Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan orang dengan berbagai gejolak kehidupan yang kompleks.
“Petugas harus berperan sebagai pendidik, psikolog, hingga dokter. Mereka adalah manusia-manusia super yang dibutuhkan di lapas dengan peran multitasking,” ujar Imam saat menjadi pembicara kunci Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Yogyakarta, Rabu 26 Agustus 2026 lalu.
Baca juga: Petugas Lapas Garda Terdepan Pembinaan Napiter
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas petugas Lembaga Pemasyarakatan (lapas) dalam melakukan pembinaan wargan binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme.
Mengingat besarnya tanggung jawab tersebut, Imam menegaskan bahwa seluruh bebannya tidak mungkin ditanggung sendiri oleh petugas lapas. Oleh karena itu, ia mendorong agar petugas lapas diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk membangun jejaring yang kuat dengan kelompok masyarakat sipil, seperti guru, psikolog, dokter, hingga organisasi masyarakat seperti AIDA. Ia juga mengingatkan agar pergerakan ini tidak melulu bergantung pada anggaran negara, melainkan pada kekuatan kolaborasi. (LA)
