HomeInspirasiAspirasi DamaiTangguh Menghadapi Ujian

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten*

Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya kita bangun?

Ketangguhan yang paling hakiki bukanlah ketangguhan fisik semata, melainkan ketangguhan iman dan takwa. Sebab, hanya dengan iman yang kokoh, kita mampu menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam jurang kesalahan dan larangan-larangan agama. Ketika iman kuat, ujian yang datang justru menjadi jalan peningkatan derajat, bukan pemicu kehancuran moral.

Rasulullah Saw. mengingatkan kita melalui sabdanya, al-muslimu akhul muslim, seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Lebih dari seruan moral, hadis ini adalah pondasi relasi sosial yang mengharuskan kita saling bahu-membahu dan saling mendukung. Perbedaan pemahaman yang sifatnya furu’iyyah (sebatas cabang-cabang, bukan pokok agama) di antara sesama muslim adalah hal yang wajar dan lumrah, asalkan tidak melahirkan permusuhan. Dalam keberagaman pemahaman itu, kita justru dituntut untuk saling menghargai dan tetap menjaga ukhuwah.

Baca juga: Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Islam mengajarkan sikap yang jelas terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Ada kafir harbi, yakni mereka yang memerangi agama dan kaum muslimin, dan terhadap mereka sikap kita tegas. Namun, ada pula kafir dzimmi, yaitu non-muslim yang tidak memerangi, yang hanya berbeda keyakinan. Terhadap mereka, kita wajib menghormati dan memberikan hak-hak sebagai sesama anak bangsa. Inilah keadaban Islam yang sering kali luput dari perhatian, ketika sebagian orang tergesa-gesa menyamakan semua bentuk perbedaan sebagai ancaman.

Dalam konteks kekinian, pemahaman yang keliru terhadap teks-teks agama kerap menjadi pangkal masalah. Jika sejak awal kita salah dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, maka hampir dapat dipastikan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari juga akan salah. Karena itu, penting bagi kita untuk terus belajar dan merujuk pada otoritas keilmuan yang mumpuni. Jangan sampai kesalahan pemahaman membawa kita pada sikap-sikap ekstrem yang justru merusak tatanan sosial.

Di tengah upaya pemerintah menggalakkan gerakan anti-kekerasan dan anti-perundungan, kita sebagai umat Islam harus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan perdamaian. Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) pun telah menegaskan bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar. Kita harus mengedepankan cara-cara yang makruf, cara-cara yang santun dan bermartabat. Tentu ada kalanya kita perlu bersikap keras, terutama ketika menghadapi kebatilan. Akan tetapi, kekerasan fisik dan tindakan anarkis, seperti yang kerap ditampilkan dalam aksi terorisme, adalah jalan yang sesat dan tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Kita, masyarakat Indonesia, dan khususnya umat Islam di tanah air, memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta. Ketangguhan kita diuji bukan untuk bermusuhan, melainkan untuk semakin bijak dalam menyikapi perbedaan dan semakin teguh dalam memegang nilai-nilai kebenaran, tanpa harus menghakimi dengan kekerasan.

Mari kita jadikan ujian sebagai penguat iman, dan perbedaan sebagai lahan untuk saling menghargai. Dengan begitu, ketangguhan yang kita miliki akan menjadi penyejuk, bukan pemanas permusuhan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education;...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...