HomeBeritaWawasan Perdamaian Sejak Dini

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama tingkat menengah. Generasi muda diharapkan mampu menjadi duta damai. Sebab masa depan bangsa Indonesia berada di pundak pemuda. 

Deputi Direktur AIDA, Laode Arham, menyatakan hal itu saat memberikan sambutan dalam Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar AIDA, Jumat (29/01/2021) di SMK Bhinneka Karya Surakarta. Dalam pandangan Laode, pendidikan tidak hanya media untuk memperkaya pengetahuan semata, melainkan juga harus berkontribusi membangun generasi muda yang cinta damai. 

Master Kriminologi Universitas Indonesia itu mengaku prihatin atas berbagai fenomena sosial di Tanah Air yang dapat menjerumuskan masyarakat ke dalam aksi-aksi kekerasan. Berita bohong dan provokasi kebencian masih marak. Bahkan di tengah pandemi Covid-19, aksi-aksi kekerasan masih dapat ditemui di beberapa wilayah di Indonesia. 

“Kenapa ini menjadi penting dilakukan di sekolah-sekolah, karena terutama belakangan ini, bahkan di musim pandemi, masih ada pihak-pihak yang ingin menyebarkan suatu keburukan, suatu paham dan ajakan yang keliru, kemudian mengajak untuk melakukan kekerasan melalui penyebaran hoaks, berita palsu, dan segala macam,” katanya.

Menurut Laode, fenomena tersebut harus menjadi perhatian kolektif agar persoalan yang ada tidak sampai membawa masyarakat pada tindakan kekerasan. Jika tidak disikapi serius, narasi kebencian dan provokasi kekerasan dapat menimbulkan chaos. Dampak terjauhnya adalah negara bisa “bubar” seperti di Timur Tengah.  

Ia lantas mengajak generasi muda untuk belajar dari ketangguhan mantan teroris yang telah insaf dan juga dari korbannya. Dari kisah kedua belah pihak, Laode berharap generasi muda dapat mengambil pembelajaran, terutama dampak buruk akibat aksi-aksi kekerasan. “Kita penting menyikapinya dari mantan pelaku kekerasan dan korbannya. Dari korban nanti kita belajar bila tertimpa musibah, kita bisa mengambil hikmah dan bangkit menjadi pribadi yang lebih tangguh,” ujarnya.

Sementara dari kisah mantan pelaku, generasi muda diharapkan mampu menghindari paham-paham yang dapat membawa pada tindakan kekerasan. “Kita bisa belajar mengantisipasi hal-hal buruk yang dapat merusak masa depan kita, sehingga tidak terjebak ke dalam suatu pemahaman yang keliru dan masuk pada kelompok yang menyesatkan, yang mengajak pada kekerasan atas nama agama atau atas nama apa pun,” tuturnya.

Dalam kegiatan ini, AIDA menghadirkan Sudirman Thalib, korban Bom Kuningan 2004, dan Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme, untuk berbagi kisah masing-masing kepada puluhan siswa yang mengikuti kegiatan secara daring. (AH)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Previous article
Next article

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Nyoman Rencini, Menjadi Ibu Sekaligus Bapak

“Ipar saya datang membawa kabar bahwa suami saya tidak kembali,” ujar Nyoman Rencini mengenang kabar mengenai suaminya, Ketut Sumerawat yang menjadi korban ledakan bom Bali pada 12 Oktober 2002 silam.

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...