Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak dini. Bukan diusir oleh keluarga musababnya, melainkan karena pikirannya sendiri yang menolak ketulusan kasih sayang keluarganya.
Di situlah celah itu terbuka. Ketika kasih sayang keluarga tak cukup dirasakan, sekelompok orang hadir menyambut dengan hangat. Choirul menemukan “keluarga baru” yang memberinya perhatian penuh, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di rumah.
Kebetulan dia menemukan orang-orang baru dalam hidupnya yang bersikap layaknya saudara itu dalam kelompok pengajian yang eksklusif. Tidak berlebihan bila disebut eksklusif lantaran kelompok itu tampak hanya mempersaudarai orang-orang hilang semacam Choirul, tidak dengan umat Islam kebanyakan.
Baca juga: Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan
Dari persaudaraan baru itu, benih pemahaman agama yang ekstrem menjalar di pikiran. Menginjak usia dewasa Choirul bergabung dengan partai politik berbasis agama. Tak puas dengan metode dakwahnya, setelah beberapa waktu ia menyeberang ke kelompok pengusung ide khilafah yang kini telah dikategorikan sebagai organisasi terlarang, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Ghirah aktivismenya terus meningkat. Seiring waktu pergumulannya dengan kelompok ekstrem menggiring pemahamannya tentang jihad menjadi semakin sempit dan keras. Menjadi dai bukan tujuan utamanya. Cita-citanya ingin menjadi mujahid, dalam arti muqatil, orang yang berperang, memerangi mereka yang dianggap sebagai musuh agama.
Tahun 2001 Choirul menjadi anggota Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Harapannya, ia akan mendapatkan kesempatan untuk berperang di jalan Tuhan bila bergabung dengan organisasi ini. Namun, dia merasa harapannya sangat sulit terwujud.
Baca juga: Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara
Ia pun sempat melayangkan protes kepada pimpinan di lembaga baru ini. “Kita ini namanya Majelis Mujahidin, tapi kapan kita jihad?” Kata-katanya bersatir, menyindir aktivis yang tergabung di organisasi yang bermarkas di Yogyakarta itu sebagai muslim yang lembek. [Bersambung – MLM]
