Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.”
Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci (keynote speech) pembukaan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara Rabu (16/09/2026).
Menurut Cholil Medan dan sekitarnya merupakan kota yang plural, tempat bertemunya berbagai etnis dan agama yang hidup berdampingan selama berabad-abad. Masyarakatnya selalu menjaga harmoni dan perdamaian.
Baca juga: AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan
Namun tantangan merawat kedamaian, kata dia, kian bergeser ke ruang-ruang digital. Di balik layar handphone misalnya, arus globalisasi dan gerakan pemikiran modern Islam saling berebut pengaruh. “Mulai dari pola pemikiran liberalis, nasionalis, dinamis, hingga apologis. Fragmentasi ini kerap memicu konflik pemahaman keagamaan di kalangan anak muda,” tutur kiyai Cholil.
Ia mengatakan peran ulama menjadi sangat krusial sebagai pembimbing umat. Menurut dia, ulama tidak lagi bisa sekadar berdiri di mimbar-mimbar konvensional tapi harus turun ke “medan pertempuran digital” untuk menuntun Gen Z agar tidak tergelincir pada pemahaman yang kaku atau radikal, dan mengarahkan energi besar mereka untuk menjaga perdamaian.
Beliau menekankan di tangan ulama tongkat estafet perdamaian digital berada, demi merangkul generasi muda yang rentan terhadap paparan ekstremisme di dunia maya.[LA]
