Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran.
Pernyataan tersebut ditegaskan Wali Pemasyarakatan Narapidana Teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Yogyakarta, Rabu 26 Agustus 2026 lalu.
Kepala Bidang Administrasi Keamanan dan Ketertiban (Adm Kamtib) Lapas Kelas I Surabaya (Lapas Porong) ini menjelaskan bahwa profiling merupakan langkah awal yang krusial begitu WBP kasus terorisme memasuki lapas. Proses ini melibatkan pengumpulan data mendalam terkait latar belakang pribadi, keluarga, hingga jaringan yang diikuti oleh WBP kasus terorisme.
Baca juga: Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme
“Begitu WBP kasus terorisme masuk lapas, mestinya langsung diasesmen untuk kebutuhan, penempatan, dan risikonya. Namun sebelum asesmen, harus diprofil dulu agar hasilnya lebih akurat. Asesmen itu gunanya untuk mengukur atau menilai demi kepentingan pembinaan dan pengamanan, sedangkan profiling tujuannya untuk mengenal,” ujar Bambang.
Dalam paparannya, Bambang menyoroti adanya celah pemahaman di antara petugas lapas mengenai perbedaan profiling dan asesmen. Ia mengungkapkan bahwa asesmen semestinya bukan menjadi tugas utama Wali Pemasyarakatan (Waliter), melainkan fokus pada profiling harian.
Bambang mencontohkan kasus di mana hasil asesmen awal dari Polda Metro Jaya (PMJ) atau Cikeas menunjukkan indikasi “hijau” (kooperatif), namun ketika berada di lapas, perilakunya justru menunjukkan indikasi “merah” (radikal/berisiko tinggi).
Baca juga: Empat Pilar Keberhasilan Pembinaan Lapas
“Yang lebih akurat adalah profiling dari Waliter dengan mengamati perilaku mereka sehari-hari. Sumber informasi paling akurat itu ya di dalam lapas. Bahkan, sebagian penangkapan teroris di luar sana merupakan hasil dari pengembangan informasi yang berhasil digali dari dalam lapas,” ungkapnya.
Untuk menyusun profiling yang kuat, petugas dapat memanfaatkan berbagai bahan dasar, mulai dari berkas putusan pengadilan, pemberitaan media massa, hingga aktivitas di media sosial WBP kasus terorisme. (LA)
