Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Yogyakarta, Rabu 26 Agustus 2026 lalu.
Pelatihan dibuka Kasubdit Pembinaan Kepribadian dan Kemandirian Ditjenpas, Mohamad Maolana. Dalam sambutannya, ia mengatakan terorisme merupakan kejahatan multidimensional yang sangat dinamis dan perubahannya terjadi begitu pesat. Oleh karena itu, penguasaan bidang tugas dan peningkatan profesionalisme petugas yang berada di garis depan penanganan WBP kasus terorisme mutlak diperlukan.
“Berdasarkan temuan empirik di lapangan, didapati bahwa para petugas perlu meningkatkan pengetahuan yang memadai terkait terorisme, baik sebagai sebuah konsep, praktik, maupun doktrin. Wawasan mengenai terorisme adalah pondasi yang harus dimiliki oleh setiap petugas yang akan menangani narapidana teroris,” ujar Maolana.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan dan Profesionalisme Petugas Lapas
Pelatihan yang digelar selama dua hari ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi petugas lapas dalam menangani dan membina narapidana tindak pidana terorisme. Selama mengikuti pelatihan, peserta dibekali materi komprehensif untuk memperkaya kapasitas pembinaan warga binaan pemasyarakatan, di antaranya memahami perspektif korban, membedah ideologi dan jaringan terorisme, kontra-ideologi keagamaan, dan penguatan wawasan kebangsaan.
Tidak hanya teori, pelatihan juga memfasilitasi sesi dialog interaktif dan silaturahmi langsung dengan penyintas bom terorisme serta mantan pelaku terorisme yang telah bertobat. Melalui pendekatan ini, para petugas diharapkan mampu meningkatkan kompetensi untuk memperkuat psikologis WBP terorisme, mengikis doktrin radikal, serta membangun hubungan pembinaan yang konstruktif.
“Semoga melalui pelatihan ini, Bapak dan Ibu semuanya dapat menjadi petugas-petugas yang handal, terampil, dan kompeten dalam melaksanakan pembinaan dan penilaian terhadap narapidana terorisme,” pungkas Maolana. [LA]
