HomeOpiniSalah Kaprah Radikalisasi lewat...

Salah Kaprah Radikalisasi lewat Game Online

Oleh Pradipa P Rasidi Antropolog Digital, Project Officer Technology and Violence Program, Monash University Indonesia

Artikel ini dimuat di Kompas.id pada 19 November 2025.

Wacana pembatasan game online atau gim daring perlu dicermati dengan hati-hati. Jika tidak, regulasi ini hanya akan dilandasi kepanikan moral dan cara pandang yang menggurui. Selama ini, percakapan publik terpaku pada aspek permukaan, yaitu apakah suatu gim mengandung kekerasan, senjata, atau darah. Padahal bermain gim daring adalah sebuah tindakan sosial. Artinya, ia dibentuk oleh praktik bermain gim dan ekosistem yang tumbuh di luar gim itu sendiri.

Penelitian ilmiah sejauh ini tidak menemukan konsensus bahwa gim memicu kekerasan. Literatur tentang kekerasan menunjukkan bahwa tindakan agresif harus dipupuk dalam rentang waktu panjang. Salah satu studi paling komprehensif dari Massey University (Drummond et al, 2020) menganalisis 28 riset longitudinal tentang dampak gim bermuatan kekerasan, seperti game action dan shooter, mencakup lebih dari 21.000 anak dan riset dari 2008 hingga 2019. Temuannya jelas, yaitu tidak ada hubungan sebab-akibat antara gim kekerasan dan peningkatan kekerasan anak.

Studi lebih baru (Lacko et al, 2024) mengonfirmasi hal yang sama. Hasil risetnya menunjukkan bahwa paparan terhadap gim bermuatan kekerasan tidak mengurangi empati maupun perilaku prososial anak.

Kekhawatiran publik sering berangkat dari asumsi bahwa anak tidak dapat membedakan fantasi dan realitas saat bermain gim kekerasan. Namun, riset Martarelli et al (2015) menunjukkan bahwa kebingungan ini umumnya hanya terjadi pada anak usia prasekolah. Pada dasarnya, mereka pun belum memiliki kemampuan kognitif maupun motorik untuk memainkan gim dengan intensitas gameplay tinggi.

Dengan demikian, fokus pada elemen kekerasan semata justru terlalu dangkal. Ada tiga hal lain yang jauh lebih penting diperhatikan.

Pertama adalah elemen yang justru tidak berkaitan langsung dengan kekerasan, yaitu bagaimana pemain berkompetisi dengan pemain lain? Banyak gim daring kini menjual barang dalam gim (in-game item) yang bisa dibeli dengan uang sungguhan agar meningkatkan kemampuan karakter atau mendapat perlengkapan eksklusif.

Gim seperti ini dikenal sebagai pay-for-convenience atau pay-to-win. Sistem ini kerap dilengkapi sistem lootbox: alih-alih membeli barangnya langsung, pemain membeli kotak hadiah berisi barang acak—bisa dapat yang bagus, bisa dapat yang jelek, tak ubahnya judi.

Negara seperti Belgia, misalnya, sudah meregulasi gim dengan lootbox karena dianggap membahayakan anak. Bukan karena sisi kekerasan dalam gimnya, melainkan karena sistem ini justru menjadi elemen non-kekerasan yang dapat meningkatkan agresifitas anak ketika bermain.

Kedua, penting untuk bicara mengenai genre dan imajinasi. Tidak semua gim kekerasan memiliki derajat pencerapan dunia yang sama. Genre arena shooter seperti PUBG atau Fortnite memberi jarak yang jelas antara pemain dan dunia fiksinya. Senjatanya bisa jadi realistis, tetapi kostumnya konyol, seperti helm panci di kepala, piyama kelinci, atau kostum beruang. Kekerasan di sana terbaca sebagai fantasi. Mereka sekadar menciptakan arena bermain.

Lain halnya dengan military shooter seperti Call of Duty: Modern Warfare atau Operation Flashpoint. Yang mereka tunjukkan bukan sekadar kekerasan, melainkan sebuah imajinasi geopolitis tentang kekerasan. Ada bendera negara, seragam militer, dan demarkasi moral-ideologis. Di Modern Warfare, kita bermain sebagai tentara Amerika di Timur Tengah dan menumpas orang-orang Arab yang digambarkan sebagai teroris. Di Operation Flashpoint kita menghabisi ”setan” komunis Rusia.

Masalahnya bukan pada darah atau adegan perangnya, melainkan pada cara gim ini mengasah imajinasi moral. Siapa yang dianggap ”musuh”, siapa yang ”pahlawan”? Bagaimana pemain diseret masuk ke dalam logika kawan dan lawan yang politis? Hal serupa muncul dalam gim laga berlatar Perang Salib, seakan peristiwa tersebut hanya dipahami sebagai sejarah penaklukan yang penuh darah.

Tentunya, sekadar membayangkan siapa kawan dan lawan tidak cukup menjadi dorongan kekerasan. Dan karena itulah, poin ketiga yang harus diperhatikan adalah ekosistem atau komunitas moral yang dibangun di luar gim. Gim daring tidak pernah dimainkan dalam ruang vakum. Anak muda membangun komunitas, identitas, dan pertemanan.

Hal tersebut dilakukan salah satunya melalui peladen Discord, semacam aplikasi percakapan yang diorientasikan untuk bermain gim. Setiap pengguna bisa membuat peladennya sendiri, seperti grup percakapan Whatsapp. Dan ada peladen-peladen yang tumbuh besar karena kesamaan minat dan hobi menjadi sebuah forum diskusi.

Percakapan dalam komunitas inilah yang dapat menjadi titik masuk radikalisasi, bukan melalui gimnya. Di ruang ini pemain membicarakan pertanyaan seperti: ”Ancaman mana yang paling nyata?” ”Bagaimana kita bisa menumpas mereka sebelum kita yang ditumpas?” ”Siapa dalang di balik ini semua?”

Mereka membicarakan bukan hanya gim, melainkan juga berita aktual dan pertanyaan mengenai identitas ketika bertemu atau membayangkan orang berbeda, ”dalang di balik layar”, ”penguasa”, dan lain sebagainya. Radikalisasi bisa dipupuk, baik oleh aktor dengan niat buruk maupun terjadi dengan sendirinya seraya anak bergulat dengan pertanyaan mengenai posisinya di dunia.

Dan dalam ekosistem ini, Discord bukan satu-satunya. Streamer di Youtube, pemengaruh, grup Telegram—semuanya berperan dalam radikalisasi.

Karena itulah, gim harus dipahami sebagai bagian dari praktik bermedia anak muda. Ia hanyalah salah satu dari banyak modalitas untuk membangun identitas, belajar berinteraksi, dan mencari ruang aman di antara teman sebaya.

Fokus berlebihan pada tampilan kekerasan justru mengaburkan pertanyaan paling mendasar: mengapa anak bermain gim itu? Apa hubungan sosial yang dibangun? Apa makna gim tersebut bagi mereka? Label seperti ”kecanduan gim” sering kali muncul dari ketidakpahaman dan kecurigaan, bukan dari pembacaan jujur terhadap pengalaman anak.

Sudah waktunya publik berhenti mengatur anak dari jauh dan mulai mendengar mereka. Pendekatan seperti ini tidak pernah menyentuh akar masalah. Alih-alih, publik perlu memahami makna gim bagi anak dan menciptakan ruang diskusi tentang imajinasi yang muncul dari gim. Permainan daring bukan pengganti orangtua, melainkan bagian dari dunia anak yang membutuhkan pemahaman bersama, bukan pelarangan.

Di sinilah lantas peran penting pemerintah. Pahamilah pemain gim sebelum mengambil kebijakan, bahkan libatkanlah mereka dalam pengambilan kebijakan. Di Malaysia, direksi penanggulangan terorismenya bahkan sudah dikepalai oleh seorang gamer. Pemerintah tidak bisa hanya merespons kejadian secara reaksioner. Mulailah mengakui anak dan gamer—dan warga secara lebih luas—sebagai subjek yang otonom, bukan obyek pengaturan.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...