HomeBeritaPelajaran Berharga dari Korban...

Pelajaran Berharga dari Korban dan Mantan Pelaku

Dok. AIDA – Mulyono, korban Bom Kuningan, menyampaikan kisahnya dalam Dialog Interaktif Belajar Bersama menjadi Generasi Tangguh di SMAN 1 Pajo, Dompu, Nusa Tenggara Barat (17/9/2018).

Pertengahan September lalu Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan safari kampanye perdamaian di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Di kabupaten yang dikenal sebagai penghasil susu kuda liar itu AIDA menggelar acara Seminar Kampanye Perdamaian dengan tema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di lima sekolah, yaitu SMAN 1 Pajo, SMAN 3 Dompu, SMAN 1 Manggelewa, SMAN 1 Wajo, dan SMAN 2 Wajo.

Kegiatan ini disambut antusias oleh para siswa di sekolah-sekolah tersebut. Beberapa sekolah bahkan kelebihan peserta. Sebagian siswa rela tidak mendapatkan seminar kit dan  sertifikat asalkan dapat mengikuti kegiatan tersebut.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari penuturan kisah mantan pelaku terorisme, dan korban kejahatan terorisme.

Kurnia Widodo, seorang mantan narapidana kasus terorisme, menyampaikan kisah hidupnya kepada para peserta. Ia bercerita tentang bagaimana dahulu dirinya terpapar pemahaman keagamaan yang mengajarkan kekerasan terhadap umat agama lain. Semasa SMA saat masih menetap di Lampung, karena percaya ajakan teman dia bergabung dengan kelompok yang sudah dinyatakan terlarang oleh Negara. Kehidupan penuh doktrin kekerasan dia lalui sebelum ditangkap aparat keamanan di Bandung pada 2010.

Selama di dalam masa hukuman penjara, Kurnia berintrospeksi diri. Dia mengaku banyak berdiskusi dengan orang yang lebih memahami ilmu agama ketimbang dirinya. Secara perlahan dia menyadari kekeliruan dan ketidaksesuaian doktrin dalam kelompoknya dengan ajaran agama yang luhur. Atas dorongan beberapa pihak dia akhirnya meninggalkan kelompok lamanya dan setelah keluar penjara dia berkomitmen untuk meniti jalan perdamaian.

Kurnia berpesan kepada para peserta Seminar agar mewaspadai kajian-kajian keagamaan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, serta menafikan pendapat keagamaan dari mazhab atau kelompok lain.

Ia juga menceritakan pengalamannya bertemu dengan korban terorisme dalam kegiatan AIDA. Ia mengaku salut akan kelapangan hati para korban. Dia mengatakan, meskipun korban mengalami luka serius bahkan beberapa harus kehilangan anggota keluarga namun mereka mampu ikhlas memaafkan mantan pelaku.

“Orang-orang pemaaf dan tidak mendendam inilah yang mendapatkan derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia lainnya,” ujarnya.

Para siswa peserta Seminar juga menyimak penuturan Mulyono, penyintas aksi terorisme di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004. Meski sempat terpuruk karena cedera parah pada rahangnya dan harus melakukan operasi berkali-kali, namun ia tetap memaafkan dan memilih untuk tidak mendendam.

“Orang yang mempunyai dendam di dalam hati, itu sama saja dengan membawa sampah ke mana pun ia pergi, dan itu justru menimbulkan efek negatif bagi dirinya sendiri.” kata dia.

Dari pengalaman hidup mantan pelaku para peserta dapat mencontoh sikap berani meminta maaf, mengakui kesalahan, dan istikamahnya dalam bertobat. Sementara itu, dari para korban peserta bisa belajar tentang ketangguhan, keikhlasan, pemaafan, serta semangat bangkit dari keterpurukan.

Direktur AIDA, Hasibulllah Satrawi, menekankan kepada para siswa peserta Seminar agar mengambil ibrah (pelajaran berharga) dari kisah korban dan mantan pelaku dengan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, dan tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. “Karakter seperti inilah yang menjadi nyawa kehidupan yang damai bangsa ini esok dan seterusnya,” kata dia. [SWD]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...