Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri.
Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang diselenggarakan AIDA di Kota Medan, Sumatera Utara, pertengahan September lalu.
“Ketika kami di lembaga pemasyarakatan (lapas) high risk Nusakambangan, satu blok tahanan pengikut ISIS melakukan syahadat ulang di kamar masing-masing karena merasa dirinya sudah kafir. Mereka menganggap dirinya sudah kafir karena ditangkap Densus 88 lalu dihukum menggunakan hukum buatan manusia. Saking ekstremnya pemikiran mereka begitu,” tutur Iskandar.
Baca juga: Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme
Tak hanya itu, lanjut Iskandar, mereka juga akan menceraikan pasangannya jika melakukan ikrar setia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut dia, ada beberapa jemaahnya yang diceraikan istrinya saat diketahui menyatakan ikrar setia NKRI. Bahkan, proses perceraiannya hanya disampaikan melalui telp. “Saya bersyukur tidak diceraikan istri seperti yang dialami teman-teman saya ketika menandatangani ikrar setia NKRI,” ucap dia.
Iskandar menyatakan pendukung ISIS juga mengkafirkan dan menganggap murtad seseorang yang ikrar setia NKRI. Ia mengaku pernah dianggap kafir dan murtad oleh muridnya sendiri karena ia menyatakan ikrar setia NKRI.
“Ini persoalan di kalangan ISIS. Orang ikrar NKRI dianggap murtad, bahkan ditinggal istrinya. Mereka lebih serampangan. Saya dianggap murtad sama murid saya karena saya sudah ikrar NKRI dan orang yang mengobrol dengan saya juga dianggap murtad. Sangat bahaya pemikiran mereka,” tegas Iskandar. [AS]
