HomeInspirasiAspirasi DamaiNanda Olivia, Perempuan Tangguh...

Nanda Olivia, Perempuan Tangguh Korban Terorisme

Tidak semua korban bom terorisme selalu mengalami keterpurukan. Ada begitu banyak korban tangguh yang memilih bangkit dari musibah yang dialaminya.

Salah satunya Nanda Olivia Daniel, korban bom Kuningan tahun 2004. Nanda adalah mahasiswi STIE PERBANAS sekaligus seorang ibu yang memiliki 3 anak putri. Nyak, menjadi sapaan akrabnya bagi kami, orang-orang yang mengenalnya.

Bukan pengalaman mendampingi korban yang ingin aku ceritakan dalam tulisan ini. Sebab, saat tragedi itu, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Masih terlalu dini rasanya untuk mencerna tragedi tersebut.

Baca juga Jadi Korban Terorisme, Nanda Olivia Berdamai dengan Diri Sendiri

Aku mengenal Nyak Nanda sejak bergabung dengan AIDA pada tahun 2014 akhir. Ada begitu banyak awal tanpa ada akhir, untuk menceritakan kesan dan pengalamanku bersama sosok yang sangat mengagumkan ini.

Aku mendampingi Nyak saat menjalani konseling di Yayasan Pulih. Itu pun bukan karena dia butuh penanganan secara psikologis dalam kondisi yang kritis. Namun lebih tepatnya melakukan kontrol atau memastikan seberapa besar dampak yang masih tersisa dari peristiwa ledakan bom. Seperti rasa trauma, penyesalan, kekecewaan, emosional, dan lain-lain.

Hasil penanganan psikologis bersifat sangat rahasia dan hanya diketahui oleh Nyak dan konselornya. Namun demikian, melihat konselor tersenyum tanpa menyampaikan pesan yang berarti, aku berasumsi bahwa dia sudah cukup pulih.

Baca juga Berkisah: Metode Psikologis Atasi Trauma Korban Bom

Keadaan tersebut menjadi bukti bahwa Nyak adalah sosok perempuan penyintas yang tangguh. Meskipun saat itu dia keluar ruangan dengan mata merah dan dengan air mata yang masih sedikit menggenang.

Jangankan menceritakan kembali kisah pilu yang dialami secara khusus, aku hanya mendengar kisahnya saat beberapa kali mendampinginya sebagai narasumber di beberapa kegiatan AIDA saja membuatku tidak pernah bisa menahan air mata. Pada akhirnya berujung isakan tangis dalam pelukan Nyak ketika ia sudah mengakhiri sesi berbagi kisahnya.

Nanda Olivia Daniel (Korban Bom Kuningan 2004) dan Lida Hawiwika (penulis – red).

Nyak selalu mengatakan bahwa luka yang membekas di sebagian telapak tangannya merupakan akibat kecelakaan. Sepenggal kalimat ini sesungguhnya menjadi penguat baginya untuk melupakan dan mengobati rasa trauma akibat bom, yang kemudian membuatku sangat kagum.

Perempuan berhijab ini juga sosok yang sangat mencintai keluarga, terlebih kepada tiga anak perempuannya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Lagi-lagi aku mengaguminya sebagai sosok ibu dengan banyak peran. Tidak hanya sebagai orangtua, Nyak bahkan berperan dan bersikap sebagai sahabat bagi anak-anaknya. Hubungan Nyak dengan anak-anaknya tidak bisa digambarkan saking begitu dekatnya.

Maka tidak heran jika kemudian aku dengan sangat mudah memiliki hubungan emosional dengan Nyak secara personal. Bagiku, dia adalah pendengar, penasihat hingga pengingat yang sangat mahir untukku. Aku merasa memiliki seorang ibu sekaligus sahabat. Ketika kita saling bertukar cerita, tak jarang  ditemani kopi karena aku dan Nyak sangat menyukainya. [LH]

Baca juga Musibah Tak Lepas Dari KehendakNya

Most Popular

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...