HomeBeritaMerangkul untuk Perdamaian

Merangkul untuk Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Terorisme memang kejam dan menimbulkan mudarat, apalagi jika dilihat dari perspektif korbannya. Kendati demikian, sebagai upaya mencegah aksi terorisme terulang, maka penting bagi kita untuk merangkul pihak-pihak yang terkait, baik korban maupun pelaku yang sudah bertobat.

Peryataan tersebut disampaikan oleh Dewi Anggraini, Ketua Program Studi S1 Ilmu Politik FISIP Univesitas Andalas (Unand) Padang saat menghadiri diskusi bertema “Mengukuhkan Peran Mahasiswa dalam Membangun Perdamaian”, yang digelar AIDA akhir Oktober silam. Kegiatan dihadiri oleh 114 peserta dari Unand dan beberapa kampus lain di Sumatra Barat.

Baca juga Mengokohkan Misi Perdamaian Mahasiswa

Dalam hemat Dewi, penting untuk merangkul orang-orang yang pernah terjerumus dalam jaringan kekerasan. Kerapkali pelaku-pelaku yang sudah bertobat mendapatkan stigmatisasi di tengah masyarakat. Termasuk keluarganya juga dicap sebagai keluarga teroris.

“Kita ingin membuka wawasan ini juga kepada mahasiswa. Agar mahasiswa juga terbuka bahwa ada orang yang dahulu pernah salah langkah, ketika dia sudah bertobat dan kembali kepada masyarakat itu seharusnya tidak dijauhi, tapi dirangkul. Supaya mereka tidak kembali lagi melakukan kegiatan yang menurut aturan kita itu melanggar hukum” katanya tegas.

Baca juga Melestarikan Perdamaian di Kampus

Salah satu narasumber kegiatan ini adalah Muhammad Habibi Ezyoni, alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa, yang dilaksanakan AIDA beberapa waktu sebelumnya. Ia menceritakan keharuannya saat menyaksikan pertemuan antara korban dan mantan pelaku terorisme.

“Ketika kami dihadirkan korban terorisme dan mantan pelaku terorisme secara bersama-sama, menurut kami waktu itu sangat mustahil. Mungkin bisa kita bayangkan di kehidupan kita kan, teman-teman. Kita sebagai mahasiswa mungkin ada yang berbeda pandangan, bisa jadi sampai bermusuhan, lama tidak bersapaan,” ucapnya.

Baca juga Ketua DEMA FS UIN Batusangkar: Jangan Balas Ketidakadilan dengan Kekerasan

Pelajaran yang disampaikan Habibi dari kisah pertemuan korban dan mantan pelaku tersebut adalah pentingnya saling memaafkan demi terciptanya perdamaian. “Mari kita lihat korban dan mantan pelaku yang bahkan bisa saling bermaafan, duduk bersampingan, teman-teman. Sudah sejatinya kita sebagai mahasiswa bisa mempraktikkan perdamaian,” katanya.

Habibi menegaskan, perdamaian bisa dimulai dari yang sederhana, yakni dalam interaksi kita dengan orang-orang di sekitar kita. “Bagaimana dalam diri kita ada muncul rasa dengki, iri, atau ada niat dendam kepada orang lain, itu harus kita hilangkan, teman-teman,” ucapnya memungkasi. [FKR]

Baca juga Bangsa Kuat karena Perbedaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...