Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian.
“Konsep jihad modern diwujudkan lewat komitmen menjaga nilai-nilai kebangsaan. Jihad diwujudkan dalam menjaga prinsip-prinsip atau nilai-nilai ittihad (persatuan), al-syura (musyawarah), al-‘adalah (keadilan), al-hurriyyah ma‘a mas’uliyyah (kebebasan disertai tanggung jawab), kepastian hukum, dan jaminan haq al-`ibad (HAM),” tuturnya saat menyampaikan pembicara kunci Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara (16/09/2026).
Pelatihan digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) untuk mendorong para alim ulama membuat Gerakan nyata dalam rangka menyuburkan kedamaian di masyarakat. Sebanyak 40 alim ulama, kyai, dosen, dan ulama perempuan dari berbagai ormas keagamaan, termasuk belasan mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI) di Medan dan sekitarnya mengikuti pelatihan.
Baca juga: Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z
Kiyai Cholil mengatakan ulama memiliki tanggung jawab besar untuk membungkus pesan-pesan perdamaian ke dalam narasi yang kreatif dan ramah algoritma dan merangkul Gen Z agar menjadi pelopor gerakan perdamaian.
Salah seorang peserta dari MUI Sumatera Utara menanggapi positif pernyatan Kyai Cholil tersebut. “Dengan pesan dakwah yang sejuk di ruang digital, Gen Z dapat merawat toleransi di tanah Deli, dan meyakininya sebagai ibadah, dan menjaga perdamaian adalah bukti nyata dari iman yang mendalam,” tuturnya. [LA]
