Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.”
Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu.
Dalam kegiatan yang didukung Aliansi Indonesia Damai (AIDA) itu, santri putra Kelas X di pesantren yang didirikan KH. Muslim Rifai Imampuro tersebut menyimak penuturan kisah dua pihak yang menginspirasi, yakni penyintas aksi terorisme dan mantan anggota kelompok teroris yang telah bertobat.
Penyintas menceritakan perjuangan untuk bangkit dari kondisi keterpurukan akibat aksi teror. Sementara itu, mantan pelaku berbagi pengalaman hidup bagaimana mereka terpapar paham ekstrem hingga melakukan aksi kekerasan sebelum akhirnya menyadari kesalahan jalan hidup yang mereka tempuh.
Usai penuturan kisah penyintas dan mantan pelaku, 65 peserta Pengajian yang terdiri atas santri dan pengajar di PP Alpansa, nama populer Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti, diminta menyampaikan tanggapan. Ragam pendapat pun bersahutan terdengar di tengah pedesaan Karanganom, Klaten malam itu.
“Saya ingat ibu saya yang di rumah. Perasaan saya terharu. Maksudnya saya jadi bersimpati terhadap korban.” Demikian santriwati Kelas X PP Alpansa mengatakan.
Seorang santri senior yang kini menjadi tenaga pengajar di PP Alpansa menggali penyebab orang bisa terpapar paham kekerasan. Menurutnya, salah pemaknaan terhadap teks-teks agama menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi.
“Oleh karena itu menurut saya perlu adanya pemahaman yang lebih mendalam tentang Al-Quran. Tidak hanya membaca terjemah, tetapi perlu adanya pemahaman tafsir. Alhamdulillah di pondok kita ini sudah diajarkan tafsirnya, seperti Tafsir Jalalayn,” katanya.
Seorang peserta lainnya mengingatkan rekan-rekannya sesama santri PP Alpansa agar meningkatkan literasi dan budaya berpikir kritis. Sebelum melakukan segala sesuatu, ia meminta para santri memikirkan secara jauh risiko dan akibatnya.
“Yang saya tangkap adalah bagaimana penderitaan korban bom dan bagaimana penyesalan pelaku bom tersebut. Jadi kita jangan ikut-ikutan,” ujarnya. [MLM]
