yang teguh dari kebencian kepada yang berbeda. Guru tidak cukup menjadi pemberi jawaban, tetapi juga pendamping yang melatih peserta didik memeriksa alasan, sumber, dan dampak moral dari apa yang dipercaya. Pertanyaan tidak melemahkan iman. Dalam ruang belajar yang sehat, pertanyaan justru menumbuhkan tanggung jawab atas keyakinan.

Di sinilah Pancasila memperoleh makna konkret. Pancasila hidup ketika seseorang menghormati martabat manusia, mendengar orang berbeda, bermusyawarah, dan membela mereka yang lemah. Identitas tidak membutuhkan musuh untuk menjadi kuat. Rasa memiliki terhadap Indonesia tumbuh ketika setiap orang merasa mempunyai tempat dalam rumah bersama tanpa harus menyeragamkan keyakinan dan pandangan.

RAN PE fase kedua menuntut kerja semua unsur pemerintahan dan masyarakat. Namun, kolaborasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengaburkan penanggung jawab. BNPT perlu menjaga koordinasi dan ukuran hasil. Kementerian yang mengurus pendidikan dan agama menyiapkan protokol sekolah. Kemenkomdigi memastikan akuntabilitas platform. Pemerintah daerah membangun layanan rujukan. Adapun sekolah dan keluarga menjaga ruang dialog. Pembagian peran yang jelas akan membedakan kebijakan nyata dari seremoni pencegahan.

Kita perlu berhenti membayangkan radikalisasi selalu datang dengan wajah menyeramkan. Kadang ia datang lewat sapaan yang menenangkan. Karena itu, benteng terbaik bukan sekadar teknologi penyaring, melainkan manusia yang tidak mudah dimanipulasi karena ia kritis, dicintai, mempunyai ruang untuk bertanya, dan merasa menjadi bagian dari rumah bersama bernama Indonesia. Jika kepedulian palsu dapat menjadi pintu masuk radikalisasi, kepedulian yang otentik harus menjadi jalan keluarnya.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...