HomeTajukUlama Penjaga Harmoni Bangsa

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan berbagai aksi terorisme), selalu ada kekuatan moral yang menjaga agar tenun kebangsaan tidak koyak. Salah satu pilar kokoh tersebut adalah para ulama. Peran ulama dalam memelihara perdamaian di Indonesia bukan sekadar catatan pelengkap, melainkan fondasi utama yang menjaga stabilitas sosial dan spiritualitas publik.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, arah gerak umat Islam di Indonesia sangat ditentukan oleh fatwa, nasihat, dan keteladanan para ulamanya. Berbeda dengan beberapa wilayah di belahan dunia lain (Sudan, Irak, Suriah, Yaman) yang kerap terjebak dalam konflik sektarian berkepanjangan, Indonesia relatif berhasil merawat kedamaian. Keberhasilan ini tidak lepas dari konsistensi mayoritas ulama tanah air yang konsisten menggemakan prinsip Islam Wasathiyah atau Islam yang moderat, santun, dan seimbang.

Ulama di Indonesia memegang peran ganda yang sangat strategis. Pertama, sebagai warasatul anbiya (pewaris para nabi) yang menjaga kemurnian ajaran agama. Kedua, sebagai perekat sosial (social glue) yang menjembatani perbedaan antara masyarakat bawah dan pembuat kebijakan. Ketika ketegangan politik atau gesekan horisontal meningkat—terutama akibat provokasi radikalisme di media sosial—ulama hadir mendinginkan suasana. Mimbar-mimbar khotbah dan pesantren diubah menjadi ruang edukasi untuk menyebarkan pesan kedamaian.

Dalam menjalankan misi mulia ini, para ulama dapat mengambil ibroh atau pelajaran berharga dari sebuah potret nyata “rekonsiliasi” di tanah air. Kita melihat bagaimana ketangguhan luar biasa ditunjukkan oleh tim perdamaian yang terdiri dari para korban atau penyintas terorisme. Di sisi lain, kita juga menyaksikan kelapangan hati dan pertaubatan tulus dari para mantan pelaku terorisme yang telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Ketika dua pihak yang pernah dipisahkan oleh tindakan kelam kekerasan (terorisme) ini mampu meloloskan sekat trauma dan dendam, lalu bahu-membahu dalam satu panggung kampanye perdamaian, di sanalah ibroh tertinggi dari kemanusiaan dan pengampunan itu mewujud.

Kolaborasi antara penyintas dan mantan pelaku tersebut menjadi hujjah nyata yang dapat memerkuat narasi ulama. Jika mereka yang mengalaminya langsung saja bisa berdamai, maka tidak ada alasan bagi masyarakat luas untuk memelihara dendam dan kebencian. Keteladanan ini harus diserap oleh para ulama untuk memperkaya substansi dakwah. Ulama dapat menjadikan kisah nyata pertaubatan dan ketangguhan ini sebagai modal sosial untuk meyakinkan umat bahwa radikalisme adalah jalan buntu, dan perdamaian adalah satu-satunya jalan keluar yang diridai agama.

Tantangan hari ini tentu jauh berbeda dengan masa lalu. Di era digital, narasi radikalisme, polarisasi, dan hoaks keagamaan dapat menyebar dalam hitungan detik. Di sinilah relevansi peran ulama diuji. Ulama kontemporer tidak hanya dituntut menguasai kitab klasik, tetapi juga harus mampu menguasai ruang digital untuk membendung konten-konten pemecah belah. Jihad hari ini adalah jihad literasi untuk memastikan bahwa wajah Islam yang ramah tetap mendominasi ruang publik.

Kita harus mengapresiasi ormas-ormas Islam besar seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lembaga keagamaan lainnya yang tanpa lelah terus menanamkan konsep hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman). Sinergi antara ulama, umara (pemerintah), civil society dan seluruh elemen masyarakat adalah kunci utama. Pemerintah harus terus menempatkan ulama sebagai mitra strategis dalam dialog-dialog kebangsaan, upaya-upaya pencegahan dan kampanye perdamaian, bukan sekadar pemadam kebakaran saat api konflik sudah terlanjur menyala dan menyebar.

Menjaga perdamaian adalah proses yang tiada akhir (peace is a process). Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, keteladanan ulama yang sejuk, inklusif, dan mengutamakan maslahat publik adalah “kompas” yang bangsa ini butuhkan. Sebagai bangsa, mari kita jaga nalar damai ini bersama-sama, demi Indonesia yang tetap rukun, beradab, dan berkemajuan.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Previous article

More from Author

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...