HomeBeritaMenguatkan Filter Mahasiswa

Menguatkan Filter Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Mahasiswa merupakan penerus dan ujung tombak pembangunan bangsa di masa depan. Keberlangsungan negeri ini juga menjadi tanggung jawab para mahasiswa. Karena besarnya peran tersebut, mahasiswa harus bisa memfilter semua pembelajaran yang ia dapatkan.

“Tidak ada batasan sebenarnya untuk kita belajar. Mau belajar apa pun, silakan itu dipelajari. Namun jika sesuatu yang kita pelajari itu sudah mengarahkan pada kekerasan, mari kita koreksi kembali,” ujar Rusdi Arifin, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, dalam diskusi bertema “Mengukuhkan Peran Mahasiswa dalam Membangun Perdamaian” yang digelar AIDA di Bukittinggi, Sumatera Barat, akhir Oktober silam.

Baca juga Merangkul untuk Perdamaian

Rusdi merupakan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang digelar AIDA beberapa waktu sebelumnya di Padang. Dalam kesempatan itu, ia bisa menyimak langsung kisah beberapa mantan pelaku terorisme dan korbannya.

Dari kisah mantan pelaku terorisme, Rusdi menangkap pembelajaran bahwa terorisme merupakan paham yang sangat berbahaya, lebih bahaya dari penyakit komplikasi. Tidak tertutup kemungkinan siapa pun bisa terpapar paham terorisme. Paham ini juga dapat menimbulkan korban yang bahkan sampai sekarang masih merasakan sakit dan penderitaan akibat serangan teror.

Baca juga Mengokohkan Misi Perdamaian Mahasiswa

Pada kesempatan kegiatan kali ini, Rusdi bertindak sebagai narasumber diskusi yang dihadiri oleh puluhan aktivis mahasiswa UIN Bukittinggi. Ia menekankan agar mahasiswa sebagai agent of change harus bisa mengedukasi diri sendiri supaya terhindar dari paham kekerasan dan mau terlibat dalam membangun Indonesia yang lebih damai.

Lebih lanjut Rusdi mengungkapkan kekagumannya dengan kebesaran jiwa korban terorisme. Sebagian korban harus kehilangan anggota tubuh atau orang yang dicintainya namun bisa memaafkan dan berteman dengan para mantan pelaku.

Baca juga Melestarikan Perdamaian di Kampus

“Kok bisa ya berbesar hati memaafkan orang yang telah mencelakai hidupnya atau keluarganya? Teman-teman kalau ketemu mantan (pacar)-nya gimana rasanya? Pasti masih sakit kan? Padahal itu disakiti dari hati. Sedangkan para korban ini bukan hanya dari hati lagi sakitnya,” ujarnya.

Dari kisah korban, Rusdi menegaskan pentingnya menjadi pribadi yang tangguh, pemaaf, dan mampu bangkit dari keterpurukan. [YNWH]

Baca juga Ketua DEMA FS UIN Batusangkar: Jangan Balas Ketidakadilan dengan Kekerasan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....