HomeBeritaMerawat Perdamaian Untuk Masa...

Merawat Perdamaian Untuk Masa Depan Indonesia

“Saya bertemu salah satu korban bom yang kehilangan kedua kakinya. Dia cerita bagaimana susahnya hidup tanpa kedua kaki, bahkan dia tunjukkan video waktu dia belajar jalan dengan kaki palsu. Kemudian saya bayangkan, seandainya itu terjadi pada keluarga saya, bagaimana?”

Demikian Iswanto, mantan anggota jaringan terorisme, mengungkapkan dalam acara Dialog Interaktif bertema Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di SMAN 1 Singosari, Kabupaten Malang, pertengahan Maret lalu. Kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) itu bertujuan untuk mendorong semangat generasi muda agar memperkuat ketangguhan diri dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk penyebaran paham kekerasan.

Mengetahui dampak terorisme terhadap orang-orang yang menjadi korban, Iswanto menyesal pernah terlibat dengan kelompok kekerasan. Ia mengaku telah bertobat dan kini aktif turut serta dalam kampanye perdamaian di berbagai sekolah bersama AIDA. Ia berbagi kisah tentang pengalaman masa lalunya terjerumus ke dalam paham keagamaan yang ekstrem sejak usia remaja. Selain didoktrin untuk membenci umat beragama lain, ia juga diajari cara-cara membuat bom.

Namun demikian, semua itu telah menjadi masa lalu baginya. Iswanto telah menyadari bahwa aksi terorisme berdampak sangat buruk dan destruktif. Ia juga telah meminta maaf  kepada para korban bom yang harus menanggung dampak dari aksi teror yang dilancarkan oleh kelompoknya dahulu. Kini ia memilih untuk mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang positif. Di samping membuka usaha toko kelontong, sehari-hari Iswanto mengajar di sebuah sekolah di Lamongan, serta secara berkala menjadi pembimbing haji dan umroh. Ia tidak hanya bertekad menjauhi pemikiran atau tindakan kekerasan, tetapi juga membuktikan bahwa jalan hidup yang damai bisa memberikan banyak manfaat untuk masyarakat.

Di hadapan siswa peserta Dialog Interaktif di SMAN 1 Singosari, Iswanto berpesan agar pandai-pandai dalam memilih guru dan teman. Pasalnya, teman dan guru sangat berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran seseorang. Menurutnya, teman dan guru yang baik adalah mereka yang mengajak kepada kebaikan dan senantiasa mengedepankan perdamaian dalam segala hal.

Dalam kesempatan yang sama, seorang korban Bom Bali yang terjadi pada 12 Oktober 2002, Nyoman Rencini, juga berbagi kisah ketangguhan kepada para siswa. Ia kehilangan suami karena menjadi salah satu korban meninggal dalam peristiwa mengerikan itu. Sejak ditinggal sang suami, Rencini menjadi tulang punggung keluarga. Jalan tak mudah harus ditempuhnya dalam berjuang sendiri membesarkan ketiga anak perempuannya yang waktu itu masih kecil-kecil.

Atas takdir yang terjadi dalam hidup, Rencini mencoba untuk selalu ikhlas. Ia mengaku sangat bersyukur bisa mencukupi kebutuhan dan pendidikan anak-anaknya. Kepada pelaku terorisme, ia memilih untuk tidak mendendam. Justru ia telah memaafkan para pelaku. Ia berharap para mantan pelaku yang telah bertobat bisa mengajak rekan-rekannya dahulu untuk meninggalkan dunia terorisme menuju jalan perdamaian.

Terkhusus kepada para siswa peserta Dialog Interaktif, Rencini berpesan agar serius menuntut ilmu, belajar dengan rajin sehingga menjadi kebanggaan dan kebahagiaan orang tua.

Sebagian siswa peserta DIalog Interaktif mengutarakan gagasan seusai kegiatan. Seorang siswi berpendapat bahwa kondisi kehidupan yang damai merupakan kebutuhan asasi bagi masyarakat. Ia sangat menyayangkan adanya segelintir orang yang melakukan aksi terorisme hingga menghilangkan banyak nyawa. “Saya menjadi lebih mengerti keadaan korban dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan itu. Saya biasanya melihat di televisi, mengapa harus ada kekerasan. Mengapa harus ada terorisme, sedangkan dengan perdamaian kita bisa melanjutkan hidup dengan baik?” ujarnya.

Di pengujung acara, Deputi Direktur AIDA, Laode Arham, menekankan kembali tentang pembelajaran yang dapat diambil dari kisah korban dan mantan pelaku. Di antaranya, yaitu tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan, semangat bangkit dari keterpurukan, serta keikhlasan dalam memaafkan tanpa dendam. “Inilah ibroh yang dapat diambil dari kisah mantan pelaku dan korbannya sebagai bekal bagi generasi muda untuk merawat kedamaian Indonesia hingga masa depan,” ujarnya. [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery...

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...