HomeOpiniRenungan Idul Adha: Ikhlas...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026

Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual.

Idul Adha sendiri berasal dari akar kata ’aada–ya’udu yang berarti ’kembali’ atau ’berulang’. Adapun adha berkorelasi dengan kata udhiyah (kurban), yang terkait juga dengan kata dhuha (waktu pagi), karena penyembelihan kurban biasanya dilakukan pada pagi hari.

Kata adha yang berarti ’kurban’ juga berkaitan dengan akar kata qaraba–yaqrabu, yang berarti ’mendekatkan diri’. Dengan demikian, kurban pada dasarnya merupakan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Idul Adha mempunyai makna spesial bagi umat Islam karena di dalamnya terkandung makna yang sangat penting, yaitu makna keikhlasan sebagai puncak pengabdian umat manusia kepada Tuhan. Keikhlasan inilah yang diteladani Nabi Ibrahim AS ketika mendapatkan perintah yang sangat berat, yaitu perintah menyembelih atau mengorbankan anaknya, Nabi Ismail AS (QS As-Shaffat: 99-111). Setelah berdialog dengan putra terkasihnya itu, Nabi Ibrahim berhasil membunuh ego nafsunya sehingga ikhlas menerima perintah tersebut.

Pesan spiritual keikhlasan ini penting untuk disuarakan dalam peringatan Idul Adha, terutama di tengah situasi kehidupan dunia yang semakin tidak menentu. Hidup damai yang diidam-idamkan manusia di seluruh penjuru planet Bumi terus dinterupsi karena konflik dan peperangan. Dalam situasi demikian, kita perlu untuk merenung sejenak, melucuti kepentingan-kepentingan materialisme dengan menghadirkan sisi spiritual yang bisa menghadirkan kedamaian dalam kehidupan manusia.

Ikhlas roh amal

Kata ikhlas berasal dari kata akhlasha–yukhlisu yang berarti ’memurnikan, membersihkan, memilih inti dari sesuatu’. Dengan demikian, ikhlas biasanya diartikan sebagai kondisi jiwa manusia yang mampu memurnikan niat dan segala amal perbuatannya semata-mata untuk Allah SWT.

Ada ungkapan di kalangan ulama, al-ikhlas ruhul amal (ikhlas merupakan roh dari amal). Hal ini berarti tanpa ikhlas, amal perbuatan manusia itu seperti jasad tanpa nyawa. Dengan demikian, amal perbuatan manusia tidak mempunyai nilai di mata Allah jika tidak diikuti dengan ikhlas.

Dalam QS Al-Bayyinah Ayat 5 disebutkan, manusia tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan (mukhlisin) kepada-Nya. Ayat ini menegaskan bahwa keikhlasan dengan memurnikan niat semata-mata karena Allah SWT harus terkait langsung dengan setiap perbuatan manusia agar perbuatan tersebut bernilai ibadah.

Hal ini bukan hanya perbuatan yang sejak awal disebut ibadah seperti shalat, zakat, dan sedekah, tapi juga perbuatan-perbuatan duniawi yang biasanya tidak disebut ibadah. Ikhlas bukan untuk memperindah amal, melainkan menjadi penentu apakah amal itu bernilai atau tidak di hadapan Tuhan.

Hal ini penting untuk mengingatkan agar segala hal yang kita lakukan tidak sia-sia di hadapan Allah SWT. Dalam pandangan Islam, hal yang terpenting bukan apa yang kita lakukan, melainkan untuk siapa kita melakukannya. Di sinilah hati manusia diuji. Apakah yang dilakukan memang untuk Allah SWT atau karena ingin dipuji, dihargai, atau dilihat orang. Ketika niat kita lurus dan berhasil menyingkirkan godaan-godaan itu, maka sekecil apa pun perbuatan itu akan sangat bernilai.

Ikhlas itu perbuatan hati bersifat rahasia (sirr) yang tidak selalu tampak. Orang yang mengatakan ”saya Ikhlas” belum tentu sama dengan isi hatinya. Ikhlas tidak bisa diukur dengan kata-kata, tapi terkait dengan kondisi terdalam hati manusia. Ia tidak tampak di permukaan, hanya bisa diukur diri orang itu dengan Allah SWT.

Orang yang benar-benar ikhlas biasanya tidak sibuk untuk menjelaskan keikhlasannya kepada orang lain, apalagi menuntut pengakuan orang lain. Dia justru sibuk memeriksa untuk memastikan kemurnian diri dan batinnya.

Keikhalasan akan menjadikan hidup lebih ringan karena tidak sibuk menuntut pengakuan orang lain. Tidak kecewa jika tidak dipuji, dan tidak lupa diri kala dipuji. Ujian keikhlasan justru ketika dipuji, karena pujian itu bisa menjadikan orang lupa diri, mabuk dengan pujian. Orang yang sudah mabuk pujian biasanya menjadi adiktif dan selalu menuntut validasi dari orang lain.

Menenggelemkan diri dalam kesunyian

Sampai di sini kita diingatkan nasihat seorang sufi dari Mesir, Syaikh Athaillah as-Sakandari (1250-1309 M). Salah satu nasihat alegoris dalam karyanya Al-Hikam disampaikan: idfin wujudaka fi ardhi al-khumul (tenggelamkan dirimu dalam bumi kekosongan/ketersembunyian). Fama nabata mimma lam yadfun la yatimmu nitajuhu (segala sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam tidak akan sempurna hasilnya).

Keikhlasan diibaratkan oleh Syaikh Athaillah sebagai ”menenggelamkan diri dalam kesunyian”. Di sini kita dituntut untuk mengosongkan diri dengan menghindarkan diri dari kebisingan yang bisa mengganggu hubungan manusia dengan Allah SWT. Dalam konteks ini, sikap menonjolkan ego, popularitas, dan validasi atas eksistensi diri merupakan hal-hal yang bisa mengganggu ”kesunyian diri”.

”Menenggelamkan diri dalam kesunyian” itu diibaratkan sebagai menanam pohon agar hasilnya sempurna. Pohon atau tanaman yang tumbuh tanpa ditanam (dalam ”kesunyian”), hasilnya tidak akan sempurnya karena tidak punya akar yang kokoh. Amal perbuatan yang tidak diikuti dengan keikhlasan ibarat tanaman yang tumbuh tanpa akar.

Di sini kualitas rohani manusia dibentuk. Ibarat benih yang harus ditanam di dalam tanah sebelum tumbuh, kedalaman rohani, ketulusan dan kejernihan batin tidak lahir dari sorotan publik, tapi lahir dari kesunyian batin. Orang yang terlalu sibuk menampakkan diri dalam sorotan akan kehilangan kesempatan untuk menumbuhkan akar yang kuat dalam dirinya.

Sebaliknya, orang yang berani mengambil posisi ”tidak tampak” akan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk menempa diri dalam kedalaman yang lebih otentik. ”Mengubur diri” melatih rohani untuk ikhlas dalam ketidaktampakan.

Nasihat tersebut tampak semakin relevan untuk menjadi pengendali diri di tengah kehidupan yang semakin menutut pengakuan dan validasi. Nasihat itu justru mengajak kita untuk mundur sejenak ke dalam, menenangkan ego dan tidak menjadikan diri sebagai pusat segalanya.

Dalam arus budaya sekarang ini, orang ingin menunjukkan aktivitas, pencapaian, bahkan kebaikan-kebaikannya di media sosial. Diam-diam kita ingin mengukur nilai diri dari seberapa banyak perhatian yang kita terima. Hal-hal seperti ini yang berpotensi mengganggu upaya kita untuk ”menenggelamkan diri dalam kesunyian” itu.

”Menenggelamkan diri dalam kesunyian” tidak berarti kita berhenti berkarya dan berkontribusi untuk kemaslahatan publik, tapi tidak menjadikan manusia sebagai tujuan utama. Hal ini mengajarkan agar dalam hidup ini kita menyisakan ruang sunyi—ruang intim hubungan kita dengan Allah SWT—sehingga kita tidak terlampau sibuk dengan respons orang lain, baik respons positif maupun negatif. Dalam situasi seperti inilah manusia akan menemukan ketenangan batin. Ia terbebas dari beban-beban yang mengganggu, seperti harus mempertahankan citra dan nama baik.

Akhirnya, dalam kehidupan dunia yang semakin terbuka sekarang ini, kemampuan untuk tidak terlihat bukan saja menunjukkan kedewasaan spiritual yang harus terus diperjuangkan. Kedewasaan spiritual akan menjadikan kehidupan manusia lebih tenang, tenteram, dan damai. Memang kita bukan Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan kedewasaan spiritual mampu melewati ujian dengan ikhlas, tetapi pada saat peringatan Idul Adha seperti sekarang, penting bagi kita untuk berhenti sejenak dan mengaca diri.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran....

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...