HomeBeritaMembenihkan Karakter Damai

Membenihkan Karakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Beberapa waktu lalu, AIDA menggelar safari perdamaian di lima sekolah di kota Surakarta, Jawa Tengah. Salah satu yang dikunjungi adalah SMAN 2 Surakarta. Dalam kesempatan ini AIDA menghadirkan narasi ketangguhan korban terorisme dan mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Kegiatan diikuti oleh sekitar 80 siswa SMAN 2 Surakarta dari berbagai kelas dan jurusan.

Pihak sekolah mengapresiasi kegiatan ini sebagai salah satu ikhtiar menanamkan karakter positif pada remaja. Maryadi, Kepala SMAN 2 Surakarta, menilai, kegiatan ini tidak hanya menambah khazanah intelektual peserta, tetapi juga mampu membentuk karakter yang baik. Karenanya ia meminta anak-anak didiknya agar mengikuti kampanye perdamaian ini dengan serius.

Baca juga Menginspirasikan Ketangguhan di SMAN 2 Surakarta

“Kami tidak cuma meningkatkan nilai kalian untuk ke perguruan tinggi. Tapi kami juga ingin kalian kuat dalam pendidikan karakter. Contohnya kepedulian, baik untuk diri sendiri, keluarga, atau sesama. Maka dari itu kegiatan ini harus kalian ikuti dengan sungguh-sungguh. AIDA datang ke sini bermaksud agar kalian peduli terhadap sesama,” tutur Maryadi.

Dalam sambutannya, Muhammad Maghfurrodhi, perwakilan AIDA, menekankan pentingnya perdamaian. Bagi sebagian orang, menciptakan perdamaian mungkin terdengar utopis, sebab kekerasan demi kekerasan terus terjadi di mana pun. Tapi jika hal ini dibiarkan, dan manusia menyerah dalam mengupayakannya, maka perdamaian bisa benar-benar hilang.

Baca juga Empati Terhadap Korban Terorisme

Menurut Maghfur, sapaan akrabnya, di antara tantangan perdamaian adalah aksi terorisme yang banyak terjadi di Indonesia. Pada tahun 2002, ada kasus Bom Bali. Di tahun 2003, terjadi kasus Bom Hotel Marriot di Jakarta. Di tahun 2004, terjadi kembali kasus terorisme di depan Kedubes Australia di Jakarta. “Kasus itu terus berulang sampai beberapa tahun berikutnya,” ujarnya menerangkan.

Ia lantas menceritakan sekilas dampak yang ditimbulkan dari aksi-aksi terorisme itu, terutama bagi para korbannya. “Ada yang meninggal dunia, ada yang terluka sampai kehilangan organ tubuh, ada keluarga yang kehilangan tulang punggungnya, dan munculnya anak-anak yatim baru. Dalam kegiatan ini, teman-teman akan menyaksikan sendiri dampak dari aksi bom itu,” kata Maghfur.

Baca juga Membekali Pelajar dengan Karakter Ketangguhan

Dipicu oleh tantangan itu, Maghfur mengungkapkan bahwa AIDA mendatangi para pemuda di seluruh Indonesia untuk menyemai bibit-bibit perdamaian. “Semua yang saya ceritakan tadi itu adalah tantangan perdamaian yang harus kita tangkal. Jika tidak ditangkal, maka tinggal tunggu waktu saja, perdamaian itu benar-benar bisa hilang dari kita semua. Kami datang ke sini dengan niat baik agar teman-teman aware akan isu ini,” ucapnya.

Memungkasi sambutannya, Maghfur berharap, peristiwa kekerasan yang terjadi di masa lalu tidak terulang kembali. Ia juga berharap semua elemen bangsa, termasuk para remaja, dapat berkontribusi aktif dalam mencegah kekerasan itu kembali berulang agar perdamaian benar-benar terbangun di Indonesia. [FAH]

Baca juga Kesepahaman untuk Perdamaian

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....