Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif.
Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Yogyakarta, Agustus lalu.
Baca juga: Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi
Membawakan materi bertajuk “Mencegah Konflik Sosial dengan Membangun Kohesi Sosial di Tengah Perubahan”, Imam menjelaskan bahwa kohesi sosial terjadi melalui interaksi yang mendalam. “Seringkali dalam interaksi sosial, orang tidak mempunyai ‘seni bercinta’ (dalam arti mengasihi). Hubungan yang dekat harus dimulai dari wajah yang menyenangkan dan perhatian yang lebih. Hal-hal seperti itu jauh lebih menyentuh,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kohesi sosial tidak selalu terbangun lewat kata-kata, melainkan juga melalui gestur dan interaksi yang menyenangkan. Jika tugas di lapas dijalani dengan kenyamanan dan interaksi yang hangat, maka beban kerja yang berat akan terasa lebih ringan. [LA]
