Aliansi Indonesia Damai– Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia.
“Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan. Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad. Siapa pun yang tinggal di radius 90km dari pusat peperangan di Surabaya, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa laki-laki dan perempuan harus keluar membela tanah air,” tutur Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said saat menyampaikan keynote speech Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” di Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (12/08/2026).
Basnang mengatakan pondok pesantren juga telah berjasa mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyemaikan akhlak mulia kepada generasi bangsa jauh sebelum republik ini berdiri. Sejak dahulu hingga sekarang, pesantren-pesantren masih terus mencerdaskan anak-anak negeri ini.
Baca juga: Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian
“Pesantren tidak pernah luntur untuk terus-menerus mencerdaskan kehidupan bangsa, menyemaikan akhlak mulia generasi bangsa. Lebih dari satu abad, pesantren telah mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara, mereka tidak pernah butuh kepada tanah air kita,” tegasnya.
Basnang mengungkapkan dahulu tahun 1950-an ada pertentangan di antara tokoh-tokoh nasional bangsa ini. Mereka ada yang mengatakan Bung Karno (Soekarno) tidak sah menjadi kepala negara karena tidak diangkat oleh MPR atau tidak diangkat oleh wakil rakyat. Ketika pertentangan tersebut, tokoh/ulama pesantren KH Wahab Chasbullah menentramkan bahwa pemimpin yang sah inilah yang saat ini (Soekarno).
“Kiyai Wahab mengatakan siapa yang mengatakan Bung Karno tidak sah menjadi kepala negara, sementara Bung Karno mengangkat menteri agama lalu menteri agama mengangkat penghulu, kemudian penghulu menikahkan. Ketika asal hukumnya tidak shahih maka produk-produk hukumnya juga tidak shahih,” jelas Basnang.
Baca juga: Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni
Alhasil, lanjut dia, para tokoh tersebut akhirnya menerima Bung Karno sebagai kepala negara. Lalu Bung Karno diberikan gelar waliyyul amri ad-dharuri bi as-syaukah yaitu pemimpin di masa darurat dan sah seluruh keputusannya. [AS]
