Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua dan saudara-saudara kandungnya. Ia kemudian minggat, rela meninggalkan rumah, harta dan keluarganya demi ideologi yang diyakininya sebagai Islam yang sejati.
Kelompok JTM ini pula yang mengirimnya untuk bergabung dengan rencana pelatihan paramiliter yang diinisiasi gabungan beberapa kelompok ekstremis, termasuk Jemaah Islamiyah (JI) dan Negara Islam Indonesia (NII).
Akan tetapi, takdir memaksanya menempuh jalan lain. Rencana latihan militer di pegunungan Jalin Jantho Aceh pada 2010 itu tinggal rencana. Belum sempat menelurkan lulusan angkatan, perkumpulan terlarang itu disikat habis oleh aparat. Choirul belum sempat sampai ke Aceh, apalagi mengecap cita-citanya, berperang.
Baca juga: “Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)
Sejak cabut dari rumah, hidup Choirul praktis hampir menggelandang setiap harinya. Dari Jawa Timur, Jawa Barat hingga Sulawesi Tengah ia selalu berpindah-pindah.
Dia pernah mengupayakan jihad tamkin, metode jihad dengan strategi tanpa perang konfrontatif, bahkan dapat berupa infiltrasi ke pelbagai institusi negara dan masyarakat. Jihad model baru ini berfokus pada dakwah dan tarbiyah dengan tujuan mengubah pemahaman masyarakat secara gradual, hingga pada akhirnya suatu wilayah bisa didominasi oleh kekuatan kelompok. Untuk sementara waktu hasratnya untuk berperang bisa agak ia turunkan.
Namun, ia tak kenal lelah mencari ladang jihad yang lama dia idamkan. Ketika terdengar ada celah pintu jihad terbuka di Poso Sulawesi Tengah, ia tak ragu untuk segera mendatanginya.
Baca juga: Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara
Dalam pengembaraannya di kawasan hutan dan pegunungan di Pulau Celebes, Choirul mengalami momen spiritual yang menggetarkan hati. Ibundanya, perempuan yang mengandung, melahirkan dan mengasuhnya, datang ke dalam mimpinya selama tiga malam berturut-turut. Ia pun terheran-heran mengapa perempuan yang telah ia kafirkan sebelumnya itu menyapa anaknya yang begitu durhaka ini.
Paginya, usai tiga malam berturut-turut didatangi ibunda, Choirul memutuskan untuk turun gunung. Ia mendatangi perkampungan warga untuk menelepon keluarganya di Madiun. Kakak kandungnya yang mengangkat panggilan. Kabar yang ia terima menghantam dadanya amat keras: Sang Ibunda telah wafat beberapa jam sebelum teleponnya tersambung. [Bersambung – MLM]
