HomeOpiniMenjaga Relevansi Program Studi...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026

Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai.

Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berangkat dari keprihatinan yang tepat. Pertanyaannya kemudian, apakah penutupan program studi adalah jawaban, atau mungkin ada pendekatan lain yang lebih strategis?

Penutupan memang bisa menjadi salah satu opsi. Akan tetapi, sebelum sampai ke sana, ada jalan yang jauh lebih menjanjikan, yaitu transformasi dan integrasi keilmuan.

Relevansi sebuah program studi tidak bisa diukur sekali jadi, lalu diketuk palu. Sebab, hal ini membutuhkan kemampuan menyesuaikan diri yang harus dirawat terus-menerus. Banyak ilmu yang tampak sepi peminat hari ini, ternyata menjadi penyelamat di kemudian hari.

Epidemiologi yang dulu dianggap bidang sempit, terbukti menyelamatkan jutaan nyawa saat pandemi Covid-19. Geofisika menjadi tulang punggung mitigasi bencana iklim. Matematika dasar, yang kerap disebut tidak praktis, justru melahirkan kecerdasan buatan yang kini mengubah dunia.

Sastra adalah contoh lain yang menarik. Sekilas, jurusan ini terlihat jauh dari kebutuhan industri. Akan tetapi, di era kecerdasan buatan, kemampuan memahami nuansa bahasa, budaya, dan cerita manusia justru menjadi langka sekaligus berharga.

Perusahaan teknologi global aktif merekrut lulusan linguistik dan sastra untuk melatih model bahasa, menerjemahkan konten lintas budaya, dan merancang antarmuka yang lebih manusiawi.

Industri kreatif, dunia diplomatik, dan komunikasi tidak akan berfungsi tanpa fondasi literasi yang hanya bisa dibangun lewat pendidikan humaniora yang serius.

Kolaborasi lintas ilmu

Tantangan abad ke-21 adalah krisis pangan, perubahan iklim, gangguan digital, transisi energi, isu yang tidak bisa dijawab oleh hanya satu disiplin ilmu. Yang dibutuhkan adalah ekosistem pendidikan yang mendorong kolaborasi lintas bidang.

Sejumlah negara sudah lebih dulu mengambil arah ini. Jerman, lewat program Excellence Strategy, mendanai puluhan kluster riset lintas universitas untuk memperkuat keunggulan ilmiah sekaligus menjaga keragaman keilmuan.

Austria melangkah lebih jauh: Interdisciplinary Transformation University meluncurkan program magister yang menggabungkan kompetensi digital dengan ilmu sosial, psikologi, kedokteran, dan seni. Peminatnya datang dari puluhan negara, dengan tingkat seleksi yang ketat.

Lembaga pemeringkatan Times Higher Education bahkan kini menerbitkan peringkat khusus untuk riset lintas disiplin, dengan ratusan universitas dari puluhan negara sebagai peserta.

Sejumlah perguruan tinggi Indonesia masuk dalam daftar tersebut, termasuk IPB University yang berada di peringkat ke-42 dunia dalam pemeringkatan ini. Ini menjadi pertanda bahwa pendekatan lintas disiplin bukan tren sesaat, melainkan arah yang sudah disepakati dunia akademik global.

Integrasi minat dan relevansi

Kebijakan eliminasi program studi di perguruan tinggi memang perlu dikaji ulang. Salah satu risiko dari pendekatan yang terlalu menekankan langkah ini adalah hilangnya hak mahasiswa untuk berkembang sesuai minat dan bakat. Dalam jangka panjang, pendidikan yang mengabaikan dimensi ini akan menghasilkan lulusan yang kering daya cipta.

Sebaliknya, pengambil kebijakan perlu menempuh pendekatan yang lebih menekankan pada integrasi dalam transformasi program studi.

Pertanian cerdas adalah contoh nyata. Dengan menggabungkan pertanian, kecerdasan buatan, Internet of Things, dan analitik data, pendekatan ini menjawab tekanan pangan Asia di tengah keterbatasan lahan dan iklim yang berubah. Sensor, drone, dan analisis data kini dipakai untuk menentukan waktu tanam, memantau kondisi tanah, hingga memprediksi panen secara presisi.

Bioinformatika adalah contoh lain. Dengan memadukan biologi, komputasi, dan data raksasa, bidang ini menjawab tantangan kesehatan dan ketahanan pangan sekaligus. Solusinya hanya bisa lahir dari kerja bareng ahli biologi, ilmu komputer, teknik, dan ilmu sosial.

Hasilnya jelas terlihat dari analisis genom, pengembangan obat, hingga deteksi dini penyakit. Universitas-universitas terkemuka di dunia membuka program ini karena permintaan industri terus tumbuh, mulai dari farmasi, lembaga riset, hingga pemerintah.

Yang menarik, program-program semacam ini justru diminati mahasiswa. Bukti bahwa relevansi dan minat tidak harus dipertentangkan.

Memilih jalan yang lebih bijak

Peningkatan relevansi tidak selalu butuh restrukturisasi besar. Pembaruan kurikulum yang tanggap perubahan teknologi, penguatan keterampilan masa depan, dimulai dari literasi data, berpikir sistem, hingga kerja sama lintas bidang, dan kemitraan yang sungguh-sungguh dengan industri adalah instrumen yang sama kuatnya.

Perguruan tinggi yang berhasil bertransformasi umumnya tidak memilih antara akademik murni dan orientasi industri. Mereka membangun jembatan di antara keduanya dengan menjaga fondasi keilmuan sambil terus terbuka pada kebutuhan dunia kerja yang berubah.

Semangat pembenahan yang digulirkan pemerintah patut disambut. Akan tetapi, agar kebijakan ini benar-benar memperkuat ekosistem pendidikan tinggi, prasyaratnya jelas: evaluasi yang berkala, data yang lengkap, dan dialog terbuka antara kementerian, perguruan tinggi, industri, dan pemangku kepentingan lain.

Pada akhirnya, perguruan tinggi yang hebat bukan yang paling sedikit program studinya, melainkan yang paling lincah memadukan ilmu, paling tanggap pada perubahan zaman, dan paling berani berinovasi dalam mendidik generasi penerus.

Transformasi yang berbasis kajian mendalam, dilakukan bertahap, dan melibatkan semua pihak, itulah jalan yang lebih bijak bagi masa depan pendidikan tinggi Indonesia.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus...

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...