HomeBeritaCermat Menyerap Informasi

Cermat Menyerap Informasi

Aliansi Indonesia Damai- Setiap informasi yang beredar di media sosial maupun media massa tidak boleh diterima secara mentah-mentah, melainkan harus dipahami secara cermat dan kritis. Pasalnya tidak semua informasi tersebut akurat dan sahih.

Pernyataan itu diungkapkan oleh salah seorang siswa SMAN 5 Balikpapan Kalimantan Timur, dalam kegiatan ”Dialog Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang dilaksanakan AIDA di sekolah tersebut, awal Maret 2023 lalu.

Baca juga Moral di Atas Skill

Dalam kegiatan tersebut, AIDA menghadirkan Iswanto, mantan pelaku ekstremisme kekerasan, dan Nanda Olivia Daniel, penyintas Bom Kuningan 2004. Iswanto bergabung dengan jaringan ekstremisme kekerasan sejak remaja atas ajakan guru-gurunya. Ia juga pernah terlibat langsung dalam aksi-aksi kekerasan di wilayah konflik, yaitu Ambon dan Poso.

Setelah melalui banyak lika-liku kehidupan, Iswanto memutuskan meninggalkan kelompok lamanya secara total dan menjalani kehidupan secara normal di kampung halamannya di Lamongan Jawa Timur. Kepada para peserta kegiatan, ia berpesan agar mereka cermat dalam memilih guru dan lingkaran pertemanan, serta tidak mudah ”termakan” informasi yang belum dipastikan kesahihannya.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Makassar (Bag. 1)

Belajar dari kisah Iswanto, siswa tersebut mengungkapkan bahwa generasi remaja harus lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan menerima informasi. ”Bahkan dari guru-guru kita ataupun tokoh-tokoh yang kita percaya. Bahwa tidak semua informasi dari tokoh-tokoh penting yang kita percaya itu benar adanya,” katanya.

Dalam kesempatan itu pula Nanda Olivia yang mengalami cedera parah akibat serangan di depan kantor Kedubes Australia, 9 September 2004, menuturkan pergulatan psikisnya selama bertahun-tahun. Ia pernah sangat lama memendah amarah dan dendam kepada para pelaku terorisme. Namun perlahan ia menyadari bahwa emosi tersebut tak berfaedah bagi dirinya. Ia memutuskan memaafkan para pelaku terorisme demi kebaikan dirinya.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Makassar (Bag. 2-terakhir)

Dari Nanda, siswa tersebut memetik pelajaran tentang pentingnya membuka diri dan menggunakan hati untuk memaafkan dan menerima keadaan diri sendiri. ”Bahwa kita harus berdamai dengan diri kita sebelum kita melakukan aktivitas yang lain. Dikarenakan berdamai dengan diri sendiri itu penting, dikarenakan diri kita memberikan impact kepada orang lain,” katanya. [MSY]

Baca juga Wakepsek SMAN 2 Pontianak: Kegiatan AIDA Unik

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....