Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang pernah dikenalnya dia anggap kafir. Bahkan terhadap manusia yang paling menyayanginya selama ini, ibunda kandungnya, begitu keji doktrin yang pernah diyakininya.
Kegelisahan Choirul menuntunnya untuk mengevaluasi pemahamannya terhadap Islam dan umat muslim. Ia mendapati doktrin kelompoknya sangat banyak kemiripannya dengan kelakuan kaum Khawarij di masa sahabat. Kelompok ekstremis mula-mula dalam sejarah Islam ini memisahkan diri dari mayoritas umat muslim, serta menjatuhkan vonis kafir kepada Ali bin Abi Talib Ra., sahabat sekaligus sepupu dan menantu Rasulullah Saw., berikut siapa pun yang mengikutinya.
Baca juga: “Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)
Implikasi dari vonis kafir kepada para sahabat Nabi itu panjang. Kaum Khawarij tak ragu memerangi sahabat dan menjadikan mereka target pembunuhan. Kemunculan kelompok ekstrem ini pernah diramalkan oleh Rasulullah Saw. sebagai segelintir orang Islam yang bacaan Al-Qurannya sangat indah namun spirit Al-Quran tak pernah sampai ke hati mereka. Selain itu, mereka gemar mengeluarkan orang dari Islam, sangat bertolak belakang dengan risalah Nabi Muhammad Saw. yang mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk memeluk Islam.
Di kala Choirul mulai terbuka kesadarannya akan kekeliruan jalan hidup yang ditempuh selama ini, takdir membawanya kembali ke rumah dan keluarganya, yang dahulu telah ia tinggalkan. Namun, jalan kekerasan tak pernah berujung damai. Pada 2013 ia ditangkap atas dugaan keterlibatan tindak pidana terorisme. Senjata api rakitan yang pernah ia buat di bengkel otomotifnya di Bekasi ternyata digunakan orang lain dalam aksi teror. Delik Undang-undang Antiterorisme menjeratnya. Dirinya divonis bersalah dan diwajibkan mendekam di penjara hingga 2017.
Baca juga: “Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)
Saat ini Choirul Ihwan tidak lagi mengenakan seragam jihad semu. Ia telah melepaskan paham kekerasan dan memilih jalan yang jauh lebih mulia, yakni jalan perdamaian. Ia bergabung dengan Tim Perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA), berkeliling ke seluruh penjuru Tanah Air untuk berbagi kisah hidup. Bukan sebagai sosok penuh heroisme di medan pertempuran, melainkan sebagai pelaku yang bertobat yang ingin memperbaiki kesalahan masa lalunya. [MLM]
