HomeOpiniSemua Anak adalah Kita

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026

Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital yang menemani mereka sejak bangun pagi hingga kembali memejamkan mata.

Dunia tempat anak bertumbuh hari ini tak lagi sama seperti 20 tahun lalu. Dahulu seorang anak pulang dari sekolah dengan membawa tas berisi buku pelajaran. Hari ini, mereka membawa percakapan yang tidak berhenti sampai bel sekolah berbunyi. Interaksi pertemanan pulang tetapi tidak di telepon genggam. Sering kali candaan, pertengkaran, pengucilan, dan perundungan tidak selesai di sekolah, lanjut di media sosial.

Perubahan itu berlangsung pelan hingga sering luput dari perhatian. Sekolah masih berada di tempat yang sama. Guru masih berdiri di depan kelas. Anak-anak masih mengenakan seragam yang sama. Namun, kehidupan mereka telah meluas ke ruang yang tak memiliki pagar. Di sanalah mereka belajar, bermain, berteman, dan perlahan membentuk jati diri.

Bukan tanpa alasan. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat, pada 2026 jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 235 juta jiwa dengan tingkat penetrasi 81,72 persen. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang paling akrab dengan perubahan itu. Gawai melampaui sekadar alat komunikasi. Bagi banyak anak, ia telah menjadi tempat bercakap-cakap, berbagi cerita, mencari hiburan sekaligus mengenali dunia.

Namun, ruang yang sama juga menyimpan sisi lain. Seorang anak bisa berada di rumah bersama keluarganya, tetapi pada saat yang sama menerima ejekan dari teman-temannya melalui media sosial. Perundungan tidak lagi berhenti ketika jam pelajaran usai. Ia ikut pulang, masuk ke kamar, bahkan menemani anak hingga sebelum mereka terlelap.

Dilema ruang digital

Ruang digital yang semestinya menjadi altar belajar dan berinteraksi kini juga menyimpan ancaman bagi anak. Dalam laporan tahun 2025, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa kekerasan terhadap anak di ruang digital terus meningkat. Bentuknya beragam, mulai dari perundungan siber, pornografi, hingga child grooming.

Persoalannya, kekerasan itu tidak lagi tinggal di satu ruang. Perselisihan yang bermula di kelas dapat berlanjut di media sosial. Sebaliknya, konflik di media sosial terbawa kembali ke sekolah. Batas di antara keduanya kian kabur. Pada saat yang sama, sekolah pun belum sepenuhnya menjadi ruang aman. Sepanjang 2025, kasus kekerasan di satuan pendidikan menempati urutan kedua tertinggi dalam laporan KPAI. Perundungan sendiri mencapai 37,5 persen dari sekitar 2.500 pengaduan yang diterima.

Barangkali karena itu, yang berubah bukan hanya cara anak berkomunikasi, melainkan juga cara mereka belajar tentang kehidupan. Mereka tidak hanya belajar dari buku atau guru, tetapi juga dari komentar yang mereka baca, dari cara teman memperlakukan orang lain dan dari bagaimana orang dewasa menyikapi perbedaan maupun perundungan di ruang digital.

Margaret Mead, melalui Culture and Commitment: A Study of the Generation Gap (1970), mengajak kita melihat bahwa anak bertumbuh di dalam kebudayaan yang mengelilinginya. Mereka tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang terus-menerus mereka saksikan.

Cara orang dewasa berbicara, cara guru memperlakukan murid, cara teman menyikapi perbedaan, semuanya perlahan menjadi pelajaran tentang kehidupan. Kini, kebudayaan itu juga hadir di ruang digital. Apa yang setiap hari dilihat anak melalui layar sedikit demi sedikit ikut membentuk cara mereka memandang dunia.

Budaya sekolah aman

Pandangan Mead itu agaknya membantu menjelaskan mengapa pemerintah belakangan tidak lagi hanya berbicara tentang keamanan sekolah, tetapi juga tentang budaya sekolah. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 17 Tahun 2026, perlindungan peserta didik tidak lagi berhenti di pagar sekolah.

Ruang digital, selama berkaitan dengan proses pendidikan, kini juga menjadi bagian yang harus dijaga. Bersamaan dengan itu, pemerintah mendorong pembiasaan karakter, penguatan literasi digital, peningkatan kapasitas pendidik, serta pelibatan orangtua.

Arah itu tampak masuk akal. Persoalan anak hari ini memang tidak cukup dijawab dengan larangan atau sanksi. Anak boleh saja tahu bahwa perundungan itu salah. Namun, pengetahuan tidak selalu mengubah perilaku. Yang lebih sering membentuk mereka justru hal-hal yang tampak biasa, yaitu bagaimana guru menegur murid, bagaimana orangtua menyelesaikan pertengkaran, bagaimana teman-temannya memperlakukan mereka yang berbeda.

Karena itu, sekolah yang aman barangkali tidak pertama-tama lahir dari semakin banyak aturan. Ia tumbuh berkat teladan yang hadir setiap hari. Anak-anak jauh lebih peka pada apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Mereka mungkin lupa isi ceramah tentang toleransi. Namun, mereka ingat guru yang tidak mempermalukan muridnya di depan kelas. Mereka mungkin tidak hafal slogan antiperundungan. Namun, mereka ingat siapa yang berdiri di samping mereka ketika semua orang menjauh.

Hal demikianlah yang dimaksud dengan ”semua anak adalah anak kita”. Dunia mereka dibangun oleh lebih banyak orang daripada yang kita bayangkan. Oleh guru yang menyapa mereka setiap pagi. Oleh orang tua yang memilih mendengar sebelum menghakimi. Oleh teman yang mengulurkan tangan. Bahkan oleh komentar yang kita tulis di media sosial. Sedikit demi sedikit, semuanya menjadi pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia.

Anak-anak mungkin tidak akan mengingat nomor sebuah peraturan menteri. Mereka juga tidak akan mengingat kampanye yang kita buat. Yang mereka ingat justru hal-hal yang sederhana. Mereka mengingat apakah ketika merasa takut ada orang dewasa yang mau mendengarkan, apakah ketika dipermalukan ada yang membela, dan apakah ketika berbuat salah mereka diberi kesempatan untuk memperbaikinya.

Setiap anak memang tumbuh di dalam keluarganya masing-masing. Namun, mereka dibesarkan oleh kebudayaan yang kita ciptakan bersama. Jika dunia yang mereka jumpai setiap hari dipenuhi rasa hormat, kepedulian, dan kasih sayang, itulah yang akan mereka anggap sebagai sesuatu yang wajar.

Sebaliknya, jika yang terus mereka temui adalah ejekan, kemarahan, dan penghinaan, itulah yang perlahan mereka pelajari. Masa depan anak-anak tidak dimulai besok. Ia dimulai dari cara kita sebagai orang dewasa memperlakukan mereka hari ini. Selamat Hari Anak Nasional.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara,...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara,...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...