Daoud Nabi was killed while shielding a fellow worshipper at Masjid Al Noor mosque in Christchurch.
Home Inspirasi Aspirasi Damai Inspirasi Damai dari Korban Teror di Christchurch 

Inspirasi Damai dari Korban Teror di Christchurch 


Aliansi Indonesia Damai- Serangan teror penembakan di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru dua pekan lalu menorehkan luka dan kesedihan di hati keluarga korban serta penyintas. Di balik segala kesedihan itu, ada kisah keberanian yang ditunjukkan salah seorang korban. Daoud Nabi namanya. Dalam video kronologi serangan yang telah viral, ia teridentifikasi dengan gagah berani dan santun menyapa pelaku dengan sapaan “saudara” sebelum akhirnya ditembak.

Namanya termasuk dalam 50 korban jiwa dalam serangan keji itu. Menyadari bahwa ada orang bersenjata mendekati Masjid Al-Noor, dan dialah yang pertama kali berpapasan dengan pria bersenjata itu, Daoud tidak merespons secara negatif, justru ia menyapa dengan ramah dan santun.

“Hello, brother.” Demikian ia menyapa pelaku seperti yang terdengar dalam video. Sapaan Daoud mencerminkan ketulusan hati nurani dan pribadi yang santun. Meskipun di hadapannya seorang teroris siap menembakkan senjata ke arahnya, ia menyapanya dengan sopan. Tak disangka, sapaan itu adalah ucapan pertama sekaligus terakhir Daoud kepada sang teroris.

Daoud Nabi merupakan seorang imam sekaligus pemimpin komunitas muslim di Christchurch. Ia berpindah dari negara asalnya, Afghanistan, untuk mencari kedamaian dan penghidupan lebih baik di Selandia Baru sejak 1977. Ia dikenal sebagai tokoh muslim yang mengabdikan hidupnya untuk mengelola Afghan Association, salah satu lembaga yang beperhatian untuk membantu para pengungsi di Selandia Baru.

Saat bercerita kepada Sydney Morning Herald, Yama Nabi, anak kandung Daoud, mengatakan sempat mengalami perselisihan dengan sang ayah. Ia mengaku tidak bertemu sang ayah selama dua atau tiga minggu. Namun demikian, Yama tahu betapa sang ayah sangat mencintai cucu-cucunya. Karena itu, untuk memperbaiki hubungan baiknya dengan sang ayah, Yama membawa putrinya bernama Zahal ke masjid untuk memperbaiki perselisihannya dengan sang ayah. Meskipun demikian, nasi telah menjadi bubur. Yama terlambat. Sang ayah tercinta sudah meninggal dunia sebelum mereka bertemu.

Sementara itu, salah seorang anak lainnya bernama Omar, melalui sambungan telepon oleh Al-Jazeera, mengatakan bahwa sang ayah akan dimakamkan pada hari Sabtu (sehari pascakejadian) bersama 48 korban lain, termasuk anak-anak. “Ayah saya tinggal seumur hidupnya di negara ini (Selandia Baru) dan akan dimakamkan di sini,” katanya.

Omar Nabi holds a photo of his father, 71-year-old Haji-Daoud
Omar Nabi holds a photo of his father, 71-year-old Haji-Daoud. Photo: www.stuff.co.nz

Kisah Daoud Nabi telah membawa namanya harum. Sosoknya menjadi cerminan seorang muslim sejati, yakni meskipun ditentang oleh para pembenci ia tetap menunjukkan akhlak yang baik dan mengupayakan perdamaian.

Dari kasus ini publik secara umum mendapatkan dua pembelajaran, yakni anjuran untuk selalu menjadi pribadi yang berakhlak mulia, dan keluhuran agama yang menganjurkan perdamaian antarsesama.

Kisah santun Daoud Nabi menunjukkan bahwa terorisme tidak tepat bila diidentikkan dengan agama atau umat agama tertentu. Ideologi kebencian hingga berujung aksi kekerasan bisa menjangkiti siapa pun yang tidak memiliki kemauan untuk menghargai dan menghormati orang lain. (CN)

Sumber: Al-jazeera, CNN, Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *