HomeOpiniBuku SNI dan Politik...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta
Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026

Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123 sejarawan dari puluhan perguruan tinggi.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, negara hanya sebagai fasilitator, substansi diserahkan penuh kepada para ahli, ”tak satu lembar pun” naskah diubah demi menjamin kebebasan akademik. Klaim itu terdengar meyakinkan. Namun, ia menyimpan paradoks yang layak kita renungkan, mungkinkah sebuah ”sejarah resmi” yang dipesan, dibiayai, dan dibingkai negara sungguh-sungguh bebas?

Dorongan menulis sejarah resmi bukan hal ganjil. Hampir setiap negara memiliki narasi kebangsaan dan kurikulum; negara membiayai arsip dan sekolah, maka sejumlah kurasi tak terhindarkan. Tujuan proyek ini pun sebagian sah secara ilmiah. Ia memperbarui historiografi yang lama tak diremajakan dan melepaskan diri dari bias kolonial lewat perspektif yang lebih Indonesia-sentris. Sampai di sini, tidak ada yang keliru.

Persoalan muncul bukan pada niat memperbarui, melainkan pada godaan tafsir tunggal. Ini tampak dari doktrin yang pernah dilontarkan sang menteri sendiri bahwa sejarah hendak ditulis dengan ”tone yang lebih positif” sebab mencari-cari kesalahan tiap zaman itu mudah.

Baca juga: Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Doktrin itu menajam ketika, di ruang publik, Fadli menyebut pemerkosaan massal Mei 1998 sekadar sebuah rumor. Padahal, Tim Gabungan Pencari Fakta kasus hampir 30 tahun lalu itu telah mencatat puluhan kekerasan seksual, Presiden Habibie mengakuinya, dan Komnas Perempuan justru lahir sebagai responsnya.

Di titik itu, kita menyentuh pembedaan mendasar antara historiografi dan memori. Sejarah sebagai ilmu berpijak pada bukti, terbuka pada bantahan, dan selalu bisa direvisi. Memori kolektif bekerja lain, yakni melayani identitas, bersifat afektif, memilih apa yang dikenang dan apa yang dilupakan. Ketika negara menuntut ”tone positif”, ia diam-diam menggeser sejarah dari wilayah ilmu ke wilayah mitos. Dan, mitos, betapapun megah, rapuh. Ia runtuh begitu fakta yang ditekan muncul ke permukaan.

Kebenaran yang diuji

Bagi Indonesia yang majemuk, sejarah satu suara bukan hanya keliru secara ilmiah, melainkan berisiko secara politik. Bangsa ini dirajut dari ratusan etnis, bahasa, dan pengalaman lokal yang tak selalu sejalan dengan narasi pusat. Satu versi yang diseragamkan cenderung meminggirkan ingatan yang tak nyaman, seperti korban, minoritas, dan daerah yang kalah, yang dengan begitu justru melemahkan, bukan menguatkan, rasa kebersamaan.

Pengalaman rezim mengajarkan hal ini dengan mahal. Orde Baru pernah memonopoli sejarah berupa narasi tunggal seputar G30S dan historiografi yang dikawal Nugroho Notosusanto menjadikan masa lalu alat legitimasi kekuasaan. Reformasi lahir, antara lain, dari pembongkaran monopoli itu. Maka, ganjil apabila, dua dekade kemudian, kita tergoda memugar satu kanon resmi yang baru.

Cermin mutakhir datang dari Rusia. Sejak 2023 sekolah menengahnya memakai satu buku teks tunggal yang dirancang menumbuhkan patriotisme. Dan, mulai tahun ini keseragaman itu diperluas ke jenjang lebih rendah.

Pejabatnya berkata terus terang bahwa tak ada sejarah alternatif, sebagaimana tak seorang pun bisa punya orangtua yang berbeda. Penulis utamanya bahkan berkredo bahwa sejarah yang ditulis oleh pencinta Tanah Air akan selalu positif, sebuah gema yang mengganggu dari doktrin ”tone positif” kita.

Namun, keseragaman bukan takdir setiap negara. Perancis, sebuah negara demokrasi, pada 2005 sempat mewajibkan pengajaran ”peran positif” kolonialisme; para sejarawan memberontak dan pasal itu dicabut. Jerman menempuh jalan sebaliknya, negara giat merawat ingatan atas kejahatan masa lalu, tetapi tafsirnya dibiarkan diperdebatkan secara terbuka, seperti pada Historikerstreit. Pelajarannya jelas bahwa negara boleh menjamin agar bangsa mengingat, tanpa mendiktekan satu vonis ilmiah.

Di situlah letak jalan yang benar. Peran sah negara adalah sebagai penjamin syarat, bukan pengarang vonis, yaitu membiayai riset dan arsip, membuka akses, menopang kemajemukan suara, serta melindungi hak untuk berbeda dan merevisi. Yang tidak sah adalah memaksakan satu tafsir, menyembunyikan fakta yang menyakitkan, dan memakai kata ”fasilitasi” sebagai selubung pembingkaian.

Klaim ”tak mengubah satu lembar pun” mengaburkan intervensi yang paling halus sekaligus paling kuat. Intervensi kuasa atas kerangka, atas siapa yang menulis, atas apa yang ditonjolkan dan apa yang diredupkan.

Ukuran sejarah nasional yang sehat bukan hadirnya satu buku otoritatif, Namun, dengan hidupnya perdebatan berakar dari banyak buku, arsip terbuka, pembangkang yang terlindungi, tafsir yang bisa diperbarui. Narasi bersama tetap perlu, tetapi sebagai konsensus tipis atas fakta dan pluralisme tebal atas tafsir, bukan monolit yang dipaksakan.

Bangsa yang percaya diri tidak takut pada sejarahnya sendiri, termasuk pada halaman-halaman yang kelam. Justru keberanian menatap luka (1965, 1998, dan seterusnya) menjadi bukti penanda kedewasaan sebuah republik. Sejarah yang layak bagi Indonesia yang majemuk bukanlah sejarah satu suara, melainkan sejarah yang berani bersuara banyak.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...