HomeKolom HasibullahMenjadi Bangsa Juara

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia.

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil.

Persis di sinilah, keberhasilan Timnas menjadi Juara FIFA ASEAN CUP sejatinya juga menciptakan titik balik sejarah; Indonesia bisa juara. Bahkan yang mustahil pun bisa menjadi mungkin, seperti terlihat dalam Laga Final FIFA ASEAN CUP atau pada saat Timnas mengalahkan Tim Banglades dengan skor 9-2. Dalam pertandingan melawan Banglades, 2 goal terakhir diciptakan dalam kurun waktu kurang lebih 2 menit terakhir dari perpanjangan waktu.

Keberhasilan Timnas menjadi juara jelas bukan karena lini pertahanan yang kokoh; faktanya Timnas kebobolan banyak goal dalam kejuaraan ini. Juga bukan karena lini serang yang tajam; faktanya Timnas kesusahan menciptakan goal (walaupun Timnas Thailand sudah tinggal 10 pemain). Bahkan juga bukan karena pelatih; faktanya sebagian penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sempat meneriakkan nama pelatih mantan ketika Timnas ditahan imbang oleh Timnas Malaysia. Dalam hemat penulis, Timnas Juara karena faktor mental dan semangat pantang menyerah.

Inilah yang menjadi sirrul asrror (rahasia utama) dari keberhasilan Timnas menciptakan goal demi goal ke gawang Timnas Banglades, khususnya 2 goal terakhir yang dicetak dalam 2 menit terakhir. Padahal sebelum menciptakan 2 goal terakhir ini, Timnas sudah tidak bisa lanjut ke final, mengingat kalah selisih goal dari Timnas Malaysia yang pada detik itu berhasil mencukur Timnas Singapura dengan skor 6-0. Dalam dua menit berikutnya, Timnas berhasil menciptakan 2 goal sekaligus mengubah “yang mustahil” menjadi mungkin dan lanjut ke Laga Final.

Juga inilah alasan utama yang paling kuat di balik keberhasilan Timnas bangkit kembali setelah sempat tertinggal 2-1 dari Timnas Thailand di babak perpanjangan waktu. Di saat Timnas sebelumnya unggul 2-1. Terlebih saat itu Thailand bermain hanya dengan 10 pemain.

Hal yang harus diperhatikan ialah, mental juara dan semangat pantang menyerah tidak bisa didapat secara instan. Bahkan dia juga tak bisa dimiliki dengan cara dibeli. Dia membutuhkan proses yang terus menerus, latihan demi latihan, terus belajar, terus berbenah, terus berupaya. Dan yang paling penting adalah tidak korupsi. Dari Timnas Juara mari kita kembangkan menuju Bangsa Juara.

Hasibullah Satrawi
Hasibullah Satrawihttp:///www.aida.or.id
Hasibullah Satrawi, Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), adalah pengamat keislaman dan aktivis perdamaian yang konsisten menyuarakan hak-hak korban terorisme serta pentingnya narasi rekonsiliasi di Indonesia.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...