HomeOpiniIkhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia

Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut kembali lewat kebijakan Revitalisasi Pemasyarakatan.

Tantangan terbesar muncul ketika jeruji besi harus menampung mereka yang terpapar ideologi ekstrem. Narapidana tindak pidana terorisme (napiter) bukanlah warga binaan biasa karena mereka melakukan kejahatan atas dasar ideologi ekstrem dan doktrin kekerasan. Saat ini ada 200 lebih napiter yang mendekam di sejumlah lapas di pulau Jawa dan Sumatera.

Menghadapi mereka, metode pemasyarakatan konvensional tidak lagi memadai. Petugas pemasyarakatan yang berada di garis depan membutuhkan fondasi kebijakan serta pengetahuan yang kokoh dan kepekaan nurani yang mendalam.

Kebijakan Revitalisasi Pemasyarakatan diatur secara resmi melalui Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 35 Tahun 2018 dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, yang mulai digagas pada tahun 2018 untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas dan mengoptimalkan pembinaan. Kebijakan ini mengubah sistem pembinaan napiter melalui asesmen risiko, kategorisasi tingkat keamanan Lapas, serta program deradikalisasi dan pemberian hak integrasi berbasis perubahan perilaku.

Peningkatan kapasitas petugas

Menyadari bahaya dan risiko tinggi warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme atau napiter, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) melalui Kasubdit Pembinaan Kepribadian dan Kemandirian Ditjenpas, Mohamad Maolana, A.Md.IP., S.H., M.Si., menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas para penjaga gawang pemasyarakatan. Berdasarkan temuan empiris, petugas lapas perlu dibekali pemahaman yang memadai terkait penanganan dan pembinaan napiter.

“Petugas pemasyarakatan yang memiliki kompetensi tinggi akan mendorong tercapainya target-target kinerja di bidang pembinaan dan tujuan sistem pemasyarakatan secara berkesinambungan,” ujar Mohamad Maolana saat membuka Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang dilaksanakan pada 26-27 Agustus lalu di Yogyakarta.

Untuk itu, Ditjenpas menggandeng Aliansi Indonesia Damai (AIDA), mitra strategis yang telah lama berjalan beriringan dalam memformulasikan pembinaan napiter. Kolaborasi ini telah membekali lebih dari 300 petugas pemasyarakatan di seluruh Indonesia. Mereka dilatih tidak hanya untuk mengawasi fisik, tetapi juga membaca arah ideologi dan psikologi warga binaan kasus terorisme.

Menyembuhkan luka lewat suara korban

Salah satu pilar paling menyentuh dan krusial dalam program revitalisasi pemasyarakatan ini adalah penguatan perspektif korban terorisme. Program ini membawa sebuah metode yang sarat emosi: mempertemukan para napiter dengan para penyintas atau korban bom masa lalu.

Melalui dialog kemanusiaan dan silaturahmi langsung, para napiter diajak mendengar bait-bait kisah mereka yang kehilangan anggota keluarga, mata pencaharian, atau mengalami cacat fisik permanen akibat aksi teror. Langkah ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengetuk pintu kesadaran kemanusiaan terdalam dari para pelaku. Mendengar langsung penuturan korban diharapkan dapat memicu proses kontradiksi ideologi dan meruntuhkan pembenaran atas kekerasan yang selama ini mereka yakini.

Petugas lapas dilatih secara khusus untuk membangun jembatan komunikasi dan dialog ini. Mereka juga dibekali kemampuan untuk memahami ideologi dan jaringan terorisme, penguatan wawasan kebangsaan, hingga teknik membangun hubungan interpersonal yang konstruktif dengan warga binaan napiter.

Menjadi insan perdamaian

Revitalisasi pembinaan ini berjalan tegak lurus dengan amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan. Tujuannya adalah membentuk warga binaan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, tidak mengulangi tindak pidana, dan akhirnya bertransformasi menjadi insan perdamaian yang berguna bagi pembangunan bangsa dan negara.

Melalui program yang integratif—menggabungkan rehabilitasi psikologis, reedukasi ideologi, resosialisasi, dan keterampilan kemandirian—lapas kini berikhtiar memutus mata rantai ideologi ekstrem di balik jeruji besi.

Saat para petugas lapas pulang membawa keterampilan baru dari pelatihan tersebut, harapan besar kembali tumbuh di dalam sel-sel sunyi penjara: suatu hari nanti, mereka yang pernah tersesat dalam doktrin kekerasan akan kembali ke masyarakat sebagai warga negara yang bertanggung jawab, dan mencintai perdamaian.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...