Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama).
“Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di internal umat Islam tidak mudah,” tandas kiai Moqsith dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu.
Kiai Moqsith menyarankan sebaiknya perselisihan atau perbedaan diantara umat Islam tidak menyentuh ajaran pokok agama, tetapi pada hal-hal yang furu’iyah seperti bentuk negara dan lainnya.
Baca juga: Pancasila Selaras dengan Syariat Islam
Ia mencontohkan salah satu perbedaan umat Islam yang susah disatukan adalah penentuan 1 syawwal atau hari raya idul fitri. Ia mengharapkan perbedaan antar umat Islam bisa diminimalisir melalui menyepakati hal-hal yang sifatnya pokok seperti wahdaniyatuhu ta’ala.
“Tidak ada perselisihan diantara kita soal wahdaniyatuhu ta’ala. Rujukan kita Alqur’an, hadis kita sepakat. Tapi bagaimana cara kita menafsirkan Alqur’an, ini yang medannya cukup luas sekali dan berbeda-beda,” tuturnya. [AS]
