HomeBeritaElemen Utama Propaganda Ekstremisme

Elemen Utama Propaganda Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai – Ada tiga elemen utama dalam propaganda ekstremisme kekerasan, yaitu pesan, pengirim pesan (messenger), dan media sebagai wadahnya. Ketiganya kerap disebut sebagai ingredient of extremism atau bahan baku ekstremisme. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik perlu memahaminya agar lebih mawas diri dan bersikap kritis terhadap setiap propaganda ekstremisme.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Solahudin, peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia, dalam “Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Mantan Teroris dan Korbannya” yang dikuti oleh puluhan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) secara daring pada akhir Juli lalu. Kegiatan ini diselenggarakan AIDA bekerja sama dengan BEM Unesa.

Baca juga Niat Mungkin Baik Aksinya Salah

Solahudin menerangkan, ada beberapa pesan yang sangat jamak dijumpai  dalam propaganda ekstremisme, salah satunya adalah narasi akhir zaman. Solah, demikian sapaan akrab Solahudin, mencontohkan kelompok ISIS yang mengampanyekan bahwa pemerintahan yang mereka bentuk pada tahun 2014 adalah khilafah akhir zaman.

Khilafah ini didirikan dan dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi yang diyakini sebagai keturunan suku Quraisy, sebagaimana Nabi Muhammad SAW. “Ini yang ingin dimanipulasi. Sehingga membuat orang-orang mau percaya dan hijrah ke bumi Syam,” ucapnya.

Baca juga Virus Ekstremisme Tak Kenal Sasaran

Agar lebih efektif, pesan-pesan tersebut harus disampaikan oleh tokoh-tokoh yang otoritatif dan berpengaruh di kalangan mereka. Dari hasil kajian Solah terhadap sejumlah narapidana terorisme,  salah satu sosok yang efektif sebagai messenger adalah Aman Abdurahman “Banyak individu yang tertangkap menyatakan bahwa mereka teradikalisasi setelah mendengar ceramah dan membaca buku Aman,” katanya.

Sosok messenger tidak bisa berdiri sendiri. Dia membutuhkan media yang efektif menyebarkan pesan-pesan yang sudah diramu sedemikian rupa, baik untuk lingkaran internal mereka maupun khalayak luas. Pada era murah digital seperti sekarang, media yang paling banyak digunakan adalah kanal-kanal dunia maya, seperti whatsapp, telegram, youtube, dan media sosial lain.

Baca juga Rentan Menjadi Ekstremis

Menurut Solah, dulu perekrutan teroris dilakukan melalui kajian seperti majelis taklim yang bersifat terbatas. Tetapi dengan fasilitas media sosial daring, pesan-pesan tersebut berhasil menerobos sekat batas geografis sehingga memudahkan kelompok ekstremis merekrut pengikut baru.

“Efek dari radikalisasi daring ini sangat luar biasa, karena dapat berlangsung lebih cepat. Rentang waktunya 0-12 bulan. Ini berbeda dengan teroris lama yang mengalami radikalisasi 5-10 tahun, mulai dari pertama sampai ia melakukan amaliat (aksi),” katanya.

Baca juga Mewaspadai Penganut Takfiri Kekerasan

Karena itulah, Solah menyarankan agar mahasiswa lebih kritis dalam menerima setiap informasi dari media sosial. Selain bisa menjadi sumber informasi, media sosial dapat menjadi bumerang bagi keberlangsungan hidup manusia. Mahasiswa harus memiliki kesadaran kognitif yang penuh untuk menyaring setiap pesan yang didapatkan, terlebih jika mengandung provokasi kekerasan. [NOV]

Baca juga Ekstremis Tebar Ideologi Lewat Medsos

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran....

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...