HomeOpiniErosi Otoritas Ilmiah

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026

Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains dalam ruang publik. Gejala ini tampak ketika data dan hasil riset semakin sering dikalahkan oleh opini, kepentingan politik, dan arus informasi yang belum tentu benar.

Pengetahuan ilmiah tidak lagi menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan, sementara kepercayaan terhadap para ahli dan lembaga ilmiah terus melemah. Jika dibiarkan, keadaan ini tidak hanya menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menggerus kualitas demokrasi.

Fenomena tersebut bukanlah persoalan yang hanya dihadapi Indonesia. Sejumlah negara maju dengan tradisi demokrasi dan sains yang kuat pun pernah mengalami erosi otoritas ilmiah. Di Amerika Serikat, perdebatan mengenai perubahan iklim, vaksinasi, dan penanganan pandemi Covid-19 menunjukkan bagaimana temuan ilmiah dapat terseret ke dalam polarisasi politik sehingga diperlakukan sebagai pilihan ideologis, bukan sebagai hasil proses ilmiah. Di Inggris, slogan people have had enough of experts yang mengemuka pada referendum Brexit menjadi simbol menurunnya kepercayaan terhadap otoritas keilmuan.

Pengalaman itu menunjukkan, bahkan demokrasi yang mapan pun dapat mengalami kemunduran. Hal itu ketika politik identitas, populisme, dan disinformasi lebih dominan daripada penghormatan terhadap bukti.

Dalam konteks itulah, antisains tidak dapat dipahami sekadar sebagai penolakan pada ilmu pengetahuan. Dalam perspektif politik dan sosiologi pengetahuan, antisains merupakan proses ketika otoritas pengetahuan—baik sains modern maupun pengetahuan lokal yang telah teruji—secara sistematis dilemahkan atau digantikan oleh kepentingan politik, identitas, dan kekuasaan. Akibatnya, keputusan publik lebih ditentukan oleh legitimasi politik daripada bukti empiris.

Antisains, dengan demikian, bukanlah sebuah keadaan, melainkan proses sosial-politik yang mengikis fondasi rasional demokrasi.

Proses itu berlangsung secara bertahap. Mula-mula terjadi delegitimasi sains, ketika hasil penelitian mulai diragukan dan para ilmuwan dipersepsikan memiliki kepentingan tertentu. Tahap berikutnya berkembang menjadi politik antipengetahuan, yaitu ketika pertimbangan politik dan ekonomi lebih menentukan arah kebijakan daripada bukti ilmiah.

Situasi ini kemudian memunculkan erosi otoritas ilmiah. Bahkan, dalam beberapa kasus berkembang menjadi epistemic capture, ketika produksi pengetahuan dipengaruhi oleh kepentingan politik maupun ekonomi. Bersamaan dengan itu, epistemic populism menguat melalui anggapan bahwa ”akal sehat rakyat” lebih sahih daripada hasil penelitian. Sementara epistemic authoritarianism menempatkan penguasa sebagai sumber utama kebenaran.

Tidak jarang proses tersebut disertai knowledge suppression, yakni pembungkaman terhadap informasi yang dianggap mengganggu kepentingan dominan, serta manufactured ignorance (agnotology), ketika keraguan dan ketidaktahuan sengaja diproduksi di ruang publik.

Pada akhirnya, seluruh rangkaian tersebut bermuara pada post-truth politics, yaitu keadaan ketika emosi, identitas, dan loyalitas politik lebih menentukan opini publik daripada fakta yang dapat diverifikasi.

Dalam praktiknya, antisains berkembang melalui lima tahapan yang saling berkaitan. Pertama, muncul ketegangan antara bukti ilmiah dan kepentingan politik atau ekonomi. Ketika hasil penelitian dianggap mengancam kepentingan elite, investasi, atau legitimasi kekuasaan, temuan ilmiah mulai dipersoalkan.

Kedua, otoritas ilmiah didelegitimasi dengan cara meragukan integritas akademisi, menyebut data sebagai rekayasa, atau mengecap lembaga penelitian sebagai tidak netral. Ketiga, narasi alternatif diproduksi melalui opini, rumor, mitos, dan pengalaman pribadi yang ditempatkan setara, bahkan lebih tinggi daripada bukti ilmiah. Media sosial mempercepat proses ini melalui penyebaran informasi belum terverifikasi.

Keempat, institusi politik mulai mengadopsi narasi tersebut sehingga kebijakan tidak lagi disusun berdasarkan evidence-based policy, melainkan atas dasar kalkulasi elektoral, tekanan kelompok, atau kepentingan ekonomi. Kelima, masyarakat kehilangan kepercayaan pada sains. Siklus inilah yang memperkuat polarisasi politik sekaligus melemahkan kapasitas negara dalam menyelesaikan persoalan publik secara rasional.

Sangat berbahaya

Dalam demokrasi, gejala tersebut sangat berbahaya. Demokrasi memang memberikan kebebasan kepada setiap warga untuk menyampaikan pendapat, tetapi demokrasi tidak pernah dimaksudkan sebagai ruang yang menyamakan semua pendapat dengan fakta. Ketika popularitas lebih dihargai daripada kebenaran empiris, opini menggantikan bukti, algoritma media sosial menggantikan proses ilmiah, dan emosi kolektif mengalahkan rasionalitas, saat itulah demokrasi bergeser menjadi post-truth democracy, yaitu demokrasi yang kehilangan fondasi epistemiknya.

Pandangan Michel Foucault membantu menjelaskan mengapa fenomena tersebut terus berulang. Pengetahuan dan kekuasaan memang selalu saling berkaitan. Akan tetapi, masalah muncul ketika hubungan itu berubah menjadi dominasi sepihak. Semula, sains menghasilkan bukti yang berfungsi mengoreksi dan membatasi kekuasaan. Dalam situasi antisains, hubungan tersebut berbalik, kekuasaan menentukan apa yang dianggap benar, lalu mengendalikan produksi pengetahuan agar sesuai dengan kepentingannya. Penelitian didanai secara selektif, data yang tidak menguntungkan disembunyikan, sementara narasi yang mendukung kekuasaan diperkuat melalui berbagai saluran komunikasi.

Karena itu, mengatasi erosi otoritas ilmiah tidak cukup dengan memperbanyak penelitian atau meningkatkan publikasi akademik. Yang lebih mendasar adalah membangun kembali kepercayaan antara sains, negara, dan masyarakat. Pemerintah perlu menempatkan bukti ilmiah sebagai dasar penyusunan kebijakan publik. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian harus menjaga independensi serta integritasnya agar tetap memperoleh legitimasi publik.

Media massa perlu mengembalikan fungsi verifikasi, sedangkan platform digital harus lebih bertanggung jawab dalam membatasi penyebaran disinformasi tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi.

Pada saat yang sama, Indonesia tidak perlu mempertentangkan tradisi dengan sains. Sejarah Nusantara justru menunjukkan bahwa masyarakat memiliki warisan pengetahuan empiris yang kaya, mulai dari pranata mangsa di Jawa, sistem Subak di Bali, hingga pengetahuan navigasi masyarakat Bugis-Makassar. Pengetahuan lokal tersebut lahir dari pengamatan yang panjang terhadap alam dan dapat diperkaya melalui metode ilmiah modern. Yang perlu ditolak bukanlah tradisi, melainkan kecenderungan menjadikan kekuasaan sebagai penentu kebenaran.

Ancaman terbesar antisains bukan terletak pada kemundurannya terhadap ilmu pengetahuan, melainkan pada kemampuannya mengubah cara demokrasi bekerja. Ketika bukti tidak lagi menjadi dasar pengambilan keputusan, dan kebenaran ditentukan oleh kekuasaan, popularitas, atau mobilisasi identitas, demokrasi kehilangan kompas rasionalnya.

Memulihkan otoritas ilmiah karena itu bukan sekadar agenda akademik, melainkan prasyarat untuk menjaga kualitas demokrasi dan masa depan kebijakan publik di Indonesia.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...