HomeOpiniPolitik Identitas Keindonesiaan

Politik Identitas Keindonesiaan

Oleh: Restu Gunawan
Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbudristek

Pada batasan, Bukit Barisan
Memandang ke pantai, teluk permai
Tampaklah air, air segala
Itulah laut, Samudera Hindia
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah ke pasir lalu berderai
Ia memekik, berandai-andai
Wahai Andalas, pulau Sumatera,
Harumkan nama, selatan utara!

Barisan kalimat di atas adalah potongan puisi Muhammad Yamin berjudul ”Tanah Air” yang terbit 1920 ketika usianya masih 17 tahun.

Puisi terdiri tiga bait itu dimuat di majalah Jong Sumatera. Sajak itu kemudian dilengkapi menjadi kumpulan puisi dalam buku kecil yang diberi judul Tanah Air, dipersembahkan untuk menyongsong peringatan lima tahun Jong Sumatranen Bond.

Baca juga Geng Siswa dan Kekerasan di Sekolah

Puisi dibuat dalam upaya mencintai tanah kelahirannya, yaitu Sumatera, ketika Yamin harus menunaikan tugasnya sebagai anak rantau yang harus meninggalkan kampung halamannya untuk menimba ilmu di tanah Jawa. ”Tanah air” sebagai frasa yang diperkenalkan oleh Muh Yamin hanyalah sekadar puisi yang indah. Sebuah genre baru dalam penulisan puisi pada masa itu.

Sementara itu, di negeri seberang, RM Noto Soeroto dan kawan-kawan mendirikan organisasi Indische Vereeniging (1908). Atas upaya beberapa tokoh, antara lain Iwa Koesoemasoemantri, Moh Hatta, dan Nazir Pamoentjak, kemudian berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (1925).

Untuk menyampaikan pesan kemerdekaan, mereka menerbitkan majalah Indonesia Merdeka, (1924) dengan slogan yang cukup berani dan radikal ”Indonesia Merdeka Sekarang”. Sejak saat itu, ’Indonesia’ yang pada awalnya adalah nama kawasan dan kumpulan etnis telah berubah menjadi cita-cita politik dan kebudayaan yang harus diperjuangkan.

Baca juga Meneladani Kenegarawanan Nabi

Dalam suasana itu pula, di dalam negeri, kaum muda terus bergeliat dalam upaya menyatukan energi yang terserak di berbagai organisasi kepemudaan yang mengusung tema-tema ideologi, agama, dan suku tertentu. Hasrat itu terus menyatu dan puncaknya adalah ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Sumpah Pemuda yang dihadiri golongan pemuda dari berbagai suku, daerah, dan organisasi keagamaan adalah satu model inklusivitas yang menyatukan golongan beragama dan nasionalis. Mereka datang dengan hasrat satu, menyatukan ide dan gagasan untuk: bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu Indonesia. Jadi, tanah air Indonesia telah menjelma menjadi kekuatan politik yang harus diperjuangkan dan diraih.

Periode 1920-1930 merupakan perdebatan ideologis akademis tentang sebuah bangsa. Para pemikir menuangkan gagasannya dalam perdebatan yang cukup dinamis. Misalnya, Soekarno melalui koran Pemandangan, Moh Hatta lewat koran Daulat Ra’jat, Abdul Rivai lewat Bintang Hindia, Marco Kartodikromo dan kawan-kawan lewat Medan Prijaji dan sebagainya. Mereka memperdebatkan apakah nasionalis kultural, kedaerahan, atau agama yang diperjuangkan. Atau, apakah bersedia bekerja sama atau nonkooperasi dengan Belanda.

Baca juga Efek Sorotan

Semua cerdik pandai yang jumlahnya tentu masih sedikit terus bergumul dengan pemikiran dan gagasannya untuk merancang Indonesia ke depan. Ternyata para pemuda sadar bahwa antara nasionalis kultural dan nasionalis agama harus bersatu dalam meraih kemerdekaan. Corak inklusivitas yang melintasi batas-batas agama, budaya, dan daerah telah menjadi kesadaran penting. Inklusivitas dalam pemikiran dan tindakan telah menjadi modal sosial dalam menyatukan berbagai kekuatan yang ada di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

Cita-cita bersama untuk tanah air Indonesia telah pula dapat menerabas batas konektivitas antargolongan dan daerah. Jaringan konektivitas yang sangat terbatas, baik jaringan darat, laut, maupun komunikasi, ternyata mampu disatukan dalam derap langkah perjuangan. Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam upaya menyatukan berbagai gagasan dan ide-ide baru dalam perjuangan melalui intelektualitas dan pemikiran kritis pada masa itu.

Baca juga Akhlak Mulia

Dalam suasana penuh harapan itulah WR Supratman menutup sidang dengan melantunkan sebuah lagu yang digubahnya dengan judul ”Indonesia”. Dengan format keroncong dan iringan biola buatan Nicolo Amati, lagu dilantunkan tanpa teks. Ikrar Sumpah Pemuda dan lagu ”Indonesia” (baca: Indonesia Raya) telah menjadi mantra baru dalam menyatukan seluruh elemen bangsa untuk melawan penjajahan secara lebih terstruktur dan terencana, tidak lagi bersifat kedaerahan yang ternyata mengalami kegagalan terus-menerus.

Indonesia sebagai komitmen kebudayaan

Proses bertanah air dan berbangsa satu Indonesia terus bergulir dan puncaknya adalah kemerdekaan Indonesia.

Ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan Indonesia, maka Indonesia sebagai komitmen politik sudah selesai. Terbukti, dengan berbagai rongrongan, baik dari dalam maupun luar negeri, Indonesia masih mampu berdiri kokoh hingga kini. Namun, hari ini tantangannya justru jauh lebih kompleks.

Baca juga Ki Hadjar dan Engku Syafei, Inspirator Kemerdekaan dari Ruang Kelas

Sudah menjadi takdir, karena letaknya yang menjadi lintasan berbagai budaya, agama, dan perdagangan, Indonesia memiliki ratusan pulau, bahasa, dan budaya. Itu adalah tantangan dan peluang. Maka, Indonesia, selain sebagai komitmen politik, juga mengandung makna sebuah komitmen kebudayaan. Masih sering kita dengar adanya pembatasan ekspresi dari kelompok yang berbeda, dengan mengatasnamakan perbedaan agama, kepercayaan, suku, ataupun kebudayaan. Upaya membangun Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan perlu terus dibicarakan dan diwacanakan.

Arnold Toynbee dalam bukunya A Study of History (1947) menyatakan, ada empat lapisan dalam membangun peradaban. Yang paling luar adalah pilar sains teknologi, pilar estetika, pilar moral etik, dan pilar spiritualitas. Dalam analisisnya, Toynbee mengatakan bahwa tiga pilar terluar, sekuat apa pun, tanpa dilandasi spiritualitas yang bagus, bangsa itu akan ambruk. Dalam perkembangan zaman sekarang ini, keempat pilar itu harus berjalan bersama dan tidak saling meninggalkan.

Baca juga ”Overthinking”

Sebagai bangsa yang besar dengan kebudayaan yang cukup tinggi, agar mampu memengaruhi peradaban global, Indonesia harus mengembangkan teknologi, sains dan estetika; tetapi itu harus berlandaskan pada nilai-nilai agama yang kuat dan etika yang moral tinggi.

Pembangunan yang hanya mengejar capaian tinggi di bidang sains dan teknologi, tetapi tidak memperhitungkan ekosistem alam, kebudayaan, dan infrastruktur pendukung lainnya, hanya akan menghasilkan konflik dan kemiskinan pada masa mendatang. Untuk itulah, pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan dengan memperhitungkan kebudayaan masyarakatnya akan lebih menjamin masa depan lebih baik.

Politik identitas dan kesadaran berbangsa

Pesta demokrasi tahun 2024 sebentar lagi akan kita rayakan. Berbagai persiapan untuk merayakan telah pula disiapkan. Dalam kontestasi, tidak jarang, untuk memobilisasi perolehan suara, politik identitas digunakan.

Isu perbedaan ras, etnis, agama dan kepercayaan lazim diangkat serta digunakan untuk menggalang kekuatan. Sebagian elite politik memakai politik identitas untuk menjatuhkan lawan politik. Praktik penggunaan politik identitas sudah lama dilakukan dalam setiap perhelatan pemilihan umum.

Baca juga Islam Indonesia Berkelanjutan

Pada Pemilu 1955, politik identitas juga digunakan untuk melakukan mobilisasi massa. Politik identitas digunakan dalam komunikasi politik elite hingga mencapai alam bawah sadar para pendukungnya. Propaganda dalam komunikasi politik sering kali menimbulkan segregasi yang semakin tajam di dalam kehidupan masyarakat, bahkan dapat menjurus kepada konflik sosial. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memecah kesatuan dan persatuan bangsa.

Dalam perkembangan politik saat ini, sering kali masyarakat lupa bahwa tanah air Indonesia lahir atas kontrak politik untuk menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada ke dalam kerangka Tanah Air yang satu, yaitu Indonesia.

Baca juga Merawat Kebangsaan

Seperti yang disampaikan Buya Syafii Maarif, politik identitas tidak akan membahayakan keutuhan bangsa dan negara apabila kita kembali ingat kepada tujuan masa depan kita, yakni menjadi cita-cita para pendiri bangsa untuk menyatukan Tanah Air dan bangsa dalam integrasi nasional.

Cita-cita yang didasarkan pada semangat Sumpah Pemuda yang telah melebur rasa sentimen kesukuan, agama, ras, dan menjadi Pancasila sebagai dasar dari setiap langkah dalam berperilaku dan bersikap dalam kehidupan sehari-hari, dengan rasa penuh tanggung jawab.

Baca juga Otonomi bagi Anak

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...