Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”.
Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom berdaya ledak tinggi menggelegar di depan Kedutaan Besar Australia Jakarta. Kala itu, Mulyono sedang mengendari mobil dan melintas di seberang kedutaan.
Sejak terkena bom hingga sekarang, Mulyono mengaku beberapa bagian tubuhnya yang terluka masih merasakan sakit, bahkan dirinya masih meminum obat setiap hari. “Sampai sekarang saya masih minum obat dan masih sakit,” ujar Mulyono dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu.
Baca juga: Menemukan Kedamaian di Tengah Kegelapan
Ia mengatakan sakit fisik lebih mudah ditahan daripada sakit mental. Menurut dia kalau mental seseorang sudah menyalahkan Allah, tidak dapat menerima takdir dan bersabar, maka akan semakin sulit menghadapinya.
“Saat saya ikhlas dan berserah diri kepada Allah, saya merasa lebih kuat dan lebih ringan menjalaninya,” ucap Mulyono.
Mulyono mengatakan meski secara fisik dirinya masih minum obat rutin selama puluhan tahun tapi secara mental ia harus belajar untuk berdamai dan memafkan banyak hal, termasuk memaafkan mantan pelaku terorisme. “Saya sampaikan ke mantan pelaku bahwa tidak ada rasa dendam karena sudah pasrahkan kepada Allah,” tuturnya.
Ia mengaku bersyukur menjadi umat Islam dan umat Nabi Muhammad Saw. Ia yakin dan percaya bahwa Allah tidak akan memberikan beban/ujian kalau dirinya tidak mampu.
“Allah sudah memilih saya, saya harus selalu yakinkan itu. Saya yakin Allah punya janji-janji keumatan, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Saya harus percaya dengan janji Allah,” tegasnya. [AS]
