HomeOpiniMelindungi Anak dari Kekerasan...

Melindungi Anak dari Kekerasan Terorisme


ALIANSI INDONESIA DAMAI – Kekerasan terorisme masih menjadi momok kehidupan masyarakat. Dampak dari kejahatan kemanusiaan ini tidak mengenal usia. Baik orang dewasa maupun anak-anak memiliki potensi yang sama menjadi korban dari terorisme. Potensi menjadi korban terorisme terhadap anak-anak yang dimaksud di sini adalah kemungkinan dua posisi, yaitu sebagai korban aksi terorisme atau sebagai korban indoktrinasi ideologi terorisme. Kondisi ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama mengingat generasi muda merupakan aset bangsa di masa depan yang perlu dituntun dan dibimbing menuju kemajuan. Namun, terorisme telah merenggut masa depan mereka lebih awal.

Anak sebagai korban aksi

Sifat aksi terorisme yang menyasar secara acak, menyebabkan siapa pun tidak aman dari dampak kekerasan itu, termasuk anak-anak. Di antara mereka ada yang menjadi korban langsung maupun tak langsung. Korban langsung berarti anak-anak yang terkena langsung ledakan bom atau bentuk aksi teror lainnya, yang menyebabkan luka fisik, trauma, atau bahkan merenggut nyawa. Di Indonesia pernah terjadi kasus seperti itu. Kasus bom di Gereja Oikumene Samarinda salah satu contohnya. Tempo.co dan kompas.com melaporkan, seorang balita atas nama IO (2,5) meninggal dunia dan tiga lainnya atas nama AA, TH, dan AK menderita luka bakar yang sangat serius akibat serangan bom molotov yang terjadi Minggu, 13 November 2016. Saat kejadian, anak-anak tak berdosa itu sedang bermain di halaman gereja sembari menunggu orang tua mereka beribadah.

Sedangkan korban tak langsung berarti anak-anak yang kehilangan anggota keluarganya karena menjadi korban aksi terorisme. Meski tak terkena langsung, mereka tetap merasakan dampak yang luar biasa. Luka psikis begitu membekas pada anak-anak yang menjadi korban tak langsung dari aksi terorisme ini. Menurut catatan Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, dalam bukunya yang berjudul La Tay`as (Jangan Putus Asa): Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, anak-anak yang masih belia rentan mengalami goresan luka psikis lantaran orang tuanya menjadi korban aksi terorisme. Sebagai contoh, ada seorang anak korban Bom Bali 2002 yang tidak mau makan lauk yang dibakar karena sempat melihat kondisi ayahnya yang gosong setelah terkena ledakan bom terorisme.

Kisah lainnya datang dari putri korban bom di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada tahun 2004. Masih menurut catatan Hasibullah, saat kejadian si anak masih berumur 4,5 tahun. Ibunya terkena dampak dari ledakan bom tersebut, berupa pembusukan tulang belakang yang akhirnya merenggut nyawanya. Kesedihan mendalam harus diderita si anak karena terpaksa menjalani hidup tanpa ibu. Setiap kali ia bertanya kemana ibunya, ayahnya terpaksa ‘berbohong’ bahwa sang ibu sedang dirawat di rumah Allah. Dengan polos, si putri pun sering mendatangi masjid dan musala menanti ‘kepulangan’ ibunya.

Anak sebagai korban ideologi

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana pelaku peledakan gereja di Surabaya mengajak keempat orang anaknya untuk melancarkan teror terhadap umat Kristiani yang tengah khusyuk melaksanakan ibadah mingguan pada 13 Mei 2018. Aksi bom bunuh diri di tiga gereja tersebut dilakukan satu keluarga inti Dita Oepriarto (48). Malamnya, terduga teroris pasangan suami istri Anton (47) dan Puspita (47), serta seorang anak perempuan mereka berinisial LAR (17) tewas terkena ledakan bom yang sedang mereka rakit di rumah susun mereka di daerah Wonocolo, Sidoarjo. Dikutip dari Kompas, dua anak Anton, atas nama FP (11) dan GHA (10) mengalami luka-luka akibat ledakan. Anak kedua Anton dan Puspita, AR (15) tidak menyetujui perjuangan orang tuanya, dan pada saat kejadian sedang berada di kediaman neneknya.

Sehari setelahnya, 14 Mei 2018, pelaku lain juga melibatkan anak-anak dalam serangan bom di Mapolrestabes Surabaya. Pelaku atas nama Tri Murtono (50) naik motor berboncengan dengan istrinya, Tri Ernawati (43), sambil menggendong anak bungsu mereka, AA (7). Dua anak laki-laki mereka MDA (18) dan MDS (14) dengan motor lain juga berboncengan. Serangan ini berlangsung dengan begitu dramatis, semua pelaku tewas karena ledakan, kecuali si anak perempuan lolos dari maut dan segera diamankan anggota polisi.

Rentetan aksi teror di Surabaya menghebohkan jagat media sekaligus menjadi keprihatinan bangsa Indonesia. Pertanyaan besar menyeruak, bagaimana mungkin orang tua sampai tega melibatkan darah dagingnya yang masih belia untuk melakukan bunuh diri serta melukai dan menghilangkan nyawa orang lain.

Penulis meyakini, keterlibatan anak –terutama yang belum mencapai usia dewasa– dalam peristiwa seperti itu bukan dorongan kehendak mereka sendiri. Dari tinjauan sosial dan psikologi, seorang anak belum memiliki kontrol penuh atas dirinya sendiri. Setiap tindak tanduknya masih kuat dipengaruhi oleh orang tunya. Dalam hemat penulis, keterlibatan anak-anak tersebut dalam berbagai peristiwa bom merupakan ekses dari indoktrinasi dan paksaan orang tua mereka. Singkatnya, penulis beranggapan bahwa mereka sejatinya hanya korban dari ideologi menyimpang yang diamut orang tua.

Asumsi ini diperkuat dengan fakta bahwa anak-anak yang dilibatkan dalam operasi bom bunuh diri ternyata merasakan ketakutan dan trauma yang mendalam. Dilansir dari Tribunnews.com, seorang satpam kompleks kediaman Dita Oepriarto bersaksi bahwa ia melihat anak pelaku sempat tak henti-hentinya menangis setelah menunaikan salat subuh berjamaah, dua jam sebelum mereka melakukan aksi pengeboman gereja. Artinya, hati nurani mereka sebenarnya menentang aksi-aksi tersebut.

Begitu juga dengan AA (7), anak pelaku bom Mapolrestabes Surabaya yang selamat. Ia mengalami trauma hebat karena bom meletus tepat di depan matanya. Terlebih lagi, kedua orang tuanya yang notabene adalah pelaku juga sudah tak bernyawa. Tekanan psikologis yang begitu dahsyat membuatnya pilih-pilih dalam berkomunikasi dengan orang asing. Meskipun traumanya sudah mulai berangsur hilang, kehidupannya ke depan akan tetap berat karena tidak bisa lagi merasakan belaian kasih sayang orang tua.

Dalam hal ini, penulis sepakat dengan keterangan Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung Mangera, yang menyebutkan, “Dia adalah korban indoktrinasi orang tuanya.”

Menjauhkan anak dari kekerasan

Melihat begitu merusaknya dampak terorisme terhadap anak-anak, maka menjauhkan mereka dari kekerasan adalah sebuah keharusan. Anak-anak harus dihindarkan dari paparan konflik dan kekerasan. Syariat Islam mengajarkan hal serupa. Nabi Muhammad Saw. pernah menunjukkan ketidaksenangannya ketika mendapati ada anak-anak yang terbunuh dalam medan perang. Beliau menyerukan pasukannya agar tidak membunuh anak-anak. Beliau juga tidak pernah melibatkan anak-anak dalam setiap peperangan yang dilakoninya. Hal ini menjadi pesan yang sangat kuat bahwa anak-anak tidak seharusnya diseret ke dalam pusaran kekerasan terorisme.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Al-Aswad bin Sari’, ia berkata, “Aku menemui Rasulullah Saw. dan ikut berperang bersama beliau. Pada waktu itu bertepatan pada waktu zuhur. Anggota pasukan bertempur dengan hebat sehingga mereka membunuh anak-anak –dalam riwayat lain dengan lafaz dzurriyah (keturunan). Sampailah berita itu kepada Rasulullah Saw. Beliau bersabda, ‘Mengapa orang-orang itu melampaui batas dalam berperang sehingga membunuh anak-anak?’ Seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka adalah anak-anak kaum musyrikin.’ Rasul menjawab, ‘Ingatlah, sesungguhnya orang-orang terbaik dari kamu (asalnya) adalah anak-anak kaum musyrikin.’ Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Ingat, janganlah membunuh anak-anak, janganlah membunuh anak-anak.” (HR. Al-Nasa`i dalam Al-Kubra no. 8616).

Melindungi anak-anak sama halnya dengan melindungi masa depan. Mereka adalah generasi penerus yang dalam beberapa tahun kemudian akan menjadi aktor penting yang berperan untuk membangun peradaban. Mereka adalah generasi yang penuh dengan potensi. Anak-anak mestinya dipandu, diarahkan, dilindungi, dan diayomi mereka agar siap menjadi generasi yang tangguh. Jangan sampai kesempatan mereka mengukir masa depan dikotori dengan mengorbankan mereka sebagai korban dari tindak pidana terorisme.

Oleh Faruq Arjuna Hendroy, alumnus UIN Jakarta

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....