HomeOpiniMendesain Pendidikan Kemanusiaan di...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI

Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026

TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan teknologi seperti artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah memberikan tantangan tersendiri bagaimana masa depan manusia di tengah pesatnya teknologi, apakah manusia mampu mengendalikan teknologi atau tunduk pada teknologi.

Di berbagai sektor, hampir semua bidang telah digunakan teknologi untuk membantu proses kerja lebih cepat dan akurat. Meski tidak menutup kemungkinan terdapat kelemahannya, teknologi modern saat ini menjadi ‘jalan utama’ dalam menyelesaikan masalah. Dalam konteks pendidikan, siswa atau mahasiswa saat mengerjakan tugas hampir ‘menyerahkan sepenuhnya’ kepada mesin algoritma seperti AI generatif untuk menyelesaikan tugas. Di sisi lain, dosen juga memeriksa tugas mahasiswa berbasis AI. Jadilah AI versus AI.

Lalu, bagaimana masa depan pendidikan kemanusiaan jika dalam urusan pendidikan sudah ditaklukkan oleh teknologi, apakah manusia akan menjadi penonton pergulatan mesin atau robot seterusnya? Tidak dapat dimungkiri, kemajuan teknologi telah membawa perubahan pada mindset, sikap, dan perilaku manusia. Dalam konteks pendidikan sangat terasa betapa nilai-nilai kemanusiaan telah tergerus karena teknologi dianggap dapat menggantikan peran pendidik (guru atau dosen). Padahal, pendidikan tidak sekadar persoalan transformasi pengetahuan, tetapi juga menjamah pada dimensi kemanusiaan secara holistik.

Teknologi merupakan salah satu produk karya manusia. Akan tetapi, teknologi juga dapat ‘menjajah’ pikiran manusia sehingga manusia manut begitu saja pada teknologi. Hal ini bisa dilihat dalam upaya mendidik dan membelajarkan pengetahuan di sekolah atau bangku kuliah, teknologi ‘bersaing’ dengan kecerdasan guru atau dosen. Mahasiswa pun banyak yang pasrah sepenuhnya kepada AI untuk mengerjakan tugas dan tugas akhir. Sejumlah dosen juga menyerahkan kepada AI untuk menyusun artikel yang dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi dalam berbagai bidang tidak bisa dibendung karena hal itu menandai bahwa manusia telah berpikir dan mendayagunakan pikirannya sebagai tanda bahwa manusia itu hidup. Sebagaimana Rene Descartes: aku berpikir maka aku ada. Artinya, kalau manusia tidak menggunakan pikirannya, dianggap tidak ada.

Persoalannya ialah ketika produk karya manusia berupa teknologi ‘menjajah’ pikiran manusia secara total. Maka, yang terjadi ialah manusia akan menyerah atau tunduk sepenuhnya pada teknologi. Hal demikian dapat mendistorsi kemanusiaan karena membuat manusia merasa ‘tidak perlu’ berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS).

Ketika dahulu ditemukan mesin kalkulator, itu menjadi tantangan bagi guru matematika bahwa mengajarkan berhitung dianggap tidak penting lagi karena telah tersaingi oleh teknologi mesin kalkulator. Akan tetapi, karena membelajarkan berhitung tidak hanya terkait dengan kognitif atau pengetahuan, maka pelajaran berhitung tetap diajarkan hingga sekarang sejak pendidikan dasar. Hal itu karena membelajarkan berhitung dapat dijadikan instrumen dan cara untuk membentuk afektif atau sikap kejujuran siswa secara langsung meski mesin kalkulator secara kognitif telah sukses ‘menggantikan pikiran’ untuk menghitung.

Lalu, bagaimana dengan teknologi mutakhir saat ini, seperti AI dalam berbagai variannya yang tidak hanya menggantikan manusia dalam urusan berhitung seperti mesin kalkulator. Hampir semua pekerjaan di berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, perbankan, dan sebagainya diserahkan kepada AI, bahkan dalam bidang olahraga dan strategi pertandingan cabang-cabang olahraga berbasis AI.

Pendidikan yang Memanusiakan

Mendidik berarti mencerdaskan pikiran manusia agar tumbuh aktif dan kritis (HOTS). Mendidik juga berarti membentuk sikap dan perilaku manusia agar menjadi lebih humanistis dan agamais. Bagaimana tantangan saat ini jika proses mendidik di era disrupsi yang sarat dengan pemanfaatan teknologi?

Kalau urusan mendidik dalam arti transfer of knowledge atau pengetahuan saja, AI dapat dijadikan instrumen untuk menggantikan, meskipun hal itu dapat mendistorsi akal pikiran manusia jika menyerahkan sepenuhnya kepada teknologi. Seperti hasil riset yang dilakukan oleh Massachussetts Institute of Technology (MIT), yang menemukan dampak negatif jangka panjang bagi proses berpikir manusia dan mengalami kemerosotan dalam aktivitas berpikir kritis karena ketergantungan pada AI.

Lalu bagaimana dengan mendidik dalam arti membentuk sikap dan perilaku manusia? Apakah AI dapat menggantikannya? Persoalan inilah yang menjadi tantangan berat dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini. Mengapa? di era revolusi industri 4.0 makna pendidikan telah mengalami pergeseran menjadi sempit, dari kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagaimana pandangan Bloom menjadi kognitif. Teknologi tidak mampu menjamah dimensi emosional, sosial, dan spiritual. Posisi teknologi dalam pendidikan dihadirkan untuk menjadi asisten dalam mengakses bahan dan sumber belajar dengan mudah, bukan untuk menggantikan peran guru, dosen, dokter, dan profesi lainnya.

Di antara desain yang dapat dilakukan agar pendidikan kemanusiaan tetap terjaga dengan baik di era disrupsi, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, menjadikan manusia sebagai aktor utama dalam pendidikan, bukan teknologi. Kedua, menghadirkan proses pembelajaran konvensional ke ruang kelas secara langsung, baik indoor maupun outdoor. Ketiga, memberdayakan potensi yang ada pada diri siswa, seperti mengerjakan tugas dengan cara menulis dengan tangan secara langsung meskipun sumber belajar berbasis digital tetap digunakan untuk mencari bahan dan memperkaya referensi. Dengan menulis tangan secara langsung dapat membuat otak manusia bekerja atau berpikir aktif dan kritis karena terlibat dalam aktivitas membaca dan menulis.

Hal demikian berbeda ketika tugas diserahkan kepada AI, hanya klik tool dengan kata kunci tertentu, akan muncul deskripsi atau narasi tanpa membaca secara utuh, alih-alih menulis ulang, karena semuanya dianggap sudah jadi. Di era disrupsi saat ini, tantangannya ialah menjadikan pendidikan kemanusiaan sebagai arus utama dalam konteks pendidikan dan pembelajaran dengan memosisikan manusia sebagai peran utama dalam pembelajaran, karena urusan pendidikan menyangkut berbagai dimensi kemanusiaan secara holistik, tanpa mengabaikan peran teknologi untuk membantu.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...