HomeBeritaMenimba Semangat Ketangguhan dan...

Menimba Semangat Ketangguhan dan Perdamaian dari Korban

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda dinilai memiliki peran besar untuk menyuarakan perdamaian di Indonesia. Sebagai penerus kepemimpinan bangsa, generasi muda bisa menjadi pionir perdamaian. Esensi kandungan ajaran Islam tentang pentingnya perdamaian dalam kehidupan, diharapkan bisa dipahami oleh generasi muda. Peran dan kontribusi mereka untuk mewujudkan perdamaian di negeri ini sangat diharapkan.

Harapan itu disampaikan Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lamongan, Drs. Ahmad Najih, M.Ag. saat memberikan sambutan pada kegiatan Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di sekolah tersebut, Kamis (21/2/2019). “Islam itu berakar dari kata aslama-yuslimu yang bermakna perdamaian. Maka sesungguhnya agama Islam adalah agama yang mewajibkan umatnya untuk menebarkan kedamaian. Mudah-mudahan para siswa di sini bisa menebar kedamaian,” ujarnya.

Najih juga mengingatkan generasi muda agar memiliki bekal pengetahuan yang kuat demi masa depan perdamaian di Indonesia. Sebab, generasi muda adalah harapan sekaligus penerus perjalanan bangsa Indonesia di masa depan. Menurutnya, bekal itu bisa dirumuskan menjadi kata ‘KADER’, yakni kreatif, aktif, dedikatif, energik, dan responsif. “Untuk menebarkan perdamain itu harus menjadi ‘KADER’. Ini adalah bekal berharga untuk masa depan anak-anak,” katanya.

Narasumber dalam Dialog Interaktif, Choirul Ihwan –mantan narapidana kasus terorisme yang telah bertobat– mengingatkan akan bahaya paham-paham keagamaan yang ekstrem dan mengajarkan kekerasan, termasuk terorisme. Ia menambahkan, biasanya pemahaman semacam itu menyasar kalangan muda. Ia mengaku, pertama kali direkrut oleh kelompok ekstremis saat usia masih muda dan memiliki keinginan belajar agama yang begitu kuat. Pada saat itu, ia bahkan sampai tega meninggalkan keluarganya. “Pemikiran saya mulai radikal saat kelas tiga SMA dan masuk jaringan kelompok ekstrem. Saya juga meninggalkan keluarga,” tuturnya.

Sementara itu, narasumber lain dari unsur korban terorisme, Yuni Arsih –seorang korban tidak langsung dari aksi teror bom di depan Kedutaan Besar Australia tahun 2004– mengisahkan pengalamannya ketika suaminya, alm. Suryadi, meninggal dunia akibat tragedi itu. Suaminya tengah bekerja sebagai petugas pengurus taman di kompleks Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Berdasarkan investigasi polisi, almarhum suaminya termasuk di antara orang yang paling dekat jaraknya dengan bom yang meledak.

Sepeninggal suami, ia harus membesarkan anaknya yang masih kecil. Menurut Yuni dahulu anaknya pintar, namun berubah menjadi pemarah karena tragedi bom itu, bahkan sang anak bercita-cita menjadi polisi agar bisa menangkap pembunuh ayahnya. “Saya khawatir bagaimana mungkin bisa membesarkan anak sendiri. Anak saya juga menjadi pemarah,” jelasnya.

Meskipun demikian, Yuni memilih bangkit dari keterpurukan itu setelah mendapatkan dukungan dari keluarga. Ia merasakan dukungan keluarga membuatnya bisa ikhlas menerima semua takdir yang telah terjadi. Sebagai wujud keikhlasannya, ia bersama anak semata wayangnya itu rutin berziarah ke makam sang suami. “Seiring berjalan waktu, ibu menyarankan untuk ikhlas dan lebih bersabar. Ibu selalu memberi pesan agar membersihkan makam suami setiap hari Jumat, mendoakan dan kirim Fatihah,” katanya.

Dari kisahnya, Yuni memberi pesan kepada generasi muda untuk menjadi generasi yang tangguh dengan cara tidak menimpakan keburukan, apalagi kekerasan, terhadap orang lain. Apa pun bentuk kekerasan yang dilakukan, menurut Yuni, tidak akan pernah memberikan manfaat karena kekerasan bukan solusi untuk mengatasi masalah. Selain itu, Yuni juga meminta para siswa agar lebih mencintai keluarganya karena keluarga adalah surga di dalam hidup setiap orang. “Jangan pernah membalas kekerasan dengan kekerasan. Cintailah keluarga kita,” paparnya.

Para siswa merasa mendapatkan pembelajaran berharga dari kisah mantan pelaku kekerasan dan korbannya. Mereka tidak hanya terharu dan meneteskan air mata setelah menyimak kisah ketangguhan Choirul dan Yuni. Lebih dari itu, bagi mereka, kisah orang-orang tangguh itu adalah inspirasi sekaligus bekal untuk menjadi generasi muda yang tangguh untuk mewujudkan perdamaian di masa depan. “Saya belajar keikhlasan dan kesabaran dari kisah Ibu Yuni. Dari kisah mereka saya sadar bahwa perdamaian itu amat berharga,” kata salah satu peserta Dialog Interaktif. [AH]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....