HomeOpiniJangan Berlindung di Balik...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI

Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026

TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan ilmu, membentuk akhlak, dan membangun keadaban.

Karena itu, setiap kali muncul kabar tentang kekerasan di lingkungan pendidikan agama, yang terluka tidak hanya korban dan keluarganya. Ada luka lain yang patut kita sadari, yakni luka atas retaknya kepercayaan masyarakat. Dan, membangun kembali kepercayaan itu jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal.

Peristiwa seperti ini tidak boleh berhenti sebagai berita yang mengundang kemarahan sesaat. Ia harus menjadi bahan renungan bersama. Sebab, di saat ruang-ruang yang diharapkan dibangun untuk membentuk akhlak justru melahirkan kekerasan, ada sesuatu yang perlu kita benahi, yakni tidak hanya pada pelakunya, tetapi juga pada cara kita menjaga amanah.

Persoalan serupa sesungguhnya tidak hanya kita temukan di pesantren. Kita juga pernah menyaksikan penipuan yang mengatasnamakan syariah, investasi yang menjual simbol agama, penyalahgunaan dana umat, hingga berbagai bentuk pelayanan ibadah yang lebih mengutamakan keuntungan daripada pengabdian. Kita bisa melihat bentuknya boleh berbeda, tetapi polanya sama, yakni kepercayaan masyarakat dimanfaatkan untuk kepentingan yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai agama.

Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Tidak ada agama yang membenarkan penipuan. Tidak ada agama yang memberi tempat bagi penyalahgunaan kepercayaan. Karena itu, setiap upaya menjadikan agama sebagai tameng atau sebagai topeng bagi perbuatan-perbuatan semacam itu sesungguhnya sedang mencederai agama itu sendiri.

Kita pahami bagaimana dalil-dalil yang diturunkan berbicara tentang amanah bukan sekadar pesan moral. Ia merupakan sebuah fondasi dari setiap kepercayaan yang diberikan kepada seseorang.

Masyarakat menghormati guru, ulama, pengasuh pesantren, pembimbing ibadah, dan para pelayan umat bukan semata karena jabatan atau kedudukannya. Mereka dihormati karena dipercaya menjaga amanah. Kepercayaan itulah yang menjadi sumber kewibawaan.

Sosiolog Max Weber pernah mengingatkan bahwa ada kekuasaan yang lahir bukan dari paksaan, melainkan dari kepercayaan. Orang mengikuti karena percaya. Justru karena itulah, penyalahgunaan kepercayaan selalu meninggalkan luka yang lebih dalam ketimbang penyalahgunaan kekuasaan biasa.

Beberapa waktu lalu, saya menulis bahwa jemaah haji tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas. Keyakinan itu tidak berubah. Namun, semakin lama saya mencermati berbagai persoalan yang muncul di ruang-ruang keagamaan, semakin saya menyadari bahwa persoalannya lebih mendasar. Sebelum manusia diperlakukan sebagai komoditas, yang lebih dahulu diperdagangkan ialah kepercayaan.

Pengalaman dalam penyelenggaraan haji mengajarkan banyak hal. Praktik rente, permainan kepentingan, atau berbagai bentuk penyimpangan tidak pernah lahir begitu saja. Semua bermula ketika pelayanan bergeser menjadi transaksi, ketika amanah dipandang sebagai peluang, bukan tanggung jawab. Pada saat itulah kepentingan pribadi mulai mengalahkan kepentingan umat.

Pelajaran itu berlaku di mana saja. Di pesantren, di lembaga pendidikan, di lembaga filantropi, di organisasi keagamaan, maupun dalam pelayanan publik yang berkaitan dengan ibadah. Selama ada kepercayaan, di situ ada amanah yang harus dijaga.

Karena itu, tidak boleh ada kekebalan hanya karena seseorang mengenakan simbol agama atau memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Mengoreksi penyimpangan bukanlah bentuk permusuhan terhadap agama. Sebaliknya, itulah cara menjaga kehormatan agama agar tidak diperalat oleh mereka yang menjadikannya tempat berlindung.

Agama tidak akan kehilangan kemuliaannya hanya karena kita berani mengoreksi penyimpangan yang terjadi atas namanya. Justru kemuliaan agama dijaga oleh keberanian untuk menegakkan keadilan dan merawat kepercayaan yang dititipkan umat. Sebab, dikala kepercayaan itu hilang, yang akan hilang tidak hanya wibawa sebuah lembaga. Kita kehilangan keyakinan bahwa agama tetap menjadi tempat paling aman untuk menitipkan harapan.

Kita harus menempatkan ajaran agama bahwa semakin berilmu dan dekat seseorang dengan agama, ia sejatinya semakin takut kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa, bukan sebaliknya. Pemahaman yang benar akan menumbuhkan sifat khasyyah (rasa takut yang diiringi pengagungan) yang mencegah seseorang dari berbuat dosa, sehingga sejatinya pasti bisa menjaga amanah yang diemban.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Korban Memperkuat untuk Tinggalkan Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Dahulu kala ketika ada aksi pengeboman (amaliyat) kami...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Kisah Korban Memperkuat untuk Tinggalkan Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Dahulu kala ketika ada aksi pengeboman (amaliyat) kami langsung meneriakan takbir Allahu Akbar dengan lantang berulang-ulang. Sama sekali tidak kepikiran bagaimana para korban dari aksi pengeboman tersebut. Demikian dinyatakan mantan anggota jaringan kelompok ekstrem, Kurnia Widodo dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...