HomeOpiniSubstansiasi Hijrah

Substansiasi Hijrah

Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute
Artikel ini berasal dari mediaindonesia.com yang terbit pada 19 Juni 2026

MUHARAM kembali hadir. Seperti biasa, media sosial pun dipenuhi narasi tentang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Komunitas-komunitas keagamaan mengajak masyarakat memperbarui komitmen spiritual mereka.

Fenomena itu tentu menggembirakan. Itu menunjukkan agama masih menjadi sumber inspirasi dan energi moral bagi kehidupan masyarakat. Namun, ironisnya, mengapa religiositas tampak meningkat, tetapi pelanggaran moral tetap terjadi? Mengapa tempat ibadah penuh, tetapi penjara juga penuh? Mengapa semakin banyak orang berbicara tentang agama, tetapi kejujuran dan amanah masih menjadi barang langka?

Barangkali persoalannya bukan terletak pada kurangnya aktivitas keagamaan, melainkan pada belum terjadinya transformasi nilai secara mendalam. Kita sering kali berhasil membangun kesalehan ritual, tetapi belum sepenuhnya membangun kesalehan sosial.

Dalam sejarah Islam, hijrah Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perpindahan geografis dari Mekah ke Madinah. Hijrah ialah titik balik peradaban. Ia melahirkan masyarakat baru yang dibangun di atas fondasi keadilan, persaudaraan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Karena itu, hijrah sejatinya bukan sekadar perubahan penampilan atau lingkungan pergaulan. Hijrah ialah perubahan orientasi hidup. Ia ialah perpindahan dari egoisme menuju kemaslahatan, dari ketidakjujuran menuju integritas, dari penyalahgunaan kekuasaan menuju amanah, dan dari kepentingan pribadi menuju kepentingan bersama.

Pemikir besar Islam, Imam Al-Ghazali (1058-1111), sepanjang karya-karyanya menekankan bahwa inti agama ialah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Menurut Al-Ghazali, ilmu dan ibadah tidak akan melahirkan kemuliaan apabila tidak menghasilkan perubahan karakter. Pesan itu terasa sangat relevan bagi kehidupan modern yang sering kali mengukur keberagamaan dari apa yang tampak, bukan dari apa yang tecermin pada perilaku.

Tantangan Bangsa

Hal yang sama diingatkan Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam Muqaddimah yang ditulis pada 1377. Ia menegaskan ketidakadilan merupakan pertanda awal kemunduran suatu peradaban. Sebuah masyarakat dapat memiliki kekayaan, kekuasaan, dan bahkan simbol-simbol keagamaan yang kuat, tetapi ketika keadilan mulai ditinggalkan, kehancuran tinggal menunggu waktu.

Peringatan Ibnu Khaldun terasa sangat aktual. Tantangan bangsa saat ini bukan hanya persoalan ekonomi atau teknologi, melainkan juga persoalan integritas. Korupsi yang terus berulang menunjukkan masalah utama kita bukan kekurangan aturan, melainkan lemahnya komitmen moral untuk menjalankan aturan tersebut.

Di sinilah letak persoalan kita. Sebagian besar masyarakat memahami bahwa korupsi itu salah. Mereka mengetahui bahwa menipu ialah dosa. Mereka mengerti bahwa mengkhianati amanah merupakan tindakan tercela. Namun, pengetahuan moral tidak selalu bertransformasi menjadi tindakan moral. Padahal, agama tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga apa yang harus dilakukan.

Kesalehan yang tidak melahirkan kejujuran ialah kesalehan yang belum selesai. Ibadah yang tidak menghasilkan kepedulian sosial ialah ibadah yang kehilangan sebagian maknanya. Hijrah yang tidak mengubah perilaku hanyalah perpindahan simbol, bukan transformasi substansi.

Pemikir muslim kontemporer asal Aljazair, Malik Bennabi (1905-1973), dalam karyanya, The Conditions of Renaissance (1948), mengingatkan bahwa kemunduran suatu bangsa sering kali berawal dari krisis moral dan krisis gagasan. Menurut Bennabi, kebangkitan peradaban tidak dapat dicapai hanya dengan pembangunan fisik, tetapi harus dimulai dari pembangunan manusia.

Pandangan itu penting untuk direnungkan. Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan infrastruktur keagamaan. Yang masih dibutuhkan ialah pembangunan karakter yang menjadikan nilai-nilai agama hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Kita membutuhkan hijrah para pejabat dari budaya kekuasaan menuju budaya pelayanan. Kita membutuhkan hijrah para pelaku usaha dari orientasi keuntungan semata menuju tanggung jawab sosial. Kita membutuhkan hijrah para pendidik dari sekadar mengajar menuju membentuk karakter. Kita membutuhkan hijrah masyarakat dari budaya menyalahkan menuju budaya memperbaiki diri.

Lebih dari itu, kita membutuhkan hijrah kolektif sebagai bangsa.

Hijrah kolektif berarti keberanian memperbaiki sistem yang memungkinkan ketidakadilan terus berlangsung. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan nasihat moral kepada individu. Sistem yang buruk akan terus menggoda manusia untuk berbuat buruk. Sebaliknya, sistem yang baik akan membantu manusia mempertahankan kebaikan.

Karena itu, substansiasi hijrah harus berjalan pada dua jalur sekaligus: transformasi individu dan transformasi sosial. Kesalehan pribadi harus melahirkan kesalehan publik. Spiritualitas harus menghasilkan kemaslahatan.

Momentum Evaluasi Bersama

Muharam seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama. Ukuran keberhasilan hijrah tidak cukup dilihat dari seberapa banyak rumah ibadah yang dibangun, tetapi juga dari seberapa berkurang ketidakjujuran di tengah masyarakat. Tidak cukup dari seberapa ramai majelis ilmu yang diselenggarakan, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya terhadap perilaku sosial.

Pada akhirnya, hijrah bukanlah perjalanan geografis. Hijrah ialah perjalanan moral. Ia bukan perpindahan tempat, melainkan perpindahan kualitas kemanusiaan.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan masyarakat yang religius dalam ritual, tetapi juga religius dalam karakter. Tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga jujur dalam bekerja. Tidak hanya fasih berbicara tentang akhlak, tetapi juga menghadirkannya dalam kehidupan nyata.

Rumah ibadah yang penuh akan menemukan maknanya ketika penjara mulai kosong. Ketika amanah menjadi budaya. Ketika kejujuran menjadi kebiasaan. Ketika keadilan menjadi kenyataan. Ketika kekuasaan digunakan untuk melayani, bukan menguasai.

Di situlah hijrah menemukan substansinya. Bukan sebagai slogan tahunan yang berulang setiap Muharam, melainkan sebagai energi moral yang mampu mengubah manusia, memperbaiki masyarakat, dan membangun peradaban yang bermartabat.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...