Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan.
“Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca buku/kitab, dan sebagainya,” tuturnya saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 2 Bogor yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), beberapa waktu lalu.
Akibat salah pergaulan tersebut, Amir, begitu sapaan akrabnya, pernah dua kali tertangkap aparat dan dijebloskan ke bilik jeruji besi (penjara). Saat penangkapan pertama, ia divonis empat tahun penjara, sementara penangkapan keduanya divonis 10 tahun penjara.
Baca juga: Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian
“Saya trauma juga mengalami di penjara dua kali. Kehidupan di penjara sangat tidak enak apalagi saat di penjara Nusakambangan sekitar empat tahun. Di Nusakambangan satu sel satu orang dan selama 24 jam tidak keluar kamar, tidak ada teman ngobrol, ngobrolnya dengan semut dan nyamuk,” ujar dia.
Meski berat menjalani hukuman penjara di Nusakambangan namun Amir justru bersyukur karena di sanalah dirinya mendapatkan hidayah untuk kembali ke jalan kebaikan dan tanpa kekerasan. Ia tidak mempermasalahkan hidayah didapatkannya tidak dari dahulu karena menurutnya itu sudah diatur dan menjadi ketentuan Allah Swt.
“Terpenting saya sekarang sudah mendapatkan hidayah dan jalan terbaik. Insyaallah saya akan menyebarkan kebaikan-kebaikan,” tegas Amir. [AS]
